Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Black Shadow



"Black Shadow." Zena bergumam lirih teringat akan obrolannya dengan ketiga teman di sekolah.


Chendrik mendelik tajam, ia mendengar meski lirih diucapkan. Sekonyong-konyong menarik tangan Zena dan membawanya ke ruang kerja di lantai dua.


"Hei, apa yang kau lakukan?" pekik Sebastian seraya membawa langkah mengikuti Chendrik yang terus menarik tangan Zena.


Adhikari meletakkan boneka besar yang dikirim seseorang untuk Zena di lantai berikut bunga dan cokelatnya. Ia menyusul mereka bertiga tak ingin tertinggal.


"Kakek, ada apa? Kenapa Ayah menarik Kakak begitu?" tegur Cheo yang tak sengaja melihat adegan tadi.


"Mmm ... kau tunggulah di sini, Kakek akan mencari tahunya," katanya seraya mengusap kepala bocah itu dan langsung melanjutkan langkah.


"Dari mana kau tahu soal Black Shadow?" tanya Chendrik dengan penuh penekanan.


Zena mengernyit, dari riak wajah yang ditunjukkan Chendrik nama itu amat berpengaruh untuknya.


"Kakak, jangan terlalu menekan Zena. Kendurkan urat sarafmu dan tanyalah dengan tenang," sambar Sebastian sambil melangkah masuk ke ruang kerja Kakaknya.


Chendrik berdecih, ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya dengan pelan. Mendengar julukan itu emosinya terus saja bergejolak dan memuncak.


"Baiklah, kau tahu dari mana nama itu?" tanyanya dengan nada pelan dan terkontrol.


"Mirah, Sarah, dan Ben yang membahas soal itu tadi pagi. Kata mereka Black Shadow adalah orang yang mengawasi sekolah dan atap sekolah adalah tempatnya." Zena mengulang informasi yang dia terima dari ketiga temannya.


Chendrik menggelengkan kepala tidak yakin, Sebastian hanya diam mendengarkan karena ia tidak tahu soal Black Shadow itu.


"Black Shadow salah satu kelompok gangster yang sering membuat kekacauan. Menciptakan huru-hara di mana saja yang mereka suka. Apa kau bertemu salah satunya?" Adhikari terlihat lebih tenang dibandingkan Chendrik.


Pemimpin markas itu nampak emosi dan tak dapat menahan dirinya. Mungkin saja ada dendam masa lalu antara mereka.


"Gangster?" beo Zena sambil memalingkan wajah pada Adhikari yang berdampingan dengan Sebastian.


"Ya, Zena. Gangster selalu berkaitan dengan para mafia, mereka bekerja secara berkelompok untuk membuat kerusuhan dan tawuran yang tak segan membawa senjata tajam bersama mereka. Anggota Black Shadow seringkali menjadi mata-mata seperti para prajurit di markas. Dan mungkin salah satunya adalah orang yang tak sengaja kau temui," cetus Adhikari lagi menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan Black Shadow.


Zena tercenung, mengingat-ingat kembali kejadian tak sengaja di atas atap itu. Seorang laki-laki dengan penampilannya yang memakai sweater hoodie berwarna hitam, berikut celana dengan warna serupa.


"Dia memiliki tatto di bagian tangan kanannya, tatto bergambar bayangan berwarna hitam," cerocos Zena lagi masih terus mengingat-ingat tentang laki-laki asing yang ia temui.


Adhikari dan Chendrik melebarkan mata menatap Zena, sedangkan Sebastian terdiam memperhatikan.


"Master?" Chendrik memanggil lirih. Riak di wajahnya berubah tegang, ada kobaran api dendam dalam maniknya yang kecoklatan.


Zena memang tidak tahu apapun soal Black Shadow, tapi melihat reaksi dari kedua pemimpin markas di depannya, ia tahu betapa membekasnya kelompok itu di hati mereka. Mungkin bukan hanya mereka, tapi seluruh penghuni markas Mata Elang juga menaruh dendam yang sama.


"Di atap sekolah ... eh, bukankah kau memiliki gambar itu? Laki-laki yang membuatmu cemburu, Chendrik. Dialah yang aku maksud," ucap Zena mengingatkan Chendrik tentang gambar di mana seorang laki-laki memeluk tubuh Zena hampir tak berjarak.


Chendrik kembali dikejutkan dengan keterangan Zena. Ia mengambil ponsel dari saku celana dan menggulir layar mencari gambar yang beberapa waktu lalu dikirimkan mata-matanya.


"Inikah? Tapi dia tidak memiliki tatto itu di tangannya?" celetuk Chendrik sambil menelisik gambar tersebut. Sebastian mendekat, mencoba melihatnya dengan jeli.


"Apakah ini? Mungkin gambar ini yang dikatakan Zena tadi," ucap Sebastian mengkonfirmasi pernyataan Zena. Ia memberikan ponsel tersebut kepada Zena untuk dilihatnya.


Gadis itu menyipitkan mata, ia menganggukkan kepala membenarkan tebakan Sebastian.


"Benar, Bas. Gambar itulah yang aku lihat di tangan kirinya. Ia menutupinya dengan kain yang dililitkan hingga telapak tangan," ungkap Zena karena yang ia lihat hanya sebagian kecilnya saja yang tak sengaja terbuka saat laki-laki itu sigap menolongnya.


"Tidak salah lagi, dia orangnya. Zena, apa kau sempat berbincang dengannya?" Chendrik menyelidik. Bukan riak cemburu yang ia tampilkan kali ini, lebih tepatnya rasa kecemasan dan kekhwatiran akan keselamatan Zena.


"Tidak banyak. Aku tidak terlalu suka meladeni orang asing berbicara, tapi, Chendrik, dia menatapku aneh. Aku melihat kecurigaan di matanya, kata Ben aku sedang ditandai," ucap Zena lagi membuat Chendrik mengusap wajah gusar.


"Astaga! Kau harus lebih berhati-hati lagi, Zena. Bersikaplah biasa saja saat dia ada di dekatmu. Aku tidak ingin kau terlibat dalam situasi yang membahayakan dirimu." Chendrik mengusap pipi gadis di hadapannya dengan lembut.


Sebuah perhatian yang ia rindukan dari seseorang. Ciul, Kak Nira, di mana kalian? Secara tiba-tiba Zena memeluk Chendrik, rasa rindu pada dua sahabat lamanya itu tak tertahankan lagi. Ingin rasanya segera menuntaskan semua masalah dan pergi mencari mereka.


Sebastian mendengus, kedua tangannya terkepal erat, rahangnya mengetat menahan gejolak api cemburu yang membuncah dalam jiwa. Adhikari menepuk-nepuk bahu sang Jenderal menenangkannya untuk tidak terbawa emosi melihat reaksi Zena yang reflek.


Sebastian mendesah, ia melirik lesu Adhikari yang mengangguk meminta pengertian darinya.


"Ikuti aku!" Dengan langkah berat Sebastian meninggalkan ruang kerja Chendrik dan mengikuti laki-laki tua itu menuju balkon di lantai dua.


"Zena memang terlihat ceria, seolah-olah tak memiliki masalah dalam hidupnya, tapi apa kau tahu? Dia masihlah wanita biasa yang memiliki sisi rapuh dalam dirinya. Perlakuan yang lembut dan perhatian, itulah yang diinginkan hati kecilnya. Kuharap kau mengerti, jika kau mencintai Zena jangan pernah memaksakan keinginanmu padanya," ungkap Adhikari yang membuat Sebastian merenung.


Ia tak pernah tahu soal Zena, yang ia tahu gadis itu selalu terlihat ceria. Mandiri dan tidak pernah bersikap manja seperti gadis yang lainnya. Sebastian menoleh lantas mengulas senyum mengerti.


"Ceritakan padaku tentang kehidupan Zena," pintanya ingin lebih dalam mengetahui tentang sosok Zena.


"Hanya sedikit yang aku tahu, untuk lebih jelasnya kau bisa menanyakannya pada keponakanmu," ujar Adhikari yang lantas bercerita tentang siapa Zena dan bagaimana kehidupan yang selama ini ia lalui.


Sebastian terenyuh, terus bungkam tanpa menyela ataupun bertanya sepanjang Adhikari bercerita. Cukup lama karena ingin mendengar secara tuntas kisah tentang gadis pujaan hati yang selama ini dicintainya dalam diam. Semakin bertambah rasa dalam hati, tekadnya untuk mendapatkan hati Zena pun semakin kuat. Ia siap bersaing dengan sang Kakak.