
"Dengar! Kita harus bisa bekerjasama, kalian diam di sini dan jangan bersuara. Tigris dan Cheo yang akan menjaga kalian. Kakak akan pergi mengawasi mobil tadi. Ingat, diam!" perintah Zena sebelum pergi meninggalkan mobilnya di dalam kegelapan hutan.
Keadaan yang gelap, menciptakan rasa takut di hati mereka. Lampu mobil sengaja dimatikan agar tidak menarik perhatian. Mereka saling berpegangan tangan, duduk diam di dalam mobil. Tenang, pintu mobil itu terkunci.
Cheo menjaga dan mengawasi dari atas atap mobil bersama Tigris yang berjaga di bawah. Keduanya waspada, menatap sekeliling yang tak menampakkan apapun selain gelap dan sunyi.
Hanya suara-suara binatang malam yang terdengar ramai, salah satu yang mencolok suara burung hantu menambah keadaan semakin mencekam. Mereka hanya anak-anak yang takut akan gelap dan sendirian, tapi sebisa mungkin mengunci rapat mulut mereka agar tidak bersuara.
Zena menerobos hutan, melintasi pepohonan yang tumbuh rapat. Berjalan di dalam gelap, mengawasi keadaan. Jalanan yang menanjak tak membuatnya kesulitan, kaki jenjang itu terus berayun nyaris tanpa suara. Gemerasak daun kering dan ranting yang terinjak kakinya, membuat Zena selalu waspada.
Cukup lama dia berjalan, dan menemukan sebuah tembok tinggi menjulang. Zena menyimpan samurai di pinggangnya, memilih pohon yang strategis untuk ia naiki. Sigap, tubuhnya melompat memeluk dahan pohon. Merayap hingga melewati batas tembok tinggi tersebut.
Dari sana matanya dapat melihat dengan jelas kontainer yang diikutinya berada di dalam kurungan tembok tersebut. Zena merayap semakin mendekati tembok, memasang telinga dengan awas guna mendengarkan apa yang mereka katakan.
Dua orang laki-laki yang mengendarai kontainer tadi keluar, bersama tiga orang lainnya. Mereka membuka gembok memeriksa isi di dalamnya.
"Yang lain?"
Suara tanya terdengar.
"Mereka masuk ke dalam jurang, kami dikejar polisi dan berpisah. Entah seperti apa nasib mereka, kami pun tidak tahu," jawab salah satu laki-laki.
Dia menghitung sesuatu di dalam kontainer tersebut, mungkin jumlah anak perempuan yang mereka culik. Zena tak dapat melihatnya dengan jelas karena keadaan yang gelap tanpa penerangan. Pandanganya mengedar mencari celah untuk mereka melarikan diri tanpa diketahui.
Seorang di antara mereka naik, barulah nampak apa yang ada di dalam kontainer tersebut. Satu per satu anak perempuan keluar dari sana dalam keadaan menangis. Mereka memindahkan anak-anak itu ke dalam mobil box yang lebih kecil. Mengunci pintu itu rapat-rapat sebelum kembali memasuki bangunan kecil di tempat tersebut.
Merasa aman untuk menjalankan aksinya, Zena merayap ke atas tembok. Melompat dengan gesit, dan mendarat seringan kapas. Ia berlari mendekati mobil box tadi. Mengeluarkan belati kecil untuk membuka gembok tanpa merusak.
Pandangannya awas menatap ke segala arah, suara gelak tawa pecah di dalam bangunan. Mereka lengah hingga tidak tahu ada penyusup cantik yang datang. Gembok itu terbuka, Zena membuka salah satu pintunya dan sigap meletakan jari telunjuk di bibir.
Anak-anak itu menutup mulut dengan kedua tangan, Zena meminta mereka keluar satu per satu tanpa suara. Satu, dua, tiga anak keluar, tapi tiba-tiba pintu bangunan itu terbuka. Cepat-cepat Zena menutup pintu box itu dan membawa ketiga anak bersembunyi di balik badan mobil.
"Dengar! Kalian keluarlah dengan pelan, jangan menimbulkan suara apapun. Tunggu Kakak di luar tembok. Kalian mengerti?" bisik Zena pada mereka.
Ketiga anak itu mengangguk, dan menunggu perintah Zena untuk berlari keluar. Pintu gerbang di sana terbuka sedikit, memberikan sedikit celah untuk mereka masuki. Zena mengintip, salah satu penculik keluar dan berjalan mendekati mobil.
Ia mendekap ketiga anak itu sambil menahan napas, tak ada apapun yang terjadi. Hanya sebuah suara percikan air yang menimpa salah satu daun kering di sampingnya. Itu air seni, laki-laki itu buang air kecil sembarangan.
Zena mendengarkan ketukan langkah laki-laki yang menjauh, tak lama bunyi pintu tertutup pun terdengar. Tempat itu sepertinya tempat pemotongan kayu. Ada banyak tumpukkan kayu yang telah dipotong maupun belum.
Ketiganya mulai mengendap, mereka menyingkirkan rasa takut yang merajai hati kecil mereka untuk dapat melarikan diri. Gadis itu masih berdiri di sana memastikan ketiganya keluar dengan aman. Setelahnya, Zena kembali membuka pintu box tersebut dan meminta sisanya untuk keluar. Total anak yang mereka culik sebanyak lima orang.
Zena berjalan keluar bersama dua anak yang tersisa, entah karena apa? Salah satu anak tersandung dan jatuh. Suaranya yang mengaduh mengundang perhatian para penculik. Zena mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya lari sambil menggandeng yang lain.
"Penyusup!"
Teriakan itu membuat Zena sedikit panik. Buru-buru dia keluar dari tembok dan mengumpulkan mereka semua di satu titik. Suara tembakan menggema di kesunyian malam. Anak-anak itu semakin merasa takut.
"Kemari! Cepat!" bisik Zena.
Ia membawa semua anak itu bersembunyi di dalam semak.
"Kalian tunggu di sini, dan ingat jangan bersuara sampai Kakak datang menjemput. Mengerti?"
Mereka menganggukkan kepala, mencoba percaya pada Zena di tengah rasa takut yang semakin meluap. Zena berbalik pergi, bersembunyi di salah satu dahan pohon yang berbuah. Dia memetik beberapa buah, dan melemparnya jauh dari tempat anak-anak bersembunyi.
Total penculik itu ada sepuluh orang bersenjata api, mendengar suara gemerasak mereka bergegas menuju ke tempat asal suara itu. Zena menunggu giliran, bersiap dengan samurainya.
Salah seorang tepat berada di bawah pohon itu, Zena membalikkan tubuh mengandalkan kedua kaki untuk berpegang pada dahan pohon. Diayunkannya samurai di tangan, menebas leher penjahat itu. Dia terkapar tanpa sempat menjerit meminta tolong.
Zena mengangkat tubuh kembali, berjongkok di dahan menunggu yang lain datang. Dia merayap berpindah tempat, seperti seekor monyet yang bergelantungan di pohon. Dua orang penjahat yang berada di dekat pohon menjadi sasarannya.
Zena mendarat tanpa suara, menebas salah satu penjahat tanpa suara. Rekannya yang melihat berbalik dengan mata membelalak lebar. Darah segar mengalir dari mulutnya yang terbuka, samurai Zena menancap tepat di jantungnya. Ia menarik kembang samurainya, tubuh itu jatuh berdebam tak bernyawa.
"Sial! Ke mana mereka semua!" umpat salah satu dari mereka yang berjalan mendekat ke arah Zena membunuh rekannya.
Gadis itu berlari ke balik pohon, menunggu kedatangannya. Penjahat yang tak lain adalah supir kontainer itu terus berjalan tanpa menyadari bahaya di depan.
Sret!
Langkahnya terhenti saat sebuah samurai menghadang tepat di bagian lehernya. Mulut penjahat itu terbuka lebar, matanya melirik takut pada benda tajam di bawah dagunya. Zena perlahan keluar, senyum di bibir tersungging mengejek.
"K-kau ...?"
"Hallo, kita bertemu lagi!" sapa Zena dengan ramah.
Mulut laki-laki itu terbuka lebar hendak berteriak meminta bantuan, tapi tak ada kata yang keluar hanya cairan merah yang menyembur dari batang lehernya. Dia jatuh dengan kepala yang hampir terputus.