
Lucy melangkah menuju ranjangnya dan duduk di tepi. Ia merebahkan tubuhnya sebentar di atas sana dengan kedua manik matanya memandang ke arah langit-langit kamar.
"Akhir-akhir ini, Jean dan Daniel sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Aku jadi rindu kebersamaan dengan mereka…" Lucy bergumam.
Entah kenapa ia merasa kalau dia, lebih merasa nyaman bermain dan mengobrol dengan Jean dan Daniel.
Beda halnya jika ia bermain dengan Sheilla atau Adeline.
Kalau dengan Sheilla, ia tidak akan memiliki banyak waktu untuk bersamanya. Sebagian besar waktu gadis itu lebih banyak dihabiskan dengan Grayson.
Sementara Adeline, gadis itu juga terlalu sibuk dengan urusannya. Sebagian besar waktu Adeline habiskan untuk bekerja membantu perusahaan ayahnya.
Walaupun usianya masih sangat muda, tapi gadis itu memiliki otak yang cukup cerdas sampai-sampai ayahnya mempercayainya untuk membantu mengurus perusahaan.
"Aku rindu mereka…" Lucy menolong.
Detik berikutnya, ia bangun dan kembali duduk seperti posisi sebelumnya.
"Ah sudahlah, sekarang aku lebih baik bersiap untuk pulang. Karena latihannya sudah selesai, sekarang aku harus mandi lalu pulang. Aku sudah tidak sabar untuk makan malam."
Ia melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap pulang. Karena latihan dan kelas lainnya untuk hari ini sudah selesai.
"Kira-kira hari ini mama masak apa, ya?"
...*...
Lucy kini duduk di tepi ranjangnya, masih di kamar di dorm. Ia tengah mengeringkan rambutnya yang basah dengan menggunakan hair dryer yang dia bawa dari rumah. Kebetulan ia memiliki dua hair dryer miliknya sendiri.
Ketika ia hendak mencabut kabel yang terhubung dengan hair dryer-nya, perhatian Lucy teralih saat kedua manik matanya menangkap secarik kertas berwarna merah yang tergeletak tepat di atas laci kecil dekat tempat tidurnya.
Lucy meraih kertas itu setelah ia mencabut kabel yang terhubung dengan hair dryer-nya.
"Ini… surat dari siapa, ya?" Lucy baru menyadari kehadiran kertas itu.
Dari tulisannya, Lucy dapat mengetahui surat itu di tulis oleh Daniel.
❛Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, bisakah kau datang dan temui aku di tempat biasa jam tiga sore, besok?
-Daniel.❜
Singkat, padat, jelas. Itu yang dapat digambarkan dari isi surat yang dia dapatkan dari Daniel. Sangat mudah untuk dimengerti Lucy.
"Kira-kira, apa ya yang ingin dia bicarakan?" Lucy menatap secarik kertas yang dipegangnya dengan raut wajah penasaran.
Dalam benaknya, ia bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan oleh Daniel.
Sampai-sampai ia harus memberikan kertas padanya secara diam-diam dan tidak menemuinya secara langsung.
...*...
Keesokan harinya, seperti apa yang diminta Daniel dalam surat yang ditulisnya, Lucy menunggu Daniel di tempat biasa mereka berkumpul bersama.
Namun sudah hampir setengah jam dia menunggu, Daniel tak kunjung tiba juga.
Lucy bahkan sudah hampir merasa bosan menunggunya seorang diri di sana.
"Daniel kemana, ya? Kenapa dia belum juga datang?" Lucy melirik jam yang melingkar di tangannya.
Ia celingukan mencari keberadaan Daniel. Tapi pria itu tak kunjung ditemukannya.
Hari sudah hampir senja dan Daniel belum juga tiba.
"Aku akan tunggu dia beberapa menit lagi. Kalau dia tidak datang, aku akan pergi saja." Ia memonolog.
Lucy terus menunggu. Sampai kemudian Daniel akhirnya datang.
...***...