Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Misteri



"Siapa dia? Kenapa aku baru melihatnya?" Seseorang bergumam dari balik sebuah tembok yang menjadi pintu keluar masuk di atap sekolah tersebut. Ia beranjak dari posisi tidurnya, memperhatikan sosok Zena yang sedang berdiri di tepi atap.


Ia berniat menghampiri ketika Zena justru melangkah semakin mendekati tepian atap. Tubuhnya condong ke depan, membungkuk seolah-olah sedang melongo ke bawah. Laki-laki itu terkejut, gegas ia berjalan mendekati Zena. Posisi Zena bisa saja jatuh melayang dari atas atap tersebut.


"Hei, apa yang sedang kau lakukan?" tegurnya yang membuat Zena terkejut.


"Eh? Argh!" Hampir-hampir kakinya terpeleset karena tak mampu mempertahankan keseimbangan akibat rasa terkejut mendengar suara yang tiba-tiba.


Laki-laki itu berlari dan sigap menahan tubuh Zena yang hampir jatuh dari atap. Ia segera mengangkatnya, ringan terasa karena dia memiliki tubuh lebih tinggi dan besar dari Zena.


"Apa yang kau lakukan? Kau bisa jatuh dari atap sini," katanya dengan cemas. Laki-laki itu berkulit sawo matang dengan manik cokelat yang terlihat membesar karena panik.


Pandang mereka bertemu, tapi tatapan yang dilayangkan Zena tidaklah akrab. Maniknya memancarkan hawa dingin dan menusuk seolah-olah ia tak senang diselamatkan laki-laki itu. Melihat Zena yang diam mematung, ia meneguk ludah sendiri. Gugup dan tak enak rasanya.


"Kenapa kau datang tiba-tiba dan mengejutkanku?!" ketus Zena semakin melebarkan biji maniknya yang hitam, "apa kau ingin aku terjatuh? Lalu, mati?" bentak Zena lagi galak.


Laki-laki itu meneguk ludah lagi, tangannya masih mendekap tubuh ramping Zena tanpa sadar. Gadis itu mendorong tubuhnya hingga menjauh dan rangkulan di pinggangnya terlepas. Buru-buru Zena mendatangi tempat tadi, dan kembali berjongkok mengambil sesuatu. Seekor kucing yang ketakutan karena terjebak di ketinggian dan hampir saja jatuh.


"Kau tak apa? Maaf membuatmu terkejut. Kau ketakutan, ya?" cerocos Zena dengan lembut.


Laki-laki tadi terperangah melihat Zena menggendong kucing sambil mengusap-usap bulunya. Ia tertawa dalam hati, menertawakan dirinya yang tiba-tiba merasa panik melihat Zena yang membungkuk.


Kupikir dia mau terjun, ternyata ....


Ia menggelengkan kepala dengan wajah yang memerah malu. Digigitnya bibir sambil mematri pandangan pada senyum Zena yang tak jauh darinya. Menyadari seseorang menatapnya, Zena berpaling dengan cepat. Wajah lembutnya hilang saat melihat laki-laki tadi masih berdiri di sana dengan wajah yang memerah.


Tanpa kata, Zena mengayun langkah meninggalkan atap juga laki-laki yang masih mematung menatapnya. Terus menjauh tanpa berniat menoleh lagi.


"Gadis yang aneh, siapa dia? Kenapa aku baru melihatnya," gumamnya sembari menggigit bibir bawah dengan gemas. Ia tersenyum-senyum sendiri, wajahnya memerah saat mengingat kejadian tadi. Ia pandangi tangan kanannya, tangan yang tanpa sengaja mendekap tubuh Zena.


Gadis itu tak peduli, ia menurunkan si kucing setelah sampai di lantai kelasnya. Duduk sendirian di tangga mengamati keadaan sekolah juga siswa yang berlalu-lalang di lorong tersebut. Di antara mereka ada yang sedang mengobrol bahkan tak segan bercengkerama dengan lawan jenis.


Sementara di kelas, "Ben, kau tahu di mana Zena? Aku khawatir dia akan membuat masalah lagi," tanya Mirah saat sadar Zena tak ada di kelas. Ia mengedarkan pandangan, benar saja gadis itu memang tak ada di dalam kelas.


"Aku tidak tahu, aku tidak melihatnya keluar tadi," sahut Ben ikut mengedarkan pandangan mencari sosok Zena. Gadis itu tak nampak di sana. Ben dan Mirah gegas berdiri dan keluar kelas untuk mencari keberadaan Zena.


Keduanya berpapasan dengan kelompok macan putih yang kini hanya terdiri dari tiga orang sisanya saja. Tatapan mereka nyalang, tapi tak berani mengganggu Sarah mengingat ancaman Zena waktu itu.


Ben sama sekali tak memandang mereka, ia terus saja menatap ke depan seolah-olah tak ada macan putih itu. Semenjak Zena melawan mereka, di hati Ben dan Mirah tak sedikitpun rasa takut bersemayam.


"Kupikir mereka akan menggangguku seperti sebelum-sebelumnya. Ternyata, mereka benar-benar takut dengan ancaman Zena apalagi setelah melihat bagaimana Zena yang sendirian mampu mengalahkan kelompok preman yang mereka sewa," celetuk Mirah sambil menyusuri lorong lantai di mana kelasnya berada.


"Kau benar, ternyata Zena membawa pengaruh yang besar, ya?" Ben menyahut.


Kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan Zena, sedangkan orang yang mereka cari tengah mendekap lutut di tangga memikirkan sesuatu. Ia sempat melihat kelompok macan putih menuju kelasnya. Ingin beranjak, tapi urung. Jadilah ia hanya duduk di sana menunggu keributan yang ditimbulkan kelompok tersebut.


Namun, setelah beberapa saat mendengarkan, tak ada sahutan yang berarti dari siswa di kelasnya.


"Apa mereka juga terlibat penculikan para remaja itu, ya? Bagaimana caraku menyelidiki? Hhmm ... apa aku harus membuntuti mereka pergi setelah jam belajar usai? Sepertinya memang seperti itu. Baiklah." Ia beranjak berdiri meninggalkan tempat duduknya di tangga.


Melongo ke lantai satu di mana para orang tua siswa telah usai dengan rapat mereka. Ia melihat Adhikari berjalan keluar sekolah, laki-laki tua itu nampak biasa saja berbeda dengan orang tua lainnya yang terlihat cemas.


"Apa yang terjadi dalam rapat? Kenapa mereka terlihat cemas seperti itu?" gumam Zena dengan dahi yang mengernyit bingung. Ia tak beranjak sampai Mirah dan Ben mendatanginya.


"Hei, kau di sini? Kami mencarimu," tegur Mirah sambil mengalungkan tangan di pundak Zena. Gadis itu tersenyum sebentar lalu kembali menatap para orang tua di bawah sana.


"Yang mana orang tua kalian?" tanya Zena memperhatikan lantai satu gedung tersebut.


Mirah dan Ben melongo ke bawah, mencari orang tua mereka.


"Ah, itu orang tua Sarah. Mereka dari kulit hitam mudah dikenali, tapi meski begitu mereka sangat baik dan tamah," celetuk Mirah menunjuk pada sepasang orang tua berkulit hitam dengan rambut yang hampir serupa mirip Sarah.


Zena manggut-manggut, kemarin saat mengantar Sarah mereka tidak bertemu dengan kedua orang tuannya.


"Itu mereka, itu Ayah dan Ibuku. Kenapa mereka terlihat cemas?" Mirah bingung sendiri saat melihat keduanya mengobrol dengan wajah yang terlihat cemas.


"Itu yang aku ingin tahu sedari tadi," sahut Zena.


"Lihat, itu orang tuaku, mereka juga terlihat cemas. Sebenarnya ada apa dalam rapat tadi? Kenapa semua orang tua terlihat cemas kecuali ... Ayahmu sama sekali tidak seperti mereka. Dia bersikap biasa saja bahkan tersenyum ramah." Ben menyambar dia dapat melihat Adhikari yang mengembangkan senyum berbeda dengan orang tua lainnya.


"Aku pun tidak mengerti, bukankah rapat tadi membahas soal ujian akhir? Kenapa mereka tegang dan cemas? Apakah memang selalu seperti itu?" tanya Zena yang tak tahu apapun soal sekolah apalagi ujian akhir.


"Ujian akhir?" Mirah mengulang. Keduanya terdiam mendengar dua kata tersebut. Zena menoleh dan mengernyit saat melihat Mirah terdiam dengan wajah yang sendu.


"Mirah, ada apa?" Zena beralih pada Ben yang nampak bingung sendiri, "kalian kenapa? Katakan padaku ada apa dalam ujian akhir?" cecar Zena menuntut mereka agar memberitahunya.


"Ujian akhir itu artinya kita akan melakukan segala cara agar dapat lulus dari sekolah dengan nilai yang bagus. Tak peduli apapun itu, yang penting kita bisa menjadi lulusan terbaik dari sekolah ini. Dengan begitu, kita akan mudah masuk universitas ternama ataupun langsung diterima bekerja di manapun kita melamar," jelas Ben menggebu-gebu.


Zena semakin tidak mengerti. Ia memang tidak tahu apa pun soal ujian akhir dan belum pernah bertanya pada Chendrik tentang itu.


"Aku tidak mengerti," celetuk Zena.


"Kau akan mengerti pada saatnya nanti," sahut Mirah dengan cemas meskipun senyum tersungging di bibir.


"Ayo!" ajak Ben pada mereka berdua. Ketiganya kembali ke dalam kelas, sekali lagi berpapasan dengan kelompok macan putih yang masih terlihat lebam di wajahnya. Mereka tak acuh, dan terus berlanjut meninggalkan lorong lantai tiga di mana kelas Zena berada.


"Mereka membuat masalah lagi?" Zena bertanya sambil melirik dengan ekor matanya.


Ketiganya memasuki kelas, melihat beberapa siswa berwajah sumringah setelah kelompok itu pergi. Zena semakin bingung, disaat orang tua mereka terlihat cemas, di sini mereka justru sedang tersenyum dan tertawa bahagia. Ada apa?


"Sudahlah, jangan pedulikan. Sebaiknya kita pulang karena sebentar lagi sekolah akan sepi," ucap Mirah sambil mengambil tas miliknya juga milik Zena. Ketiganya kembali keluar ruangan tanpa mempedulikan mereka yang masih ingin berada di kelas.


"Ah, aku tadi tak sengaja melihat laki-laki berkulit sawo matang di atap. Apa kalian mengenalnya?" celetuk Zena saat mengingat pertemuannya dengan laki-laki asing tadi di atap sekolah.


"Kau dari atap sekolah? Tidak ada yang berani melangkah ke sana, Zena. Kenapa kau nekad pergi ke sana?" Mirah melebarkan biji matanya saat mendengar atap sekolah. Begitu pula dengan Ben, gelisah merundung keduanya.


"Iya, memangnya ada apa? Di sana ada angin segar yang bisa kita nikmati. Kenapa selama ini tak ada siswa yang mengunjunginya? Padahal, tempat itu nyaman untuk kita beristirahat," sambut Zena dengan segala kepolosannya.


"Kuperingatkan kau untuk tidak mendatangi atap sekolah lagi. Jika kau tetap nekad pergi ke sana, kau akan ditandai, Zena. Jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di sana," ucap Ben menakuti. Wajahnya yang jenaka berubah tegang saat membahas soal atap sekolah.


Misteri lagi?


"Memangnya ada apa dengan atap sekolah? Bukankah sekolah membebaskan siswa untuk mendatanginya?" Raut bingung jelas terlihat di wajah cantik Zena. Membuat kedua temannya frustasi.


"Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh kata soal atap sekolah di sini. Sebaiknya kau dengarkan saja kami dan jangan pernah lagi pergi ke sana. Ini demi kebaikanmu, Zena." Ben mengangguk setuju mendengar ucapan Mirah.


"Baiklah." Namun, bukan Zena namanya, jika ia tak melepaskan rasa penasarannya tentang misteri atap sekolah. Ia akan mencari tahunya besok dengan mendatangi tempat itu lagi. Untuk sekarang, ada hal yang harus ia lakukan. Membuntuti kelompok macan putih sepulang sekolah.


"Baiklah. Kita berpisah, sampai jumpa!" Ben dan Mirah melambaikan tangan, disusul Sarah yang baru saja keluar sekolah dengan wajah yang terlihat tegang.


"Sarah, ada apa denganmu?" tanya Zena melihat ketegangan di wajah sahabatnya itu.


"Aku takut menghadapi ujian akhir, siswa berkulit hitam sepertiku, aku takut tak akan mendapatkan nilai bagus," katanya sedih.


"Kenapa?"


"Aku sendiri tidak tahu," sahutnya lagi semakin sedih.


"Sudahlah, yang penting saat ini kita harus belajar dengan benar untuk mengahadapi ujian. Pulanglah, bukankah orang tuamu menunggu?" Sarah mengangguk setelah mendesah panjang.


Ia berpamitan pada Zena seraya membawa langkahnya memasuki sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari mereka. Zena menaiki motornya, melesat pelan menuju sekolah Cheo. Menjemput anak itu sebelum menguntit mereka.


"Kakak, ujian akhir akan diadakan di sekolah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan?" ucap Cheo saat Zena menjemputnya.


Gadis itu mengusap kepalanya, tersenyum lembut penuh perhatian.


"Kau bisa menanyakannya pada Ayahmu saat di rumah. Dia akan mengajarimu banyak hal tentang ujian akhir di sekolah. Kita pulang!" katanya sambil tersenyum manis.


Seorang guru memperhatikan Zena dari jauh, seolah-olah ia baru melihatnya. Pandangannya menyipit, wajahnya datar saja. Gadis itu menggandeng Cheo menaiki motornya. Melesat pergi di bawah tatapan tajam guru Cheo.


Motor Zena berhenti di sebuah warung pinggir jalan, ia memesan minum dan mengambil dua buah roti untuk mengganjal perut sebelum tiba di rumah.


"Kakak, kenapa kita tidak pulang saja?" tanya Cheo yang belum mengerti dengan rencana Zena.


"Kakak ingin melakukan sesuatu, jika pulang terlebih dahulu maka akan sangat terlambat," jawabnya sambil menggigit roti tersebut dan mengunyahnya.


Cheo menganggu, ikut menggigit roti di tangan dan menghabiskannya. Dua buah minuman diletakkan pemilik warung di hadapan mereka.


"Terima kasih," katanya seraya menerima minuman tersebut dan menenggaknya. Rasa teh manis dicampur es batu cukup menyegarkan tenggorokan. Mereka berbalik menghadap jalanan menunggu mobil yang ditunggu Zena melintas.


Mobil dengan logo macan putih itupun melewati tempat mereka menunggu, Zena bersikap normal. Membayar apa yang mereka makan sebelum pergi meninggalkan warung. Ia yang lihai, menguntit di kejauhan. Seragam yang dikenakan keduanya bahkan telah berubah dengan pakaian biasa yang menyembunyikan diri mereka. Kecuali motor yang dikendarai Zena, mungkin.


"Kakak, untuk apa kita membuntuti mereka?" tanya Cheo merapatkan tubuhnya pada Zena supaya terdengar jelas.


"Kakak curiga." Singkat saja dan Cheo langsung mengerti. Tak ada lagi pertanyaan darinya, selama mengikuti laju mobil tersebut, Cheo hanya diam dan memperhatikan.


Mobil yang mereka ikuti berbelok ke kawasan perumahan elit di kota tersebut. Zena tak henti, terus menguntit mobil itu sampai memasuki sebuah rumah megah di kawasan tersebut. Zena memarkir motor di bawah sebuah pohon tak jauh dari rumah tersebut.


Ketiga orang itu turun dari mobil, disusul mobil lainnya yang memasuki halaman rumah. Pandangannya menyipit saat melihat salah satu anggota macan putih yang tak terlihat menyambut mereka di rumah itu. Keempatnya saling berbicara, tapi tak dapat didengar Zena. Tak lama, mobil yang baru memasuki halaman rumah itu pun terbuka. Dua orang laki-laki yang berstatus guru keluar dari mobil tersebut. Guru yang sama yang dilihat Zena hari ini melakukan hal tidak pantas di sekolah.


Ia mengeluarkan ponsel pemberian Chendrik, memotret apa yang perlu ia laporkan kepada pemimpin markas itu. Setelah itu, Zena menjalankan kembali motornya meninggalkan kawasan perumahan elit tersebut.


"Kakak, apa mereka yang selalu mengganggu Kakak di sekolah?" Suara Cheo bertanya ingin tahu.


"Kau benar, Cheo. Merekalah yang selalu mengganggu Kakak di sekolah." Cheo berbalik memperhatikan rumah megah itu dari kejauhan. Tak sengaja matanya melihat seseorang memasuki rumah itu menggunakan motor.


Ia kembali ke depan, menjatuhkan kelapa di punggung Zena. Tiba-tiba hatinya merasa cemas, mengingat apa yang sedang Zena lakukan bisa saja membahayakan dirinya.


Aku tidak ingin kehilangan Kakak, aku tidak ingin berpisah lagi dengan Kakak. Ke manapun Kakak pergi, aku akan mengikutinya.


Cheo bergumam sembari mengeratkan pelukan. Hal itu membuat Zena merasa aneh, tapi ia tersenyum. Hatinya menghangat merasakan pelukan dari anak yang ia besarkan sejak bayi merah itu.


Kau harus hidup dengan baik, Cheo. Aku tidak ingin melihat kesedihan di wajahmu. Tersenyumlah selalu, sayang. Anakku.


Ia terus tersenyum dengan hati yang berbunga. Sekalipun hidupnya penuh dengan tantangan, musuh bertebaran di mana-mana apalagi jika statusnya sebagai keturunan sang Elang Putih terbongkar, sudah pasti bahaya besar mengincarnya. Namun, ia ingin anak yang dibesarkannya tumbuh dengan baik, dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.


Semoga tak lama lagi kasus ini akan terkuak. Satu telah aku musnahkan, tinggal mencari tahu yang lainnya. Aku yakin, di dalam sekolah itu ada dalang dibalik semua ini.


Tekad Zena semakin kuat, ia melajukan motornya ingin segera sampai di rumah. Motor ia parkir, tak sadar jika sudah terlambat dari jam pulang biasanya.


"Dari mana saja kalian? Dan kau, Zena! Ke ruang kerjaku sekarang!"