Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Ibu!



"Jadi seperti itu ceritanya ... sungguh perjuangan yang panjang untukmu dalam menyelamatkan anak itu, Zena. Kau memang benar-benar luar biasa," puji Sebastian sesaat setelah mendengar cerita perjuangan Zena menyelamatkan Cheo sewaktu bayi.


Bertambah kagum dirinya pada gadis yang duduk tenang di sofa ruang kerja Chendrik. Berkali-kali ia menghela napas saat mengulang kembali cerita mengerikan malam itu. Chendrik sendiri tak melepaskan pandangannya dari sosok Zena. Pandangan yang sulit untuk diartikan.


Di sisi lain, Adhikari terdiam berdiri sambil menopang dagu memandang Zena yang baru saja menyelesaikan kisahnya.


"Lalu, bagaimana kalian bisa selamat?" tanya Adhikari sesaat setelah ia bungkam karena fokus mendengarkan.


Zena mendongak, pandanganya sulit diartikan. Ada kesedihan, ketakutan, kecemasan juga kebahagiaan berpadu jadi satu. Ia kembali menunduk melanjutkan kisah pedih sepuluh tahun yang lalu.


"Kami bersembunyi di dalam kabut karena ketika dini hari tiba, laut di pulau Laes akan tertutup kabut tebal. Paman Okk mematikan mesin juga lampu yang menjadi penerang. Kabut itu cukup membantu kami bersembunyi dari kepungan mereka, tapi juga sangat berbahaya bagi pelaut seperti Paman Okk. Perahu kami bisa saja bertabrakan dengan perahu lain jika saja tak ada lampu yang menjadi tanda adanya perahu." Zena menghela napas lagi.


Suaranya bergetar, membayangkan saat tangis bayi Cheo menggelegar di tengah lautan sementara para penjahat sedang mengejar. Ketakutan muncul kembali di hatinya meski peristiwa itu telah berlalu sepuluh tahun lamanya.


"Aku ketakutan saat itu, benar-benar takut. Tak ada siapapun di sisiku selain laki-laki nelayan itu. Aku kira aku akan tertangkap dan mati oleh senjata mereka saat bayi Cheo menangis hebat di tengah laut. Aku bingung dan tak tahu harus apa, Cheo terus saja menangis. Kalian bisa membayangkan, gadis belia berusia tiga belas tahun yang tak tahu apa-apa dihadapkan pada bahaya yang sangat besar. Mungkin aku hanya beruntung saja saat itu karena kami menemukan sebotol susu di dalam tas." Zena hampir menangis saat menceritakan bagian itu.


Bagaimana tidak, panik luar biasa dikejar penjahat, mati-matian melarikan diri, dan hampir selamat. Tiba-tiba saja, bayi itu menangis hebat. Mengusik telinga mereka yang mendengar.


"Benarkah? Aku dapat membayangkan keadaanmu seperti apa saat itu, Zena. Jika itu orang lain, mungkin saja mereka sudah menyerah, tapi kau tidak. Kau tetap memperjuangkan bayi itu sampai saat ini. Bagaimana lagi aku harus memujimu?" ungkap Sebastian benar-benar tak menemukan kata yang tepat sebagai pujian untuk Zena.


Adhikari mengangguk setuju dengan apa yang dinyatakan Sebastian. Bertambah tekad dalam hatinya, sekalipun harus bersaing dengan sang Kakak Sebastian tak akan menyerah sampai Zena sendiri yang memutuskan.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa? Terima kasih dan permintaan maaf saja rasanya tidak cukup bahkan jika seluruh harta ini kuserahkan padamu, itu masih belum juga cukup untuk menebus semua yang telah kau lakukan dalam menyelamatkan Cheo." Setelah beberapa saat bungkam, Chendrik akhirnya angkat bicara.


Benar, tak ada siapapun yang mau dihadapkan dengan bahaya, tapi Zena berbeda. Dia justru memperjuangkan seseorang yang sama sekali tak dikenalnya. Hanya dia yang berhati suci dan mulia yang akan melakukan segalanya untuk kemanusiaan.


"Tak perlu, aku tidak membutuhkannya. Sudah bisa mengisi perut tanpa memanggul barang belanjaan seseorang saja, aku sudah sangat bersyukur. Itu sudah cukup bagiku, aku tidak menginginkan lebih lagi," ucap Zena sembari menormalkan perasannya dari rasa sedih dan takut.


Semua itu sudah berlalu, bayi itu juga kini telah tumbuh hebat sama seperti dirinya. Tak ada lagi yang perlu dia takutkan, selain pengkhianatan dari orang yang amat dikenalnya. Itu saja.


"Kau memang berbeda, Zena. Kau ... ah, bagaimana mengatakannya?" Sebastian melipat bibir gugup. Ia tak dapat menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa dalam dirinya.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku mengasuh Cheo bersama Tigris. Percaya atau tidak kalian, tapi setiap hari bayi merah itu diasuh Tigris dan aku pergi bekerja. Sampai-sampai Cheo mengerti apa yang diucapkan hewan itu." Zena melipat kedua tangan di perut sambil menyandarkan punggung.


"Kau membuat kesalahan, Chendrik. Kau hampir saja membunuh hewan yang sangat berjasa dalam menjaga dan melindungi anakmu. Tigris tidaklah buas, dia sangat patuh kepada Cheo karena menganggapnya sebagai anak. Tigris bahkan rela mengorbankan dirinya agar Cheo tidak terluka."


Lagi-lagi kalimat Zena membuat mereka terkejut. Terutama Chendrik, ia sangat menyesal dan merasa bersalah karena telah mengirimkan satu pasukannya untuk menangkap Tigris beberapa waktu lalu. Pantas saja Cheo berani menantangnya waktu itu.


"Aku menyesal."


"Kau memang pantas menyesal."


Chendrik menundukkan kepala dalam-dalam, Sebastian dan Adhikari memandang iba pada laki-laki yang telah ceroboh dalam memberi perintah itu.


"Sudahlah, besok aku minta kalian berpura-puralah tidak mengenalku. Aku tidak ingin penyamaranku sampai terungkap hanya karena sikap kalian yang kekanakan." Zena beranjak cepat. Ia berjalan keluar ruang kerja Chendrik berniat kembali ke kamarnya.


Namun, sesuatu membuatnya mematung di ambang pintu, sosok Cheo berdiri di sana dan menatapnya penuh arti.


"Ibu!" Bocah sepuluh tahun itu berhambur ke dalam pelukan Zena. Menangis tanpa suara, hanya tubuhnya saja yang bergetar hebat. Ketiga laki-laki di dalam sana, serentak menoleh dan terkejut melihat Cheo sedang memeluk Zena sambil menangis.


Chendrik membuang wajah merasa bersalah sekaligus menyesali semua yang telah ia lakukan. Teringat kembali saat ia dengan tega mengusir Zena dari mansion nya. Memisahkan Cheo dari wanita yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya itu.


Pantaslah Cheo membencinya, butuh perjuangan keras dan waktu yang lama untuknya dapat mengambil hati anak itu. Itupun karena bantuan Zena, gadis yang ia anggap tak layak mengasuh putranya dulu.


"Cheo!" Zena mengusap kepala anak itu dengan lembut. Ia melepas kedua tangannya yang melingkar erat, seraya berjongkok mengusap air mata Cheo.


Bocah itu menunduk dalam-dalam, tak ingin menunjukkan air matanya di depan Zena. Ia harus tangguh, tidak boleh cengeng, harus bisa membela Zena saat gadis itu terluka.


"Kau mendengar semuanya?" Kepalanya mengangguk lemah. Zena menghela napas sebelum memeluk tubuhnya. Tangan kecil Cheo kembali melingkar erat.


Kepala Zena menoleh ke dalam ruangan, pandangan keduanya sama. Pandangan penuh haru, kecuali Chendrik yang terus menundukkan kepala. Zena mengangkat tubuh kecil itu dalam gendongan, dan berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang kerja Chendrik. Cheo menjatuhkan kepala nyaman di pundak kokoh Zena.


Sekali lagi Zena menghela napas saat mendapat tatapan tajam sekaligus mencibir dari wanita tua yang berdiri di pintu kamarnya.


"Gadis murahan." Zena memejamkan mata geram.