
"Maaf," lirih Leon yang dalam sekejap membuat Liana mengubah air wajahnya bingung.
"Kenapa kau meminta maaf?"
"Karena gara-gara aku, kau jadi terluka," tuturnya. Liana menunduk menatap ke arah lututnya yang berbalutkan celana panjang dengan darah mengalir menembus celananya yang di tatap Leon.
Lututnya terluka hingga membuat kulitnya tergores dan darah mengalir dari sana. Walaupun berbalut celana panjang, tapi hal itu tak membuat darahnya hilang.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Kau tidak perlu merasa bersalah hanya karena luka kecil."
"Apakah itu sakit?" tanya Leon menghiraukan ucapannya.
"Huh?"
"Aku tanya, apakah itu sakit?"
"Sakit? Ti… tidak, ini tidak terasa sakit sama sekali," balasnya, bohong.
Padahal saat ini, rasa perih mulai menjalar secara perlahan di bagian lukanya. Namun, sebisa mungkin Liana menahan sakitnya agar Leon tidak cemas, dan semakin merasa bersalah.
Leon tanpa aba-aba menepuk lukanya cukup keras sampai membuat Liana meringis kesakitan.
"Sshh…" ringisnya menahan perih.
"Tuh 'kan, kau berbohong. Kalau sakit, bilang sakit. Jangan menahannya." Leon menunduk dengan wajah murung, ia sedikit kecewa karena Liana berbohong padanya.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu merasa bersalah," lirihnya.
"Lebih baik kita pulang sekarang biar Aami mengobati lukamu. Ayo!" Leon beranjak bangun sembari menarik tangan Liana.
Baru saja mereka hendak melangkah pergi seketika hujan salju turun dengan cukup lebat.
"Salju?" Liana terdiam.
"Kalau kita hujan-hujanan, mama pasti akan marah," katanya sambil menahan Leon.
"Tidak apa-apa, biar aku yang tanggung jawab. Anggap saja sebagai balasan karena kau sudah menolongku dari anak-anak tadi."
"Tapi…"
"Ayo!" Leon menarik Liana, menerobos derasnya hujan salju yang turun jatuh ke bumi di bagian subtropis.
Di antara rintikan salju itu mereka berlari.
Baju keduanya sampai basah karena memaksakan diri untuk menerobos salju. Sementara itu, buku yang di bawa Leon, dipeluknya erat dalam dekapan.
Leon Delacroix La Vergne, merupakan cucu kedua dari keluarga La Vergne. Memiliki darah campuran Indonesia-Prancis di tubuhnya.
Ibunya berasal dari Indonesia, sementara ayahnya asli berasal dari Prancis. Ia merupakan anak tunggal yang hanya memiliki satu kakak sepupu perempuan yang amat baik padanya.
Leon memiliki wajah tampan, kulit putih mulus yang bersih, mata coklat indah yang mirip dengan mamanya, dan rambut lembut agak ke cokelatan yang mirip seperti papanya.
Tubuhnya lebih tinggi daripada Liana walaupun umur Liana lebih tua beberapa bulan darinya.
Bagi Liana, Leon adalah anak laki-laki paling cengeng yang pernah dikenalnya. Tapi, biarpun adik sepupunya itu cengeng, ia tetap menyayanginya.
Leon merupakan anak yang tidak terlalu pintar bermain di luar ruangan. Ia terkadang lebih nyaman untuk bermain di dalam ruangan.
Namun, karena tidak memiliki saudara lain untuk diajaknya bermain, maka terpaksa ia selalu ikut bermain dengan Liana yang lebih aktif bermain di luar ruangan.
Leon menarik tangan Liana hingga membuat kakak sepupunya itu terseret di belakang.
Liana berusaha mengatur langkahnya agar selaras dengan Leon yang terus berlari di depannya seraya menarik tangannya menjauh dari taman.
Mereka terus berlari dengan langkah kaki kecil mereka, meninggalkan taman dan kembali ke rumah kakek dan nenek mereka di sana.
...***...