A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 74 - Wajah masam



"Sudah berbuat salah, kau pergi begitu saja seakan kau tidak melakukan apa-apa. Dasar menyebalkan!" teriak Jean yang lagi-lagi dihiraukannya.


Jean mendengus kesal.


Hari ini ia benar-benar sedang dalam keadaan kurang beruntung.


Tadi di hukum oleh Bean untuk membersihkan ruang latihan padahal bukan dirinya yang berbuat kekacauan. Lalu tiba di kantin, dirinya ditinggalkan oleh Daniel dan Lucy seorang diri.


Selanjutnya, ia di tabrak oleh gadis asing yang menyebalkan hingga pantatnya memar.


"Sakitnya tidak seberapa. Tapi malunya itu…" Jean bergumam.


Ia merutuki kesialannya hari ini.


Jean melangkah siap beranjak dari sana. Tapi langkahnya terhenti ketika dihadapannya, ia dikejutkan oleh Bean dan Nico.


"Jean." Bean menatap Jean di sana.


"Coach? Sir?" Jean menatap mereka berdua bergantian.


"Kebetulan kami bertemu denganmu di sini. Bisakah kau membantu kami?"


"Apa yang bisa aku bantu, coach?"


Bean mengulurkan tangannya. Memberikan kunci yang digenggamnya.


"Tolong kau antar Beatrix ke kamarnya."


"Beatrix?"


"Gadis itu!" Bean menunjuk ke arah gadis di belakang Jean.


Begitu menoleh, ia dibuat terkejut. Gadis yang di maksud Bean adalah gadis yang baru saja menabraknya hingga jatuh dan pergi begitu saja tanpa meminta maaf, bahkan gadis itu malah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Dia?" Jean melongo menatap Bean.


"Iya. Tolong ya."


"Tapi coach, sir… Arghh!" Jean mengacak-acak rambutnya frustasi.


Nico dan Bean bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk protes, dan pergi begitu saja.


Jean menghela napas. Mencoba mengatur amarahnya yang memuncak.


Sebisa mungkin, ia berusaha untuk tenang dan menjalankan perintah Bean dan Nico ini dengan hati ringan.


"Ahh, sudahlah lagipula aku pasti bisa. Tugasnya juga hanya mengantarkannya 'kan?" Jean bergumam.


"Ikuti aku!" tukas Jean dengan nada ketus.


Ia melewati gadis itu dan berjalan memimpin di depan.


Tanpa banyak bicara, gadis bermata rubby itu, berjalan mengikutinya dari belakang.



...*...


"Ini kamarmu!" ucap Jean mencoba ramah.


Ia membuka pintu dorm milik Beatrix dengan kunci yang diberikan Bean.


Begitu pintu terbuka, gadis itu masuk lalu membanting pintu keras.


Tepat di hadapan Jean, sampai membuat gadis itu kembali emosi dibuatnya.


"Dasar tidak tahu diri. Sudah baik aku mau mengantarkanmu kemari! Bukannya berterima kasih, kau malah pergi begitu saja dan membanting pintu tepat di wajahku. Dasar menyebalkan!" Jean berteriak.


Beatrix lagi-lagi menghiraukannya. Membuat Jean terlihat seakan-akan dia adalah orang gila yang berteriak di depan pintu dorm orang lain.


Jean menghela napas, untuk kesekian kalinya, ia mencoba menahan diri dan meredam amarahnya.


Ia harus bersabar. Jika tidak, ia akan mendapat hukuman dari Bean atau Nico.


"Sudahlah lebih baik sekarang aku pergi menemui Lucy dan Daniel." Jean beranjak dari sana.


Ia hendak bertemu dengan Lucy dan Daniel di tempat biasa mereka berkumpul.


...*...


"Dimana dia? Mengapa belum sampai juga?" Daniel bergumam, ia melirik jam di tangannya.


"Iya. Kenapa Jean belum datang juga ya? Aneh sekali." Liana menimpali.


Ia menoleh ke arah pintu masuk. Tetapi di sana tidak terlihat tanda-tanda gadis yang mereka cari akan datang menghampirinya.


Tidak lama kemudian, Jean yang mereka cari itu tiba dengan wajah masam.


Jean duduk di kursi kosong yang ada dengan posisi tangan terlipat di depan dada.


...***...