Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Penolong



"Argh!"


Suara erangan kesakitan mengejutkan dua orang lainnya yang berjaga di dalam gedung tersebut. Mereka menoleh, terbelalak lebar saat melihat satu rekannya terkapar tanpa nyawa dengan sebuah anak panah menancap di tengkuknya.


Semua orang ketakutan, tak berani berbuat apapun selain diam dan menangis. Tak sedikit juga yang berekspresi terkejut, tapi sebisa mungkin membungkam mulut mereka.


"Siapa-"


"Argh!"


Tak sempat melanjutkan kalimat, dua anak panah melesat cepat dan menancap di dahi juga leher mereka. Keduanya ambruk tanpa nyawa, diam tak berkutik.


Mereka terperangah tak dapat menggerakkan lisan, kelu dan kaku seolah mati rasa. Di tengah keterkejutan semua orang, sesuatu yang hitam mendarat dari atas atap di dasar lantai gedung tersebut. Suara jeritan menggema, rasa takut kembali menyerang hati mereka.


Mirah dan Sarah beranjak berdiri, Ben beringsut membenarkan duduknya untuk dapat melihat siapa sosok itu.


"Mirah?"


"Sarah?"


"Mau apa kalian?"


Satu per satu dari mereka bertanya saat melihat kedua orang itu melangkah menuruni tangga ke dasar lantai. Menghampiri orang berpakaian serba hitam yang memunggungi mereka. Sebagian orang masih menatap ke atas di mana sosok itu datang. Jarak yang cukup jauh, tapi dia dapat meloncat dengan gesit.


Mirah dan Sarah tak menyahut, terus melangkah pelan semakin mendekati sosok yang berdiri tegak di dekat ketiga mayat penjahat itu.


"Zena?" Bibir Mirah bergumam menyebutkan nama teman mereka yang menghilang.


Zena tersentak mendengar suara dari belakang tubuhnya, dari kabar yang ia dengar ketiga temannya itu telah diantar pulang oleh prajurit Chendrik. Dengan cepat sosok itu berbalik, ia tak lagi mengenakan gaun hitam seperti sebelumnya. Zena membuka penutup wajah dan membiarkan sosoknya dikenali.


"Zena!"


Keduanya berhambur memeluk gadis itu dengan senang. Gadis dengan pakaian seksi, tapi membuatnya nampak gagah. Di punggungnya tersampir sebuah tabung berisi anak panah. Jangan lupakan samurai di tangannya yang berlumuran darah.


Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut membelalakkan mata mereka terkejut sekaligus takut karena sosok cantik itu sekarang menjelma selayaknya penjahat berdarah dingin.


Zena melepas pelukan, menatap kedua temannya dengan cemas.


"Kudengar kalian diantar pulang oleh prajurit Chendrik, kenapa masih di sini? Dan ... di mana Ben?"


Manik hitam itu berputar ke kanan dan kiri menatap bergantian dua orang yang terlihat cemas itu. Mirah bahkan menunduk sambil menggigit bibirnya.


"B-ben ... dia ...."


"Kenapa? Apa yang terjadi? Katakan padaku, apa yang telah terjadi?" tuntut Zena menegaskan tatapan matanya.


Semua yang melihat meneguk ludah, termasuk para guru. Mereka tidak percaya jika sosok polos dan lugu yang selama ini mereka lihat, menjelma menjadi sosok menyeramkan seperti saat ini.


"Ze-zena!" Suara Ben yang terbata, menyentak Zena.


Gadis itu cepat-cepat mendongak mencari sosok sahabat laki-lakinya. Zena mengernyit marah melihat Ben yang kesakitan. Gegas membawa kakinya berlari menuju ke arah laki-laki itu.


"Ben! Astaga! Apa yang terjadi?" pekik Zena seraya berjongkok dan meletakkan samurainya di samping tubuh.


"Dia tertembak, Zena," sahut salah satu siswa yang diselamatkan Ben.


Zena berbalik menatap semua orang, kecewa dan geram bercampur jadi satu.


"Lalu, kalian diam saja? Kenapa tidak mencoba menyelamatkannya?" bentak Zena berapi-api.


"Bagaimana kami melakukannya?" tanya seorang guru dengan kebingungan.


"Benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku tadi. Cepatlah, kita cari kotak itu. Pasti ada di ruang kesehatan," ucap salah satu guru seraya bergegas pergi ke ruang kesehatan di dalam gedung tersebut bersama tiga orang lainnya.


Zena menatap semua orang. "Jangan diam saja! Singkirkan ketiga mayat itu dari sana. Bersihkan jejaknya, buat seolah-olah mereka tak pernah ada. Bagi kalian yang mampu menggunakan senjata, ambil dan gunakan untuk melindungi kita semua!" perintah lanjutan dari Zena.


Guru laki-laki mengajak beberapa siswa laki-laki untuk melaksanakan perintah Zena. Mereka menyeret ketiga jasad itu dan menyembunyikannya di salah satu sudut yang tak terlihat. Siswa perempuan membersihkan jejak darah yang berceceran di lantai.


Sisanya menyembunyikan senjata mereka untuk berjaga-jaga. Selanjutnya kembali berkumpul seperti semula.


Zena perlahan-lahan membuka lilitan kain yang menutupi luka Ben. Siswa laki-laki itu meringis kesakitan, Zena terus membukanya sampai luka itu terlihat.


"Tahan, Ben! Ini akan sakit. Gunakan apa saja untuk menyumpal mulutnya agar suara jeritan tak terdengar," ucap Zena disaat melihat letak peluru itu bersarang.


Ben membuka pakaian, memasukannya ke dalam mulut menahan suara yang pasti akan keluar. Zena mengeluarkan belati kecil dari sepatunya, memberikan sedikit sayatan di dekat luka Ben untuk dapat mengeluarkan timah panas itu.


Ben menjerit tertahan, matanya terpejam erat. Keringat bercucuran deras di wajah. Bernapas tersengal-sengal, menahan segala rasa sakit yang mendera kakinya. Mirah dan Sarah menyemangati di samping laki-laki itu. Mereka berdua meringis ngeri, juga semua orang tak berani menatap apa yang Zena lakukan.


Ada yang berpaling, ada juga yang memejamkan mata, tapi tak sedikit juga yang penasaran dengan apa yang dilakukan gadis tersebut. Zena mengeluarkan peluru dari kaki Ben, dia mengerang, detik berikutnya terdiam dengan napas terputus-putus.


"Zena, ini ... argh!" Guru wanita yang datang memberikan kotak obat menjerit saat melihat luka Ben yang sedikit menganga dan sebuah peluru di dekat kakinya.


Zena tak acuh, ia mengeluarkan botol alkohol dan menyiramkannya pada luka Ben untuk membersihkan dari bekas darah yang mengering.


"Tahan, Ben!" ucap Zena pelan disaat Ben kembali menjerit dengan tubuh mengejang.


Zena membersihkan luka Ben tanpa segan menggunakan kasa steril.


"Ini harus dijahit, tapi aku tidak bisa menjahit. Semoga saja dapat menahan lukanya agar tidak terus menerus mengeluarkan darah," ucap Zena sambil terus membersihkan luka Ben hingga benar-benar bersih.


Ia memberikan obat luka sebelum menutupnya dengan kasa steril. Melilitkan kain tersebut menutupi luka dan menahannya menggumamkan plester.


"Setidaknya ini bisa meminimalisir infeksi pada lukanya," ucap Zena menyudahi pertolongan pertama pada Ben.


"Ben, apakah sakit?" Laki-laki itu mengangguk. Napasnya masih tersengal dan berat, peluh tak henti bercucuran di wajah, tapi setidaknya luka yang ia rasakan tak sesakit sebelumnya.


"Terima kasih," katanya parau usai melepas sumpal di mulutnya.


"Tidak, justru aku yang berterimakasih kepada kalian bertiga karena sifat keras kepala kalian, kita bisa menyelamatkan banyak siswa dan guru. Kalian benar-benar keras kepala!" Zena tersenyum haru, seraya memeluk ketiga sahabatnya.


Keadaan menjadi tenang sebentar, kehadiran Zena sedikit memberikan rasa lega di hati mereka. Ketakutan mulai menguap sedikit demi sedikit, mereka bahkan dapat mengobrol untuk mengusir rasa takut.


Zena bersiul, wajahnya menghadap langit menunggu sesuatu yang datang. Semua orang penasaran apa yang akan datang dari atas sana. Seekor burung terbang menukik melesat cepat masuk ke ruang tersebut dan hinggap di tangan Zena.


"Mata Elang!" pekik hampir separuh dari orang yang ada. Zena melirik, tapi tak mengatakan apapun. Ia menyelipkan selembar kertas di leher elang tersebut sebelum menerbangkannya.


"Apakah itu dari Mata Elang?" tanya seorang siswa yang berhambur mendekati Zena diikuti yang lain. Mereka berkumpul mengelilingi Zena termasuk para guru.


"Yah, bisa dikatakan begitu, tapi dia tidak bekerja untuk Mata Elang, melainkan untukku saja. Dia akan mengantarkan surat pada pemimpin markas untuk kembali melakukan penyerangan," jawab Zena menatap serius semua orang.


"Penyerangan lagi?"


"Yah, kita belum aman. Di luar sana tempat ini telah dikuasai para mafia, mereka menjadikan kalian sandera untuk memukul mundur markas. Jadi ... apakah kalian siap untuk melawan? Kita akan berjuang bersama-sama!" ucap Zena memberi semangat pada hati yang beberapa saat lalu dilanda rasa takut.


"Yah, kita harus bersiap untuk melawan. Ini sekolah kita, mereka tidak bisa menguasainya begitu saja!"


"Kami akan ikut berjuang bersamamu, Zena."


"Yah, kami juga akan ikut berjuang."


Satu per satu siswa dan guru yang ada membangkitkan semangat mereka yang meredup. Zena tersenyum puas.