A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 53 - Sheilla



Wanita itu mengantarkan Lucy hingga akhirnya tiba di salah satu bagian gedung yang dihiasi oleh banyak anak-anak dari yang usianya lebih muda darinya hingga yang lebih tua.


Pantas saja dia tidak memarahiku, ternyata banyak anak-anak seusiaku di sini juga, pikir Lucy sambil menatap satu persatu anak yang berdiri bersama orang tuanya. Mereka mengenakan pakaian yang sama dengan Lucy, kaos putih dengan celana pendek.


"Jane!"


"Panggil aku Jean, ma! Aku lebih duka Jean."


Perhatian Lucy beralih pada suara anak perempuan seusianya yang berdebat dengan ibunya.


Gadis itu cantik, dengan rambut bergelombang dan mata seperti safir yang indah.


"Jean itu nama laki-laki. Berhenti mendengarkan ucapan pamanmu!" Ibunya geram.


"Aku tidak peduli. Nama Jean lebih keren daripada Jane!" pekiknya lagi. Keras kepala. Memang seperti itulah Jean.


"Huft~" Wanita yang menjadi ibunya itu, menghela napas sambil menggelengkan kepala.


Perhatian Lucy kembali beralih saat ia melihat sekumpulan anak yang mengerubungi seorang laki-laki.


Lucy memperhatikan lelaki itu. Dia adalah Daniel muda.


"Dia tampan," bisik Lucy sambil memperhatikan anak laki-laki yang sudah banyak menyita perhatian di hari pertamanya.


Daniel berbeda dari anak-anak lainnya yang datang bersama orang tua mereka. Daniel justru datang bersama kakek dan neneknya.


Lucy terus melangkah hingga akhirnya tiba di koridor yang terdapat sebuah bangku untuk duduk di sana.



"Tunggulah di sini sebelum kelas di mulai. Aku akan mencoba memberitahu sir. Nic atau Bean kalau kau datang sendiri." Wanita itu berlalu meninggalkan Lucy seorang diri. Dengan bodohnya, Lucy malah mengikuti perintahnya untuk duduk.


Karena terlalu lelah, Lucy sampai tidak sadar sudah mendaratkan bokongnya di atas bangku yang ada.


Lucy duduk untuk sesaat, melepas penatnya akibat berlari. Sambil duduk, ia menonton anak-anak yang tengah berlatih di sana.


Rasa penasarannya perlahan mulai terlupakan. Ia sekarang sudah mulai merasa nyaman berada di sini.


Entah mengapa berada di sini dan menonton anak-anak dihadapannya yang sedang berlatih, membuat Lucy teringat akan film kartun Totally Spies yang menceritakan tentang kisah mata-mata.


"Ah, melelahkan sekali…" Seorang gadis tiba-tiba saja datang lalu duduk disampingnya.


Gadis itu memakai pakaian yang sama yang dikenakan anak-anak yang dilihatnya di depan sana.


Gadis itu Sheilla. Ia duduk dengan tangannya menggenggam dua cup berisi minuman dingin lengkap dengan sedotan.


Lucy melirik ke arahnya sekilas. Gadis yang sejak tadi diperhatikannya itu lalu melirik ke arahnya, dan saling beradu kontak mata.


"Tampaknya kau lelah, apa kau mau minum?" tanya Sheilla ramah seraya menyodorkan satu cup ditangannya pada Lucy.


Lucy terdiam untuk sesaat, ia tampak ragu untuk mengambilnya tetapi rasa haus dan air minum adalah yang ia butuhkan saat ini.


"Ambil saja," tuturnya lagi. Setelah terdiam sesaat, Lucy akhirnya meraih minuman itu.


"Terima kasih."


"Bukan masalah."


"Hari ini latihannya cukup berat, dibanding kemarin. Lihat, aku saja bahkan sampai berkeringat banyak seperti ini." Sheilla mengelap peluh dikeningnya dengan tangan.


Lucy yang melihat itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


"Gunakan ini untuk mengelap keringatmu," katanya seraya tisu ke arah Sheilla.


Sheilla mengambil tisu yang disodorkan ke arahnya.


"Terima kasih, aku sangat membutuhkannya."


...***...