
"Tadi kau kenapa? Kenapa malah melamun?" tanya Jean pada Lucy. Menanyakan kejadian beberapa saat yang lalu ketika dirinya mendapati Lucy yang malah diam sambil menatap ke belakang.
"Aku tadi tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang di koridor. Barang-barang yang dibawanya sampai berhamburan di lantai. Maka dari itu, aku membantunya lebih dulu," sahut Lucy.
"Siapa yang menabrakmu?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak kenal dengannya. Dia seorang gadis dengan setumpuk kertas di tangannya."
"Kertas?" Daniel menaikkan sebelah alisnya. "Kertas apa?"
"Seperti desain sebuah pakaian."
"Oh, mungkin yang kau temui adalah desainer yang akan mendesain pakaian untuk kostum kita nanti! Kudengar hari ini coach Bean akan memperlihatkan desain kostum yang akan kita gunakan saat bertugas nanti."
"Kostum?" Lucy mengulang.
"Benarkah? Wah, aku sungguh tidak sabar ingin melihat bagaimana pakaian kita nantinya." Jean berucap antusias.
"Ya, aku juga."
"Kalau begitu, ayo cepat kita ke ruang latihan!" Jean menarik tangan Lucy dan Daniel, menyeret kedua sahabatnya itu pergi dari sana.
...*...
"Aku penasaran bagaimana penampilan kostum kita nantinya." Jean tampak sangat bersemangat.
"Pastinya akan sangat keren!" Daniel menimpali.
Ketiganya terus berjalan masuk ke dalam ruang latihan. Di dalam sana semua teman-teman sekelasnya sudah berkumpul, dengan Bean yang sudah berdiri ditemani seorang gadis yang mengobrol dengannya.
Lucy memperhatikan gadis itu yang tak lain adalah Maria. Penampilannya yang terasa tidak asing, membuat Lucy bisa dengan mudah mengingatnya.
Gadis itu adalah gadis yang sama yang beberapa saat lalu menabraknya di koridor.
Dia? Lucy menampakkan raut wajah terkejut melihat gadis itu di sana.
"Tidak. Tapi dia adalah gadis yang tadi bertabrakan denganku di koridor," ucap Lucy.
"Jadi dia orang yang kau ceritakan menabrakmu itu?" kata Jean. Lucy mengangguk sebagai jawaban.
"Dia cantik, ya." Jean tersenyum, ia takjub dengan penampilan gadis yang kini berdiri di depan ruang latihan mereka itu.
"Memang cantik, tapi bagiku Lucy lebih cantik," sahut Daniel. Lucy menoleh ke arah Daniel speechless.
"Sudahlah, ayo duduk!" Jean melangkah dengan Daniel dan Lucy mengikutinya duduk di tempat biasa mereka duduk.
"Apakah semuanya sudah berkumpul di sini?" tanya Bean seraya mengalihkan fokusnya pada anak-anak muridnya.
"Semuanya sudah lengkap, coach," sahut Daniel.
"Baik, kalau begitu perkenalkan. Ini adalah nona Maria, dia adalah orang yang akan membuatkan desain kostum yang akan kalian gunakan ketika menjalankan misi." Bean memperkenalkan.
Maria yang disebutnya itu tersenyum manis ke arah semua orang. Dalam hati, ia benar-benar bersusah payah menutupi rasa gugupnya.
Bahkan terlihat keringat mengucur di keningnya.
"Halo, salam kenal semuanya!" Maria tersenyum kaku.
"Maria, kau boleh mulai."
"Baik, terima kasih." Maria mengubah posisi jadi menghadap ke arah anak-anak murid Bean yang kini duduk dihadapannya.
Maria menghela napas beberapa kali. Mencoba mengatur napasnya agar tidak gugup dalam presentasi hari ini.
Hari ini adalah hari pertamanya memegang projects dengan tangannya sendiri.
Selama beberapa waktu lalu, ia selalu dibimbing ibunya. Tapi untuk pertama kalinya, ia dipercaya untuk memegang satu projects dengan tangannya sendiri, dan ia cukup gugup.
Maria gugup hanya karena belum terbiasa, dan takut membuat kesalahan.
...***...