A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 33 - Aww…



Ancel menaruh telunjuknya di depan bibir. Mengisyaratkan agar Aami diam.


Aami terdiam. Masih mencoba mencari suara yang baru di dengar Ancel.


"Ahh~ Theo!" Suara itu kembali terdengar.


Aami melotot ketika ia mendengar suara yang baru saja di tangkap telinganya.


"Suara apa itu?" Aami menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangan. Ia bergegas turun dari kursi tinggi yang tengah ia duduki.


"Ayo kita cek," kata Aami. Ia beranjak dari ruang dapur guna mengecek suara aneh yang mereka dengar. Ancel mengikutinya dari arah belakang.


Keduanya penasaran dengan suara ambigu yang memecah keheningan malam itu.



Tiba di ruang tengah, suara itu bukan berasal dari sana. Mereka melanjutkan langkah, menyusuri ruangan lain.


"Jam berapa sekarang?" tanya Aami seraya melirik pada Ancel. Pria itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang berbalutkan sarung tangan putih.


"Neuf nuits," katanya pelan. Mereka berjalan mengendap-endap, walau mereka tahu kemungkinan besar itu bukanlah suara pencuri, tapi mereka tak ingin membuat seisi rumah bangun dengan berjalan seperti biasa.


(Sembilan malam)


Suara yang mereka dengar semakin jelas begitu mereka tiba di depan kamar Theodore di lantai pertama. Kamar itu berada cukup dekat dengan ruang tengah. Hanya terhalang satu lorong.


"Suaranya berasal dari sini." Aami berbisik. Ancel seketika sadar dan mengerti dengan suara yang di dengarnya. Ia diam mematung di tempatnya.


Wajah Ancel merah merona. Aami tak menyadarinya. Dengan polosnya, wanita itu berjalan menghampiri pintu kamar tersebut kemudian mengetuknya perlahan, sebelum sempat Ancel menahannya.


"Nyonya, apakah anda baik-baik saja?" panggilnya sambil menempelkan telinga di depan pintu. Entah mengapa rasa khawatir mulai menghampiri wanita itu.


Di sisi lain, Theodore dan Caroline di dalam sana seketika terdiam begitu mendengar suara Aami yang mengetuk pintu kamar mereka. Keduanya saling pandang, dan spontan menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka hingga sebatas dada.


"Nyonya, apa anda baik-baik saja? Saya mendengar suara aneh dari kamar nyonya." Aami membebaskan suaranya.


Ia masih terus mengetuk pintu kamar mereka secara perlahan. Ancel, dibelakangnya merasa malu dengan ucapan teman kerjanya itu.


Raut wajahnya makin memerah. Kalau bisa, ia ingin mengubur dirinya sendiri hidup-hidup karena tak tahan menahan malu akibat Aami yang terlalu polos. Bahkan ia tidak mengerti dengan apa yang baru mereka dengar.


"Aami!" gumam Caroline dengan mulut menganga.


"Kau tidak lupa mengunci pintunya 'kan?" Theodore panik.


"Nyonya, bolehkah saya masuk? Saya hanya ingin memastikan nyonya baik-baik saja." Aami meraih kenop pintu itu hendak mendorongnya.


Theodore dan Caroline panik, keduanya sudah dalam keadaan setengah telanjang.


Theodore beranjak bangun, ia hendak bergegas mengunci pintu agar Aami tak masuk ke dalam kamarnya.


Namun, gara-gara selimut tebal yang menutupi tubuhnya membuat Theodore tersandung hingga akhirnya terhuyung jatuh ke lantai dengan suara yang sangat keras.


Brukk!


Theodore terjatuh di lantai dengan keadaan bertelanjang dada.


"Aww," ringisnya, kesakitan.


Caroline baru akan bangkit untuk membantunya. Tapi, Aami lebih dulu membuka pintu kamarnya. Caroline spontan mengurungkan niatnya.


"Nyonya apakah anda baik-baik sa—heh?" Aami terkejut bukan main saat melihat apa yang ada dihadapannya.


Caroline segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


...***...