
"Arabella!" Seorang gadis yang sedang berdiri di balkon kamar terhentak kaget. Ia berbalik dan mendapati Ibu Chendrik berjalan di dalam kamarnya.
"Tante?" Dahinya berkerut, ia melepas lipatan tangannya di perut menunggu tak beranjak di tempatnya berdiri.
"Ada apa denganmu? Sejak datang dari perbatasan, kau tak banyak lagi bicara. Terus diam bahkan seolah-olah tak acuh pada sekitarmu. Ada apa, sayang? Mau cerita kepada Tante?" tanya Ibu Chendrik penuh perhatian.
Tangan tuanya mengusap bahu gadis itu dengan lembut. Daripada Zena, dia menginginkan Arabella menjadi istri dari salah satu putranya. Gadis itu mendesah sebelum berbalik menghadap halaman mansion. Mengawasi Zena dan kedua Kakak beradik di bawah sana yang nampak berbincang serius.
"Aku hanya tidak habis pikir, Chendrik dan Sebastian ... mereka berdua akan bersaing untuk mendapatkan gadis pulau itu. Apa kurangnya aku? Bahkan beberapa Minggu bersama pun di perbatasan, Sebastian selalu mengoceh tentang gadis itu."
Pandangannya sendu, tapi berkilat penuh dendam. Ada tekad, tapi tak kuasa melawan. Secara fisik, Zena memang terlalu kuat untuk ditumbangkan, tapi masalah hati tak ada yang tahu jika dia terlalu polos.
"Masalah itu, ya? Mmm ... kau mau mendengar saran Tante?" Ibu berjalan dan berdiri di sisinya, sama-sama memandang ke bawah di mana tiga orang itu masih berdiri di dekat motor Zena. Kini, ditambah Cheo yang duduk anteng di atasnya.
"Katakan saja, Tante. Aku tidak akan menolak," katanya tanpa berpaling wajah kepada lawan bicara.
Ibu Chendrik menghela napas, ia pun jengah melihat keduanya seolah-olah menjadi bodoh karena perasaan mereka kepada gadis urakan itu.
"Tante sarankan, pilih salah satu dari mereka dan fokuskan perasaanmu padanya. Terus kejar tanpa memberi kesempatan pada gadis itu menikung laki-laki yang kau targetkan. Jika Sebastian, beri perhatian sesuai yang dia inginkan."
"Jika Chendrik, dia terlalu kaku dan dingin tidak peka terhadap perasaan seseorang. Kau harus mencari cara untuk mendapatkan simpatinya. Cheo, adalah kelemahannya. Gunakan dia untuk menarik perhatian Chendrik." Ibu menoleh sambil tersenyum menyambut tatapan hampa Arabella. Maniknya memancarkan keputusasaan, tak ada tempatnya untuk mengadu.
"Tidak apa, Ara. Kau pikirkan saja dulu ke mana hatimu memilih?" katanya lagi sambil menepuk lembut pundak Arabella. Gadis itu bergeming, belum menyahut sama sekali. Mulutnya terkunci rapat, pandangannya sulit diartikan.
"Baiklah. Gunakan waktumu sebaik mungkin, dan jangan berlama-lama dalam berpikir. Cepat buat keputusan. Jika kau mengalami kesulitan jangan segan untuk datang pada Tante." Ibu memberikan senyum hangat sebelum beranjak meninggalkannya.
Arabella tercenung, kepalanya tertunduk mengulang kembali kalimat yang diucapkan wanita tua itu. Hatinya bertekad, mengambil keputusan dan mulai menyusun rencana. Suara deru motor mengalihkan pandangannya dari lantai balkon itu. Zena telah pergi bersama Cheo, menyisakan Chendrik dan Sebastian yang nampak berbincang.
"Apa maksudmu, Bas, membuatkan Zena sarapan seperti tadi?" sengit Chendrik setelah gadis itu melesat dengan motornya.
Sebastian berpaling, tekad di wajahnya tak surut mendengar pertanyaan tajam dari sang Kakak.
"Apa, Kak? Aku hanya mengabulkan keinginan mereka saja. Mereka begitu ingin memakan daging asap seperti saat di pulau. Apa Kakak tidak lihat, Zena ... mmm, Cheo maksudku makan begitu lahap?" sahut Sebastian dengan gugup, tapi tersenyum jenaka menggoda sang Kakak.
"Alasan, katakan saja jika kau juga mencintai Zena dan mengincarnya," sungut pemimpin markas itu menuding dengan tajam. Tak pandang dia itu adalah adik kandungnya sendiri.
Sebastian terkekeh, Chendrik berdecak kesal karenanya.
"Jadi, kau memang mencintainya, Kak? Kau harus bergerak cepat, Kak, karena apa yang kau katakan memang benar. Aku sedang mengincar Zena," tandas Sebastian sambil berbalik meninggalkan Chendrik dengan tatapan tajamnya.
"Awas saja kau, Bas. Sampai melakukan kecurangan, aku tak akan segan terhadapmu," ancam Chendrik.
Cinta memang gila, membuat dua saudara kandung bersaing dengan sengit dan saling mengancam satu sama lain.
Chendrik melengos memasuki mobilnya, melaju menyusul Zena ke sekolah. Hari ini, mereka akan memberi materi kepada murid kelas akhir sebagai bekal ujian nanti. Latihan menembak dan memanah akan dibimbing Chendrik langsung. Latihan kebugaran akan dibimbing Sebastian, dan berkuda akan dibimbing laki-laki asing itu. Masing-masing memiliki tugas dan kewajiban yang harus dijalankan selama masa latihan.
"Ah, sial! Menembak dan memanah? Zena adalah ahlinya. Kenapa tidak berkuda saja? Aku yakin Zena tidak tahu caranya berkuda," gerutu Chendrik memukul setir mobil dengan kesal.
Membayangkan Zena yang menunggang kuda dengan laki-laki itu, membuat darahnya berdesir hebat. Hatinya memanas, tidak terima gadis itu harus bersentuhan dengan orang lain.
Di sisi lain, Sebastian nampak ceria dan bersemangat. Ia menghidupkan mesin motornya, dan menyusul Zena sambil bersenandung riang.
Juga dia yang berada di atap sekolah, berdiri sambil memasang teropong mengawasi setiap siswa yang masuk melintasi gerbang sekolah. Mencari sosok cantik yang belakangan mengganggu pikirannya. Sampai-sampai ia yang kabarnya tak pernah turun dari atap, harus turun demi untuk melihatnya setiap saat.
"Ah, itu dia!" gumamnya mempertajam penglihatan saat motor Zena melintas di gerbang dan terus ke parkiran.
"Dia cantik sekali, seksi dan menarik ... aw!"
Dia memekik sambil menjauhkan teropong dari mata saat sebuah kerikil menghantam pelipisnya.
"Sial! Siapa yang sudah berani melemparku?" umpatnya setelah menemukan kerikil kecil yang berhasil membuat kepalanya berdenyut nyeri. Buru-buru ia memasang kembali teropong itu tak ingin kehilangan jejak Zena. Sungguh sayang, sosoknya telah menghilang dari pandangan.
"Brengsek! Hilang sudah." Ia menjatuhkan diri di lantai atap. Mengacak gemas rambutnya sendiri. Berikutnya, ia tersenyum mesum.
"Rasakan! Kau pikir aku tidak tahu sedang diawasi? Hmm ... aku yakin kau pasti mengaduh kesakitan." Zena tertawa cekikikan.
Ketiga temannya yang melihat di kejauhan terbengong heran.
"Zena! Kau tak apa?" Langkah Zena terhenti, alisnya terangkat tinggi karena terkejut mendengar suara teguran yang tiba-tiba.
"Kalian membuat jantungku melompat mau keluar. Kenapa bertanya tiba-tiba?" sungut Zena sambil mengusap-usap dadanya yang masih berdebar-debar.
Mirah dan Sarah tertawa, tapi tidak dengan Ben. Ia nampak gelisah dan cemas, entah apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini.
"Maaf, maaf. Lagipula kenapa kau tersenyum-senyum sendiri? Kami pikir kau sedang tidak baik," ucap Mirah disambut tawa darinya dan Sarah.
"Sialan kalian. Lain kali jangan seperti itu. Aku senang karena baru saja mengerjai seseorang."
"Seperti itu saja?" Mata Sarah membulat.
"Iya, memangnya kenapa?" Zena mengernyit bingung.
"Kukira kau sedang jatuh cinta atau dilamar salah satu dari tiga laki-laki yang terus menatapmu sepanjang acara kemarin," goda Mirah.
"Cih ... kenal saja tidak. Dilamar apanya? Memangnya pekerjaan ada lamar-melamar. Kalian ini ada-ada saja," gumam Zena sambil menggelengkan kepalanya.
"Setidaknya kau pernah bertemu salah satunya." Sarah menyenggol bahu Zena.
Tak hanya satu bahkan ketiganya aku pernah bertemu, dua orang tinggal di lingkungan yang sama. Sialnya! Awas saja mereka membuat ulah!
"Ben, kau tak apa?" Zena menyadari ada yang salah dari remaja laki-laki di sampingnya. Ia nampak gelisah, seolah-olah ada yang menggangu hati dan pikirannya.
"Mmm ... aku sedang mencemaskan saudaraku yang berada di desa Hulu."
"Desa Hulu? Di mana?"