A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 117 - Kagum



Ketiganya berjalan menuju arah ruang ganti. Sementara itu, Maria duduk manis di sofa. Menunggu mereka mencoba kostum yang telah dibuatnya sedemikian rupa.


"Bagaimana? Apakah cukup?" tanya Maria memastikan.


"Ya, ini…" Lucy menggantungkan ucapannya, di dalam sana ia memandang dirinya sendiri lewat pantulan cermin lebar dihadapannya. Cermin itu menampilkan secara utuh keseluruhan tubuhnya.


"Kyaa!" Jean memekik membuat Maria, Lucy, dan Daniel terkejut.



Mereka spontan menghampiri bilik ganti yang di pakai oleh Jean dengan raut wajah cemas.


Tok, tok, tok!


Lucy mengetuk pintunya perlahan. Dia ingin memastikan apa yang terjadi dengan Jean dan apa penyebab gadis itu berteriak kencang sampai membuat mereka bertiga terkejut bercampur khawatir akan keadaannya.


"Jean, apakah kau baik-baik saja?" tanya Lucy di depan pintu.


"Jean, kau kenapa?" tanya Maria. Untuk sesaat tidak ada jawaban sama sekali dari balik pintu sampai kemudian Jean membuka pintu ruang ganti secara perlahan. Ia lantas melangkah keluar. Menampakkan dirinya di depan semua orang yang cemas akan keadaannya.


"Kau baik-baik saja?" Lucy cemas.


"Apa yang membuatmu berteriak begitu kencang?" Kini giliran Daniel yang bertanya.


"Tidak ada apa-apa…" lirih Jean pelan, membuat semua orang spontan mengerutkan kening.


"Lalu, kenapa kau berteriak?" Maria menatapnya bingung.


"Aku hanya kagum karena desain kostum yang kau buat sangat nyaman saat aku pakai. Apalagi bahannya sangat sejuk dan ringan, aku merasa seperti memakai pakaian yang sering aku gunakan ketika berlatih."


Lucy dan Daniel melongok mendengar penuturannya barusan. Mulut mereka menganga terbuka sempurna dengan mata yang membulat kaget.


"Tentu saja aku mendesain kostumnya dengan bahan yang terbaik, ini agar kalian mudah dalam bergerak dan tidak merasa canggung ketika harus bertarung atau berhadapan dengan lawan," jelas Maria kemudian.


"Selain itu, kostum ini membuat ku tampak seksi." Jean berpose di sana, dengan senyuman di wajahnya ia menatap cermin di dalam ruang ganti yang terbuka itu.


"Astaga…" Daniel menggelengkan kepalanya pelan. Ia tak habis pikir dengan gadis yang satu itu.


"Hahaha, kau ini lucu, ya…" Maria tertawa dibuatnya.


Fokus Maria kemudian beralih pada Lucy, begitu pula dengan Jean dan Daniel.


"Aku benar-benar terkesima." Maria tersenyum bangga seraya menatap ke arah Lucy.


Kostum yang dibuatnya memang yang terbaik, tidak salah dia membuat desain seperti ini, karena desain ini sangat cocok untuk digunakan oleh Lucy.


"Kau tampak cantik." Daniel berucap seraya tersenyum ke arahnya.


"Ya, aku setuju!" Maria menyahuti seraya terus memandangi Lucy.


"Apakah ini tidak terlihat aneh di tubuhku?" Lucy tampak tidak terlalu percaya diri. Raut wajahnya menampakkan bahwa ia tidak terbiasa dengan baju itu.


Ya, walau ia tahu jika pakaian seperti yang dikenakan olehnya itu sudah sering ia lihat dalam film-film tentang mata-mata, seperti contohnya yang di kenakan oleh Black widow dalam film The Avengers atau dalam film kartun kesukaannya saat kecil Totally Spies. Kostum seperti ini sering di pakai ketika sedang beraksi.


"Tidak, kau tampak cantik dan anggun berpakaian seperti itu," sahut Maria yang di angguki setuju oleh Daniel.


Maria beralih menatap Daniel. Membuatnya semakin merasa bangga akan kemampuannya mendesain kostum.


...***...