
Sheilla menyusuri koridor. Setelah bicara dengan Kennedy, ia merasa lebih baik.
Saat tengah berjalan, ia secara tidak sengaja melihat Daniel dan Jean yang sedang berdebat memperebutkan Lucy seperti sebuah trofi piala yang ingin mereka miliki.
Apa yang mereka lakukan?
Sheilla memperhatikan keduanya. Begitu melihat Lucy dalam keadaan tidak nyaman, ia segera menghampiri mereka guna membantunya.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian berdebat seperti itu?" Sheilla datang dan segera berdiri di tengah-tengah.
Jean, Daniel dan Lucy langsung menoleh ke arah datangnya suara.
"Sheilla… tolong aku," lirih Lucy dengan wajah putus asa.
"Ada apa ini? Apa yang kalian perdebatkan?" Sheilla menatap Jean dan Daniel bergantian.
"Aku sedang bicara dengan Lucy dan belum selesai, tapi Daniel tiba-tiba datang dan menyerobot ingin bicara dengan Lucy," terang Jean.
"Kau sudah bicara dengan Lucy sejak tadi. Sekarang giliranku!" Daniel menatapnya sengit.
"Berhenti berdebat! Sejak awal, Lucy datang bersamaku. Jadi kalian tidak berhak untuk memperebutkannya!" kata Sheilla yang langsung menarik Lucy dari Daniel, lalu melindunginya.
Alih-alih membuat keadaan tenang, Sheilla justru malah memperkeruh situasi.
"Apa kau bilang?" Jean dan Daniel menatap ke arahnya tajam.
"Kau pikir Lucy hanya ingin berteman denganmu saja?!" ucap Daniel penuh kesal.
"Kau pikir Lucy hanya ingin bersama denganmu saja? Enak saja kau berkata kita tidak memiliki hak untuk bersama dengannya." Jean menimpali.
Sheilla mulai was-was, mereka menganggap serius ucapannya dan kini Sheilla dalam masalah.
Jean dan Daniel memojokkan keduanya. Sheilla dan Lucy melangkah secara perlahan-lahan.
"Lari!" Sheilla menarik tangan Lucy membuat gadis itu terseret di belakangnya.
"Berhenti kau. Jangan berlari!" Jean dan Daniel berteriak di belakang sana.
Sheilla membawa Lucy jauh dari mereka. Membawanya berlari mengelilingi seisi gedung latihan.
Sesekali mereka bertabrakan dengan anak-anak lain yang tengah berlalu-lalang.
Tidak jarang juga, mereka di marahi oleh para staf yang sedang bertugas.
Sheilla bahkan sempat menabrak salah satu staf yang tengah berjalan dengan kopi di tangannya.
Kopi itu sampai tumpah mengenai jas dan kemeja putih yang dia kenakan. Staf itu marah besar, sementara Sheilla malah terus berlari dengan menyeret Lucy, menghiraukan teriak penuh emosi dari staf tadi.
Jean dan Daniel masih terus mengejar mereka. Keduanya tidak akan berhenti sebelum berhasil memberikan pelajaran untuk Sheilla yang sudah seenaknya.
"Awas! Permisi!" Sheilla menerobos orang-orang dihadapannya sambil terus berlari.
"Berhenti kau!" Jean berteriak pada Sheilla. Tapi gadis itu menghiraukan teriakannya.
"Awas!" Sheilla kembali berteriak memperingati orang-orang yang menghalangi jalannya.
Di sana, Nico tengah berdiri dengan seseorang. Di tangannya, ia membaca dokumen yang diberikan salah satu stafnya.
Brukk!
Sheilla menabrak Nico sampai ia terjatuh dan berkas-berkas di tangannya berhamburan ke lantai.
"Sorry, sir!" pekik Sheilla yang berlari tanpa membantunya.
"Sheilla!" Nico berteriak memanggil namanya.
Baru saja ia bangun hendak mengejar Sheilla yang sudah menabraknya, tiba-tiba di belakang, Nico di kejutkan dengan Jean dan Daniel yang kembali menabraknya hingga jatuh untuk kedua kalinya.
Brukk!
Tubuh lelaki itu tersungkur di lantai. Daniel berlari tanpa berdosa, sementara Jean melompat seolah-olah tubuh lelaki itu adalah sebuah lubang di jalan yang perlu dihindarinya.
...***...