
Suasana menjadi tegang setelah suara tinggi dan tegas Zena menggelegar. Kedua laki-laki itu terdiam tak berkutik. Mulut mereka terkunci rapat, duduk tenang meski saling membuang pandangan.
"Umh ... Zena, ke mana kau pergi saat pesta berlangsung? Kami mencarimu ke segala penjuru sekolah," tanya Mirah takut-takut. Chendrik melirik, penasaran juga ke mana gadis itu pergi.
Ada ragu di dalam hati Mirah saat bertanya tadi, tapi rasa penasaran membuatnya memberanikan diri untuk membuka mulut.
"Aku sendiri tidak tahu karena pada saat itu aku tak sadarkan diri," jawab Zena sambil menggeleng lemah.
"Apa setelah bertemu gadis itu?" Sarah teringat orang yang terakhir bertemu dengan Zena adalah Arabella.
Zena mengangkat alis tinggi-tinggi mendengar lengkingan suara Sarah.
"Yah, sebenarnya dia temanku, tapi aku sendiri tidak tahu kenapa dia bisa jadi seperti itu. Kau tahu, Chendrik? Mantan kekasihmu itu pengkhianat." Zena menatap geram sosok Chendrik yang nampak kebingungan, sudah dapat dipastikan jika laki-laki itu tidak mengetahuinya sama sekali.
"Saat itu Cheo diam-diam memberikan samurai padaku ketika kami berdansa. Aku tak mengira bocah itu membawanya, kupikir pastilah ada sesuatu yang mengasikkan jika samurai itu berada dekat denganku. Nyatanya ...."
Flashback.
Suara jeritan, tangisan, permohonan, cacian, dan segala hal lainnnya yang menjadi keributan di tempat itu jauh dari sekolah membangunkan Zena yang tak sadarkan diri. Ia tersentak, membuka mata perlahan.
"Di mana ini?" Pandangannya mengedar ke segala penjuru kamar. Tempat asing yang ia sendiri pun tak tahu di mana.
"Astaga! Apa aku diculik?" pekiknya pelan melirik tangan dan kakinya yang diikat dengan menggunakan tali.
"Samurai ku?" Zena tak abis pikir, hal pertama yang dia cari adalah samurai yang diberikan Cheo saat di pesta.
Zena bernapas lega saat menemukan benda itu tergeletak di atas sebuah lemari besar dalam ruangan yang sama. Ia mencoba beranjak, kepalanya pening terasa. Zena menarik tangan ke depan melepaskan ikatan yang melilit dengan cara menggigitnya. Lalu, ikatan pada kaki dan secepat kilat menyambar samurai di atas lemari. Menyembunyikan benda itu di bawah bantal sebelum berpura-pura tertidur.
Tali di kaki dan tangan ia ikatkan secara asal. Bunyi derap langkah dan suara-suara yang mengusik telinga, menyentak kesadaran Zena.
"Kau yakin dia di dalam?" tanya sebuah suara di luar pintu tersebut.
"Yah, dia di dalam dan dalam keadaan pingsan. Kau bisa menikmatinya sebelum dia terbangun. Selamat menikmati!" sahut suara perempuan yang amat dikenal Zena.
Dalam kepura-puraannya, Zena mengepalkan tangan berikut rahangnya yang mengeras.
Black Shadow? Jadi kau yang membawaku pergi. Kenapa aku bisa lengah? Sial!
Pintu terbuka, bunyi ketukan sepatu semakin jelas terdengar. Dari aroma yang dapat diciuminya, Zena tahu siapa yang datang. Hening.
Laki-laki itu berdiri di sisi ranjang, menyusul ranjang yang bergoyang tatkala ia mendudukinya. Zena mengumpat, tapi sebisa mungkin menahan dan membiarkan tangan lancang itu menyentuh pipinya.
"Kau cantik sekali, Zena, tapi kenapa kau mengabaikan aku? Padahal, aku begitu tertarik padamu. Mata-mata yang cantik, polos lagi ceroboh. Lihat, sekarang kau ada di sini terkurung tak sadarkan diri. Biar kunikmati tubuhmu yang indah ini."
Senyum iblis mencuat ke permukaan bibir. Rasa yang menggebu membuatnya tak sabar ingin segera mencicipi hidangan lezat di depan mata. Tenggorokannya mengering karena hasrat yang kian memuncak. Berkali-kali meneguk ludah guna membasahinya.
Dia beranjak, membuka jas juga kemeja yang dikenakan. Ranjang itu bergerak, tangannya dengan lancang membalik tubuh Zena sehingga terlentang. Dalam keadaan yang intens, wajahnya teramat dekat hingga udara yang berhembus menyentuh kulit Zena.
"Bibir ini pasti rasanya sangat manis, kau belum pernah memberikannya pada siapapun, bukan? Biar aku yang mencicipinya lebih dulu," ucapnya.
Zena mengumpat dalam hati, hawa yang menguasai dirinya membuat laki-laki itu lengah. Diam-diam tangan Zena terangkat dengan sebuah belati di tangan. Belati itu ditancapkannya tepat di leher laki-laki yang berniat jahat padanya.
Black Shadow mengerang sambil beranjak memegangi lehernya. Zena sigap menendang tubuh itu hingga terjungkal di lantai. Menyambar samurai, melompat turun menghunuskan benda itu tepat di depan wajahnya.
"Lancang sekali kau ingin mencicipi tubuhku! Siapa yang mengizinkanmu untuk menyentuhku?" geram Zena. Matanya berkilat penuh amarah. Menatap nyalang laki-laki lancang di depannya itu.
"Kau berada di sarang kami, Zena. Kau tak akan bisa melarikan diri dari sini," ucapnya dengan susah payah karena merasakan nyeri di bagian lehernya.
"Aku tidak peduli!"
Dash!
Tanpa menunggu lebih lama, Zena mengayunkan samurai di tangan menebas batang leher laki-laki yang menamai dirinya sebagai Black Shadow itu. Tak sempat menjerit, tak sempat berontak, kepala itu terpisah dengan cepat dari tubuhnya.
Zena membuka gaun pesta yang ia kenakan, membenarkan pakaian yang disembunyikan di dalamnya. Merobek kain sedikit untuk dijadikan sebagai penutup wajah. Ia mengikat tinggi rambutnya sebelum melangkah keluar sembari menyambar kepala itu. Suara riuh di gedung tersebut mengganggunya, ia yakin gedung itu terdiri dari dua lantai.
Kakinya terus berayun menyusuri lorong lantai dua bangunan tersebut. Mata tajamnya melirik pada sekelompok orang yang menyandera siswa perempuan yang mereka culik. Zena melempar kepala itu ke bawah, melayang dengan darah yang menetes dan jatuh tepat di hadapan orang-orang yang menyandera para gadis.
Mereka memekik, takut dan jijik bercampur jadi satu. Sebagian ada yang merasa mual dan muntah di tempat. Mereka mendongak ke lantai dua dan mendapati Zena berdiri di puncak tangga dengan samurai di tangan.
"Siapa kau?" tanya salah satu dari mereka. Senjata di tangannya ia arahkan pada gadis di puncak tangga tersebut.
"Siapapun aku kalian tak perlu tahu, yang pasti malam ini samurai di tanganku akan menghabisi kalian semua!" Langkah Zena mengetuk di anak tangga.
Setiap ketukannya memberikan ancaman kematian yang tidak main-main. Sebuah peluru dilesatkan membidik, gadis itu mengayunkan samurai menangkis hantaman mesiu yang meluncur cepat ke arahnya.
Bunyi dentingan keras dari timah panas yang beradu dengan samurai, membuat percikan api. Peluru itu menghantam dinding dan menancap cukup dalam.
Semua siswa menjerit ketakutan, mereka saling memeluk satu sama lain. Saling menguatkan dan melindungi. Zena terus melangkah sebelum melompat ke arah mereka sambil menebas kepala salah seorang.
Semua orang menahan napas melihat kepala itu terlepas dan berguling jauh sebelum menabrak dinding. Tak lama Sebastian datang dengan cara mendobrak pintu. Bukan kebetulan semata karena Sebastian memang mengikuti Black Shadow ke tempat itu.
Kolaborasi Zena dan Sebastian memporak-porandakan tempat tersebut. Mereka berdua membebaskan para siswa yang ditawan dan membawanya ke tempat aman. Tak ada siapapun lagi selain mayat Black Shadow dan antek-anteknya.
Sebastian menyiramkan minyak dan menyulut api membakar bangunan tersebut. Ia sendiri tidak percaya akan bertemu Zena di tempat itu.
"Zena!" Tanpa sadar memeluk gadis itu saking leganya.
*****
"Kau memeluknya!" hardik Chendrik tidak terima.
"Mulai lagi!"