
"Aku kira anak yang terlanjur kaya sepertimu tidak akan tertarik dengan gratisan. Ternyata aku salah, kau sama saja seperti orang biasa pada umumnya!"
"Tentu saja. Memangnya orang bodoh mana yang akan menolak sesuatu yang gratis? Huh? Coba kutanya, orang bodoh mana?"
"Sudahlah, ayo pergi!" Daniel beranjak bangun lalu melangkah pergi dari sana diikuti Jean dibelakangnya.
...*...
"Kau ingin beli apa?" tanya Daniel pada Jean yang kini berjalan disebelahnya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di taman bermain. Mereka sudah mencoba beberapa wahana permainan yang ada.
Jean sempat cemberut, karena terus di ajak untuk menaiki sesuatu yang membuat jantungnya berdebar hebat sampai merasa jantungnya hampir copot.
Tapi sekarang, dia sudah kembali tersenyum karena Daniel sudah mau mengikuti permainan yang dipilihnya.
Sekarang, Jean dan Daniel duduk bersama di salah satu bangku taman berbahan besi, bercat putih.
Keduanya menimbang-nimbang untuk membeli sesuatu guna mereka makan, karena mereka mulai lapar setelah mencoba berbagai permainan.
"Belikan aku itu!" Jean menunjuk ke arah penjual permen kapas.
Daniel menatap ke arah yang ditunjuknya.
"Kau ingin itu?" tanyanya. Jean menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Dasar anak kecil!" ledeknya pada Jean.
"Enak saja kau meledekku sebagai anak kecil. Aku sudah remaja! Usiaku sudah enam belas tahun!" Jean tidak terima.
"Tapi kau bersikap layaknya anak kecil. Tadi saja kau merengek ingin naik kincir ria, padahal kau sendiri takut untuk naik itu. Tapi kau bersikeras untuk naik. Kau bahkan sampai menarik-narik tanganku."
Wajah Jean berubah merah, emosinya bercampur antara marah dan malu menjadi satu.
"K… kata siapa aku takut. Kau ini mengada-ada saja. Lagipula seingatku, aku tidak menarik-narik tanganmu dan aku tidak merengek sama sekali," elaknya. Ia memalingkan wajah.
Daniel mendekatkan wajahnya ke arah Jean sambil menatapnya intens.
"Arghh. Sudahlah cepat belikan aku itu!" Jean memukul Daniel dengan boneka yang di dapatnya sebagai hadiah permainan tembak jitu.
"Baiklah-baiklah!" Daniel beranjak bangun lalu pergi untuk membeli apa yang dia minta.
Tak lama, setelah membeli apa yang di minta Jean, Daniel lalu mengajaknya untuk pulang karena hari sudah mulai sore.
"Sudah sore. Ayo kita pulang." Daniel melirik jam di tangannya.
"Ayo." Jean beranjak. Berjalan sambil terus sibuk memakan permen kapas yang dibelikan Daniel.
Saat di perjalanan keluar dari dalam taman bermain, Daniel kemudian memikirkan sesuatu.
Ia ingin membelikan sesuatu untuk Lucy yang tak ikut dengan mereka.
Daniel menghentikan langkahnya, membuat Jean menoleh ke arahnya.
"Kau kenapa? Apakah ada yang kau lupakan?"
"Tunggu di sini. Aku ingin membeli sesuatu dulu," tuturnya.
Jean berdiri dengan raut wajah bingung di sana.
Belum sempat ia bertanya, lelaki itu sudah meninggalkannya seorang diri.
...*...
Lucy melangkah perlahan menuju arah dorm nya, dengan ditemani Sheilla dan Adeline yang juga ingin pergi ke dorm nya.
Kebetulan dorm ketiganya hanya terpisah beberapa kamar saja.
"Aku benar-benar sebal. Dia selalu saja membuat emosiku naik! Aku heran, mengapa dia selalu saja ada dimana-mana dan membuatku kesal. Aku benar-benar benci dia!" Sheilla menggerutu.
Sepanjang jalan tadi, gadis itu terus menceritakan tentang tingkah Grayson yang menyebalkan terhadapnya.
Setiap hari, mereka bertengkar bak sepasang kekasih yang tidak pernah akur.
...***...