
Jerit tangis para penduduk mengusik telinga Zena, mereka meringkuk di lubang-lubang galian bermaksud menyembunyikan diri dari para penjahat yang menyiksa di siang dan malam mereka.
Rintihan suara anak-anak yang menahan lapar dan haus, semakin menyayat hati Zena. Ia menebas berkali-kali tubuh penjahat terakhir melampiaskan segala rasa yang membuat jiwanya menderita.
"Kakak!"
Suara panggilan dari Cheo menghentikan gerakan tangan Zena yang mencincang tubuh kaku itu. Dengan napas yang memburu dipandangi tubuh hancur di depannya itu. Peluh dan air mata berbaur menjadi satu, kulit wajahnya merah merekah akibat luapan emosi yang tak terkendali.
Zena membuang pandangan dari jasad tersebut, untuk kemudian mengalihkannya pada area tambang. Kakinya berayun memasuki galian, ada banyak lubang yang telah dibuat para penduduk dalam waktu semalam saja.
Hatinya meringis ngilu, terlebih saat melihat sosok yang begitu lekat dalam ingatannya sepuluh tahun silam. Ia berlari mendekati salah satu lubang, memandang sendu seorang laki-laki hampir tua yang sekarat.
"Paman!" lirih suara Zena yang memanggil laki-laki tersebut.
Ia melompat turun ke dalam lubang, membantu mereka keluar bersama para penduduk yang masih memiliki tenaga. Dibantu Cheo, dan diawasi Tigris, semua penduduk pada akhirnya dapat bernapas lega.
"Si-siapa ka-kamu?" tanya laki-laki tua tadi sambil menatap Zena dengan mata tuanya yang rabun. Bibirnya yang keriput mengering, lidah tak lagi berwarna. Zena menangis.
"Cheo! Bawa kemari tas bekal kita!" titah Zena meminta bekal yang dibawa Cheo.
"Che-cheo? K-kau ...?"
"Jangan berbicara, Paman. Jangan!" pinta Zena dengan sangat.
Laki-laki tua itu berbaring di pangkuan seorang pemuda. Pemuda yang ditemui Zena di dalam rapat bersama para penguasa beberapa waktu lalu. Cheo datang dan memberikan tasnya kepada Zena. Tidak menunggu lama, ia mengeluarkan botol air dan memberikannya pada laki-laki tersebut.
"Minum dulu, Paman. Aku yakin Paman ingin bertemu dengan anak yang Paman selamatkan dulu," ucap Zena seraya membantunya duduk untuk meneguk air segar di tangan gadis itu.
Perlahan wajahnya mulai membaik meskipun masih terlihat pucat. Zena mengeluarkan beberapa bungkusan roti pemberian penduduk kepada semua orang. Tidak mencukupi memang, tapi ia meminta kepada mereka untuk saling berbagi dengan yang lain.
"Ayah, apakah dia gadis yang dulu Ayah ceritakan?" tanya pemuda tadi setelah mengunyah roti pemberian Zena.
Sementara laki-laki tua tadi, harus mencelupkan roti tersebut ke dalam air sebelum memakannya.
"Benar, Nak. Dia Zena, gadis yang Ayah ceritakan dulu padamu," ucap laki-laki tadi sambil menarik napas pendek-pendek.
Pemuda tadi melirik Zena, gadis cantik dengan beberapa titik noda merah di wajah. Dari sebuah cerita saja dia sudah mengagumi sosoknya, ditambah saat melihat wajah itu juga kenyataan bahwa dia seorang pahlawan semakin menambah kekaguman dalam dirinya.
"Kakak, apa dia laki-laki yang Kakak maksud dulu? Dia orang yang paling berjasa dalam menyelamatkan aku saat bayi dulu?" cecar Cheo menatap Zena dengan segala rasa ingin tahunya.
Zena mengangguk pelan, mengusap rambut Cheo sambil tersenyum.
"Dia paman Okk, orang yang paling berjasa dalam menolong Kakak waktu itu. Jika tidak ada beliau saat itu, entah akan seperti apa jadinya kita," ucap Zena sembari memandang paman Okk yang sudah nampak lebih tua itu.
"Hallo, Kakek. Aku Cheo, terima kasih atas pertolongan Kakek waktu itu. Saya benar-benar tidak bisa membalasnya, tapi mungkin Ayah saya bisa. Jadi maafkan saya, Kakek," ucap Cheo dengan kepala tertunduk.
Melihat sikapnya yang begitu santun dan rasa hormat yang tinggi terhadap orang tua, paman Okk merasa terharu sekaligus bangga dengan sosoknya. Dia masih sangat muda, tapi sudah tahu caranya berbicara dengan orang tua.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kau sudah sangat besar sekarang, Zena pasti merawatmu dengan sangat baik. Padahal, waktu itu dia hanyalah seorang gadis kecil yang tidak tahu apa-apa tentang cara mengasuh bayi, tapi melihatmu sekarang aku jadi menyesal sempat meragukan dirinya," ucap paman Okk sambil tersenyum.
"Nona, apa masih ada makanan lagi? Anakku belum mendapatkan bagiannya," tanya seorang Ibu muda sambil menunjuk anaknya yang meringis memegangi perut.
Zena melirik anak tersebut sebelum bertanya pada Cheo lewat sorotan matanya. Bocah itu menggeleng, semua bekal mereka telah habis tak tersisa.
"Nona, bagaimana dengan air minum? Apakah Anda masih memilikinya?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang bibirnya nampak pucat pasih.
Zena memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam, berharap sebuah jalan keluar muncul dalam benak untuk mengatasi masalah penduduk di pulau Laes ini. Ia membuka matanya kembali, memandang dua orang yang menunggu penuh harap. Di sana, banyak mata yang menatap dengan tatapan yang sama.
"Sebentar, aku harap kalian bisa menunggu. Aku akan mencari bantuan untuk membawakan makanan dan minuman ke pulau ini," ucap Zena sembari menahan getir dalam hati.
Ia berjalan mengajak Cheo menjauh dari tempat tersebut. Hanya Sebastian yang saat ini bisa dia harapkan. Zena mengambil ponsel menghubungi Sebastian yang belum juga memberinya kabar.
Pucuk dicinta ulam pun tiba.
Tak butuh waktu lama, Sebastian langsung menerima panggilannya.
"Bagaimana keadaanmu, Zena? Apa kau baik-baik saja?" cecar Sebastian dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, tapi ada yang tidak baik di sini dan aku membutuhkan bantuanmu, Bas," jawab Zena tak menyembunyikan kesedihannya.
"Ada apa? Kota sudah dikuasai oleh para mafia bahkan markas Mata Elang pun telah jatuh ke tangan mereka. Kami hanya mampu membebaskan sebagiannya ... apa yang kau butuhkan, Zena?"
Keterangan dari Sebastian membuat hati Zena terpukul, tapi untuk saat ini kondisi penduduk di pulau Laes yang paling terpenting.
"Kirimkan beberapa orangmu ke pulau Laes, bawa makanan dan minuman sebanyaknya untuk para penduduk di sini. Aku akan pergi ke kota, siapkan saja sebuah pasukan juga semua yang kita butuhkan dalam perang ini!" titah Zena tanpa menunggu jawaban Sebastian, ia menutup sambungan telepon.
Zena menatap langit, meneguk ludah dengan susah payah untuk membasahi tenggorokan. Kedua matanya terpejam, air jatuh begitu saja dari pelupuk. Rasa kecewa pada diri sendiri, penyesalan karena tak dapat menjaga kota kelahiran, juga penderitaan saat membayangkan para penduduk yang terdampak dari perang besar ini.
Jarak kota Elang dan pulau Laes tidaklah terlalu jauh, jika menyeberang menggunakan kapal hanya butuh waktu tiga jam saja. Berbeda dengan helikopter, setelah hampir setengah jam menunggu, mereka akhirnya muncul. Ia membuka matanya.
Helikopter itu mendarat tak jauh dari tempat Zena berdiri. Sebastian sendiri yang langsung datang menjemput dirinya. Bersama tiga orang lainnya yang membawa semua kebutuhan penduduk di pulau tersebut.
Zena tak lagi kembali ke tempat mereka, ia dan Cheo bersama-sama Tigris menaiki helikopter dengan Sebastian sebagai pilot. Mereka terbang menuju kota Elang, menyusun rencana untuk merebut kembali markas besar Mata Elang.
Hirata, seperti apa rupamu? Aku tak akan pernah memaafkan dirimu. Tidak akan!