Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Serangan Balik



"I-itu ...."


Kalimatnya menggantung di ujung lidah, tenggorokan tercekat, saliva yang diteguknya bagai bola-bola berduri yang menusuk. Terasa sakit dan sesak, untuk bernapas saja ia kesulitan.


"Kau tahu sekarang siapa yang sudah kau singgung? Patutlah kau merasa takut sekarang, dan bersyukurlah jika Kakak tidak sampai menghukummu," sarkas Cheo sembari menyunggingkan senyum sinis mengancam.


Laki-laki bergelar komandan itu mulai gelisah. Resah dan gundah gulana melanda hatinya, keringat dingin bercucuran, tangan dan kaki bergetar mengikuti irama getar dalam dada.


Mati aku! Bagaimana mungkin aku bisa menyingung orang besar sepertinya?


Dia mengumpati diri sendiri, merasa bodoh seketika terutama saat Zena tertawa setelah ia memerintah untuk memasak dan merawat yang terluka. Tangannya dikepalkan berkali-kali menghilangkan lembab karena keringat yang membasahi. Dia benar-benar malu sekarang dan diambang kematian. Kedua bola matanya bergerak kian kemari, berpikir mencari-cari alasan yang akan diterima akal.


Cheo yang melihatnya bagai seorang pecundang, menerbitkan senyum ejekan. Ia menaruh kembali samurai Zena dengan hati-hati di atas tangan Sebastian. Berdiri dari duduk tak berniat ada di perkumpulan tersebut. Tigris muncul dari balik pintu, rupanya hewan itu mengawasi sejak tadi. Seolah-olah memiliki pemikiran seperti manusia, mata keemasan miliknya menatap tajam komandan dari markas tentara itu. Ketakutan semakin meraja di hatinya.


Tak berselang lama, Zena muncul dengan pakaian yang tak jauh beda dari sebelumnya. Traning panjang hitam, dipadu kaos polos berwarna senada yang pas di tubuhnya. Rambut basahnya dibiarkan tergerai, kecantikan alami memancar dari sosoknya.


Melihat Cheo dan Tigris berada di luar, ia mengurungkan niatnya untuk masuk. Mencari sebuah pohon untuk berteduh, menikmati sepoi angin seperti saat di pulau. Sayang, angin di kota tak lagi terasa segar. Bercampur polusi udara yang terkadang menimbulkan rasa mual yang bergejolak.


"Angin di sini tidak sesegar telaga di pulau," gumam Cheo asal sembari terus berjalan mendekati pohon yang sempat dia singgahi tadi.


"Hanya ada satu pohon di lingkungan sebesar ini, sangat-sangat disayangkan. Kenapa tidak ditanami saja lahan-lahan kosong yang di sana dari pada menganggur seperti itu," ucap Zena menatap miris lingkungan gudang yang sangat luas itu. Hanya ada satu pohon yang tumbuh besar dan tinggi.


Keduanya duduk di bawah daunnya yang rindang. Tak perlu cemas pakaian akan kotor karena yang mereka pijak bukan lagi tanah.


"Kakak, apa semua penduduk di kota Elang ini mengenal Kakek dan Nenek?" tanya Cheo melempar lirikan pada Zena yang menyandarkan tubuh di batang pohon tersebut.


"Kakak tidak tahu karena Kakak juga baru di kota ini, dan semua penduduk tidak ada yang mengenal Kakak kecuali orang-orang di markas," jawab Zena tanpa membuka matanya yang terpejam.


Cheo merebahkan diri di pangkuannya, refleks tangan gadis itu menyapu lembut rambutnya. Ia membuka mata memandang Cheo yang terus terpejam dengan nyaman.


"Kau tidak mengkhawatirkan ayahmu? Mereka bilang dia menjadi tawanan," tanya Zena menilik riak wajah bocah di pangkuannya.


Cheo membuka mata, mematrinya pada manik kelam Zena. Dadanya bergerak secara lamban, naik dan turun seirama dengan tarikan napas.


"Aku sangat mengkhawatirkan Ayah, Kak. Bagaimanapun juga, aku tak akan pernah ada di dunia ini jika bukan karena dirinya. Aku ingin segera membebaskan Ayah. Selama ini Ayah sudah baik terhadapku, sangat sabar dengan penolakanku, aku ingin meminta maaf kepada Ayah," ungkap Cheo melankolis.


Hati Zena terenyuh, ada rasa yang tersentil membuat sisi lain hatinya merasa sakit. Namun, apapun itu, yang diucapkan Cheo semuanya benar. Chendrik harus rela menunggu beberapa lama untuk diterima sebagai Ayah oleh anak kandungnya sendiri. Ia tak menampik, hatinya tentu saja merindukan si buah hati meskipun tak diharapkan kehadirannya oleh sang mantan istri.


"Kenapa kau mengatakan hal yang membuat Kakak sedih? Kita akan sama-sama membebaskan Ayahmu dari mereka. Tak hanya Ayahmu, tapi markas Mata Elang milik kita juga akan kita bebaskan dari orang-orang biadab itu," sahut Zena menatap yakin manik coklat Cheo yang berbinar.


Bocah itu mengangguk setuju, tekad membulat dalam jiwa mereka. Malam ini, serangan balik akan mereka lakukan dengan atau tanpa bantuan dari komandan militer yang angkuh itu.


Sebastian menyusul Zena, diskusi tentang serangan balik yang akan mereka lakukan harus dilanjutkan. Ia melangkah dengan pelan dan segan, khawatir mengganggu waktu tenang Zena bersama Cheo di bawah pohon tersebut.


"Zena?" tegur Sebastian takut-takut. Pegangannya mengerat pada dua benda pusaka milik Zena yang dititipkan padanya.


"Terima kasih, Bas," ucap Zena seraya menerima busur dan samurai darinya.


"Tidak masalah, tapi apakah tidak sebaiknya kita melanjutkan diskusi? Malam hampir datang, dan kita belum menentukan rencana penyerangan." Sebastian menggigit daging dalam bibirnya, menahan gugup yang tiba-tiba melanda hatinya. Padahal dia hanya seorang Zena yang dulu sempat akan ia lecehkan.


Zena melirik, pancaran rasa kesal masih jelas terlihat di maniknya. Namun demikian, strategi penyerangan harus segera ditentukan.


"Baiklah. Ayo, Cheo. Kita harus mencari strategi yang tepat untuk melakukan serangan balik," ajak Zena.


Cheo beranjak, tanpa menolak pergi bersama Zena ke perkumpulan yang membosankan itu. Laki-laki berkumis tebal di sana yang tak ingin Cheo lihat, wajahnya sangat memuakkan untuk dilihat. Tigris ikut dalam rombongan itu. Kedatangan Zena membuat suasana menjadi tegang seketika.


Laki-laki berkumis tebal itu memucat, Zena mengernyit heran. Perubahan yang luar biasa. Ia duduk berdampingan dengan Cheo dan Tigris. Hewan besar itu nampak nyaman menyenderkan kepalanya di tubuh Zena. Hal itu menambah ketakutan di dalam diri sang komandan.


"Aku mau, para tentara membebaskan pemimpin dan para menteri dari tawanan mereka. Masalah markas Mata Elang, aku dan pasukanku yang akan membereskannya. Fokuskan penyerangan kalian ke gedung pemerintahan yang diduduki para mafia. Jangan turut campur dengan urusan markas kami," tegas Zena serius.


Sang komandan tak berkutik, menjawab pun tidak. Ia gelisah memikirkan nasibnya yang harus bersiap menerima hukuman karena kelancangannya.


"Baik, Master!" sambut mereka serentak.


"Master?" Zena semakin mengernyit tidak mengerti. Sejak kapan para tentara itu memanggil dirinya master?


"Mmm ... tolong maafkan kami, Master. Kami benar-benar menyesal dengan tindakan kami yang tidak sopan terhadap Anda," ucap salah satu tentara sambil menundukkan kepala.


Zena melirik Cheo, bocah itu tak beriak sama sekali. Tetap datar tanpa ekspresi. Lalu, pandangannya beralih pada Sebastian yang mengulas senyum puas. Dia mengerti sekarang, karena dua benda yang dibawanya menguak identitas sebenarnya Zena.


"Baiklah. Tidak masalah, lain waktu janganlah memandang rendah seseorang dari luarnya saja. Kenali dulu, barulah kalian bisa menilai," nasihat bijak dari Zena membuat mereka sadar sesadar-sadarnya.


Sebagai tentara, petugas keamanan paling tinggi posisinya di negara, mereka merasa paling baik dan paling terhormat dari kalangan masyarakat lainnya. Memandang rendah semua orang bahkan menyepelekan kekuatan yang terpendam dalam diri orang yang mereka anggap rendah itu.


"Baik, Master. Terima kasih atas nasihat yang Anda berikan. Mulai sekarang, kami akan lebih berhati-hati lagi," ucap mereka yang diaminkan oleh sang komandan.


Dia telah kehilangan muka di depan Zena, terus menunduk selama diskusi berjalan. Namun, gadis itu tak acuh, terus berbicara tanpa berniat menegurnya. Jadilah malam nanti mereka akan bergerak bersamaan menuju pusat kota, sedangkan Zena dan dua pasukannya akan pergi ke markas. Berikut Sebastian yang ingin turut andil dalam pembebasan Kakaknya.