Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Anakmu?



Acara berlangsung lancar tanpa hambatan. Cheo lulus dengan nilai terbaik ketiga. Pencapaian yang luar biasa bagi seorang anak yang hanya beberapa bulan saja duduk di bangku sekolah.


"Kau harus melanjutkan sekolah, usiamu masih sangat muda sayang jika tak melanjutkan pendidikan," nasihat Zena sembari merangkul bahu Cheo berjalan keluar gedung.


"Aku akan bersekolah setelah Kakak menetap di rumah dan tidak pergi ke mana pun. Selama Kakak masih berpetualang aku tidak akan tinggal diam di rumah karena ke mana pun Kakak pergi aku akan selalu ikut," jawab Cheo dengan tegas.


Zena mengernyit, Chendrik dan kedua orang tua angkat Zena melangkah di belakang mereka sambil berbincang.


"Kenapa?" Gadis itu bertanya.


"Karena jika tak ada Kakak, rumah itu terasa sangat membosankan," sahut Cheo. Wajahnya mengernyit meyakinkan. Zena mengangkat sebelah alis, berikutnya ia menggeleng sambil menghendikan bahu.


Langkah mereka berlanjut menyusuri lorong sekolah menuju parkiran. Bersama semua tamu undangan, yang mengenal mereka tentu saja akan menyapa menunjukan rasa hormat mereka kepada sang pemimpin markas.


"Hei!" Seseorang menarik tangan Cheo secara tiba-tiba sehingga pegangan mereka terlepas. Zena tersentak, seraya menoleh dengan kedua alis yang terangkat tinggi-tinggi.


"Kau? Kenapa menarik tangan anakku dengan kasar?" hardik Zena. Bola matanya melotot lebar nyaris melompat dari tempatnya.


Sigap, tangannya terayun menarik tubuh Cheo ke dalam pelukannya. Satu kali hentakan, Cheo terlepas dari cengkeraman Clarissa. Bocah itu tidak terlihat polos seperti anak yang lainnya.


Clarissa mendelik tak senang, mulutnya terbuka sedikit merasa kesal dengan sikap Zena yang mengakui Cheo sebagai anaknya.


"Anakmu? Dia putraku! Aku yang telah mengandungnya, aku yang telah melahirkannya. Seenaknya saja kau mengatakan dia anakmu. Gadis angkuh, tak tahu diri, hanya datang dari pulau saja tingkahmu sudah selangit-"


"Hentikan! Apa yang kau lakukan padanya?" Chendrik datang menengahi.


Ia bersama dokter Adhikari dan istri melihat geram wanita berpenampilan glamor tersebut.


"Apa? Aku hanya ingin mengambil anakku sendiri, tapi wanita itu menghalangi. Dia bahkan mengakuinya sebagai anak, jelas-jelas aku yang melahirkannya bukan dia!" Suara wanita itu meninggi tak terima Cheo diakui anak oleh wanita lain.


"Anakmu? Anak yang mana maksudmu? Aku tidak mengerti," sarkas Chendrik sembari mendekat ke arah Zena dan Cheo. Berdiri melindungi keduanya dari serangan wanita iblis itu.


"Tentu saja dia! Dia anakku. Kau jangan berpura-pura menyangkal, Chendrik. Aku bisa menggugatmu ke pengadilan," ancam Clarissa tidak main-main. Tangannya menunjuk Cheo lurus.


Chendrik terkekeh geli, merasa lucu dengan ancaman yang dilontarkan Clarisa untuknya.


"Pengadilan? Bukankah kau yang seharunya takut untuk menginjakkan kaki di tempat itu?" Chendrik berdecak sambil menggelengkan kepala.


Clarissa semakin geram dibuatnya, ia tidak tahan dengan sikap Chendrik dan yang lainnya terlebih saat melihat manusia lain ikut menyaksikan keributan yang mereka buat.


"Kenapa aku harus takut? Aku tidak bersalah, kalianlah yang bersalah memisahkan seorang Ibu dari anaknya. Kalian orang-orang yang tidak memiliki perasaan," ucapnya hampir menangis.


Wajahnya memerah dan ada air yang menggenang di pelupuk mata itu. Bulir itu jatuh mendramatisir keadaan yang sebenarnya. Zena serba salah sendiri, ia tak ingin dianggap sebagai wanita pencuri.


Ia berdiri di hadapan Zena menatap manik biru Clarissa. Bibir merah itu terbuka, wajahnya berubah jelek. Tak percaya jika anak itu akan berani berkata lantang.


"K-kau ... pasti wanita pulau itu yang telah mendidikmu untuk bersikap kurang ajar kepada Ibumu sendiri. Kalian telah mencuci otaknya hingga dia melupakan aku sebagai ibunya dan bahkan menganggapku sebagai pembunuh," ucap Clarissa sedih.


Ia menangis sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Tersedu sedan seperti orang yang tertindas dan lemah. Riuh suara manusia terdengar menjelekkan Zena, mendukung yang dilakukan Clarissa mengambil kembali anaknya.


"Kau juga wanita, bukan? Kenapa kau jahat seperti itu? Lihatlah, kau tidak merasa kasihan padanya?"


"Berikan saja anak itu pada ibunya, aku tidak percaya akan ada wanita yang jahat seperti itu. Memisahkan seorang Ibu dari anaknya."


"Wajahnya cantik, tapi ternyata dia iblis yang bersembunyi di balik kecantikannya itu."


Satu per satu kalimat cemoohan menjejali telinga Chendrik dan yang lainnya. Ia geram, menghadap semua manusia yang menonton dengan geram. Zena tertunduk, ternyata hukum di masyarakat itu sangat kejam. Mereka tidak menyerang fisik, tapi menghancurkan mental seseorang.


Adhikari dan Cana terlihat bingung, tapi Clarissa tersenyum licik dalam tangisnya.


"Kau adalah orang besar, Tuan. Bagaimana mungkin tega berbuat kejam seperti ini?" Seorang warga menuding Chendrik dengan tatapan menyalahkan. Baru saja dia menyapa dengan sopan, sekarang sudah seperti memusuhinya.


Cheo mengepalkan kedua tangan dengan marah. Matanya memerah, dia ingin mengamuk sekarang, tapi mereka hanya orang-orang lemah yang tidak tahu apapun tentang kehidupannya.


"Aku dilarikan Kakek dari rumah sakit ketika baru saja keluar menyapa dunia. Aku bahkan belum sempat melihat wajah wanita yang telah melahirkan aku itu, tapi dia menyuruh Black Shadow dan anak buahnya untuk membunuhku. Lalu, Kakek bertemu dengan seorang gadis belia dan menitipkan bayi malang itu padanya."


Cheo mendongak menatap wajah Zena yang memerah hampir menangis, sedangkan Clarissa mulai memelankan suara tangisnya.


"Gadis itu membawaku lari mempertaruhkan nyawanya sendiri. Membawaku pergi ke pulau di mana dia tinggal, pulau yang damai, aman, dan menyenangkan. Merawatku dengan cinta dan kasih sayang, mengajariku banyak hal bahkan dia melatihku untuk menjadi kuat dan mampu membela diriku sendiri," lanjut Cheo tak memalingkan wajahnya dari Zena.


Desas-desus manusia pun mulai mereda, mendengarkan dengan saksama kisah seorang anak kecil.


"Dari semenjak itu, gadis tersebut menjadi Ibuku. Walaupun aku tidak terlahir dari rahimnya, tapi dia Ibuku. Aku tidak ingin Ibu yang lain, aku hanya ingin ibu Zena yang menjadi Ibuku," pungkas Cheo sembari melingkarkan tangan pada tubuh Zena.


Tangan gadis itu terangkat, membelai wajah gembil Cheo sebelum mendekapnya. Benar, mereka memiliki ikatan batin meskipun tidak sedarah.


Chendrik tersenyum, begitu pula Adhikari dan istrinya. Puas mendengar penuturan Cheo yang tak segan membuka tabir tentang dirinya.


Clarissa masih menangis, air matanya tak henti turun dan menjatuhi pipi. Namun, mereka tak ingin berdiam diri lebih lama di tempat itu. Chendrik mengajak Cheo dan Zena pergi diikuti Adhikari dan Cana.


"Tak ada Ibu yang tega membunuh anak yang baru dilahirkannya, kecuali dia sudah gila!" Cana menatap tajam Clarissa sebelum memalingkan wajah dengan bengis. Menyusul Chendrik dan Zena yang sudah lebih dulu meninggalkan gedung sekolah.


Semua orang ikut membubarkan diri sambil melontarkan cemoohan untuk Clarissa. Keadaan berubah seketika, berbalik menyerang dirinya. Ia mengepalkan tangan erat, mengancam Zena dalam hati. Berbalik diikuti dua orang laki-laki yang mengekor di belakangnya.


"Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan padamu, gadis jelek!"