A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 36 - Kenalan



"Lou?" panggil Felix begitu ia tiba di dalam kamarnya.


Lucy yang baru saja tiba untuk mengambil pakaiannya lantas beralih fokus ke arah datangnya suara.


"Felix, sayang…" Lucy terkejut melihat Felix yang mendadak muncul.


"Syukurlah aku belum terlambat." Felix tersenyum simpul. Ia memeluk wanita yang menjadi kekasihnya itu.


"Kau datang untuk bertemu denganku? Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Lucy balas memeluknya dengan wajah bingung. Sebelumnya, Lucy kira kalau Felix akan sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tidak memiliki waktu untuk bertemu.


"Seharusnya aku menghadiri meeting setengah jam lagi. Tapi aku segera kemari begitu membaca pesan darimu. Aku ingin bertemu denganmu sebelum kau kembali ke London." Felix melerai pelukannya.


"Padahal kau tidak seharusnya melakukan itu. Jangan membuat pekerjaanmu terhambat."


"Tidak apa-apa, lagipula masih setengah jam lagi. Aku ingin bertemu denganmu dulu sebelum kembali bekerja agar aku lebih semangat."


Lucy tersenyum mendengar kalimatnya.


Felix meraih kedua tangannya, lalu menggenggamnya erat.


"Andai saja kau tinggal sedikit lebih lama. Kita 'kan jadi bisa menghabiskan waktu lebih banyak di sini. Mungkin kita bisa pergi ke Eiffel tower bersama, atau mungkin mengunjungi Arc De Triomphe, Seine river, Tuileries garden, atau tempat-tempat terkenal lainnya. Andai kita bisa menghabiskan waktu seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati liburan…" Felix tampak kecewa.


Lucy mengulurkan tangannya, mengusap wajah Felix penuh kelembutan sembari tersenyum.


"Kita bisa lakukan itu lain kali, saat kita sedang berlibur," katanya.


"Ya, baiklah."


"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang." Lucy beralih fokus pada tote bag miliknya yang sudah ia satukan dengan paper bag berisi kostum miliknya.


"Apa itu?" Felix menaikkan sebelah aslinya. Ia tidak tahu apa yang dibawa oleh wanita yang menjadi kekasihnya itu.


"Ini adalah hadiah dari seseorang."


"Seseorang? Siapa? Kau baru saja menemui seseorang?"


"Ya. Hanya kenalan lama."


"Begitu rupanya."


"Baiklah, aku pergi."


"Tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri, lagipula kau juga harus menghadiri meeting 'kan?"


"Tapi…"


"Aku sungguh bisa sendiri. Lebih baik kau juga kembali, aku tidak ingin kalau kau sampai terlambat hanya gara-gara aku."


"Baiklah kalau kau berkata begitu," gumam Felix dengan wajah murung.


"Sampai jumpa di London."


"Ya, sampai jumpa."


Lucy mendaratkan sebuah kecupan di bibir kekasihnya sebelum kemudian beranjak pergi meninggalkan Felix yang masih terdiam di kamar hotelnya.



...*...


Aland terus berjalan mondar-mandir menunggu Lucy yang tak kunjung kembali. Mereka sudah harus bersiap untuk berangkat kembali ke London karena urusan mereka sudah selesai di Prancis.


Aland sudah siap dengan menggunakan jas rapinya lengkap dengan mantel berwarna moka yang membalut tubuh proporsionalnya.


"Senior Lou belum kembali?" tanya Amanda sambil menghampiri Aland dengan kopernya di tangan.


Amanda sudah mengenakan stelan jas yang sama dengan Aland. Tapi masih selalu berbalutkan jilbab hitamnya.


Aland beralih fokus pada gadis yang baru saja tiba itu.


"Seperti yang kau lihat, dia belum kembali. Sebenarnya kemana dia? Kenapa belum kembali juga? Aku sudah berusaha menghubunginya, tapi dia sama sekali tak menjawab."


"Mungkin senior Lou sedang di jalan. Kita tunggu sebentar lagi saja."


"Aku harap begitu," gumam Aland dengan ekspresi murungnya.


"Omong-omong dimana barang bawaan senior? Kenapa senior belum membawa barang-barang senior?"


...***...