
"Kau siap, Pak tua? Aku harap kau tidak mengecewakan aku," tanya Zena pada komandan militer yang berdiri di sampingnya.
Di belakang mereka, dua pasukan siap tempur bersenjata lengkap berbaris rapi. Mobil baja milik markas tentara, juga yang mereka ambil dari para mafia ditambah milik Mata Elang yang diambil tim coklat berjajar di bagian depan.
"Bagaimana aku bisa menolak? Kau akan merasa bangga padaku saat aku berhasil merebut kembali gedung tersebut," sahutnya jumawa.
Zena mendengus, berpaling ke depan menatap gerbang yang beberapa saat lagi akan mereka lintasi. Ia berbalik menghadap seluruh pasukan, meski tanpa baju zirah gadis itu tetap terlihat seperti seorang prajurit yang bersiap memimpin peperangan.
"Kalian siap mempertaruhkan segalanya malam ini?" Teriak Zena menggema di kesunyian malam.
"Siap, Master!" Sambutan dari semua orang tak kalah lantang.
Gaungan mereka bagai jutaan lebah yang siap menyerang. Zena mengangguk puas, ia mencabut samurai dan mengacungkannya tinggi-tinggi.
"Untuk Kota kita, kota Elang!"
Seluruh pasukan mengangkat senjata dan menyambut dengungan Zena.
"Untuk Kota kita, kota Elang!"
Zena berbalik, gerbang dibuka secara perlahan. Semua orang menunggu. Gadis itu memulai langkah, tapi beberapa kali ayunan langkah itu terhenti.
"Tunggu! Kau tidak bisa meninggalkan kami, Zena!"
Suara teriakan yang tak asing di telinga Zena, membentuk kerutan di dahinya. Kedua matanya membelalak setelah ketiga sosok yang berlari itu mulai nampak sedikit demi sedikit.
"Tunggu! Biarkan kami ikut membantu!" teriak mereka lagi sambil melambai-lambai.
"Kalian!" Tenggorokan Zena tercekat. Sungguh tak dinyana ketiga temannya akan menyusul ke tempat itu.
Tiga utusan tim Elang coklat datang menghadap Zena, wajah gelisah dan ketakutan jelas terlihat. Peluh bercucuran, tangan dan kaki mereka gemetar. Terlebih saat melihat wajah sangar Zena.
"Bagaimana mereka bisa datang ke sini?!" geram Zena menatap nyalang ketiga orang suruhannya itu.
Ketiganya menjadi gugup seketika, mereka dihadapkan dengan situasi yang tidak menguntungkan. Kemarahan Zena jelas terlihat, melihat kedatangan ketiga temannya. Rasa cemas langsung saja mengisi hatinya.
"Maafkan kami, Master. Kami juga tidak tahu jika mereka mengikuti kami," ucap salah satu dari mereka tanpa berani mengangkat wajahnya.
Zena mengepalkan tangan, ingin marah rasanya, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat.
"Zena! Tunggu, jangan marahi mereka!" pinta Mirah sambil berlari mendekatinya.
Zena mengurai kepalan tangan, berbalik menatap ketiga temannya. Sebastian nampak kesal, kedatangan mereka hanyalah akan menjadi beban dalam pertempuran malam ini. Sedangkan komandan mengernyit heran pada tiga sosok asing itu. Terlebih pada Zena yang seketika saja merubah raut wajahnya menjadi biasa.
"Apa kalian sengaja mengikuti mereka? Kalian tahu ini sangat berbahaya bagi kalian. Lawan yang akan aku hadapi bukanlah sembarang orang," ucap Zena mengernyit cemas sambil menatap ketiganya.
"Mereka tidak bersalah, kami sengaja mengikuti mereka untuk dapat bertemu denganmu, Zena," sambar Sarah yang diangguki sisanya.
Mereka saling menatap satu sama lain, mereka sadar bukanlah seorang mata-mata seperti Zena ataupun seorang prajurit terlatih seperti Sebastian. Hanya saja, mereka tidak bisa tinggal berdiam diri di rumah disaat kota kelahiran mereka sedang kritis dan membutuhkan pahlawan.
"Kami berjanji tidak akan menyusahkanmu, Zena. Apalagi menghambat langkahmu. Kami hanya ingin ikut berperang membebaskan kota kelahiran kami. Kami tidak bisa duduk santai di rumah, sedangkan tanah kelahiran kami sedang sekarat dan menunggu dibebaskan," tegas Ben sembari membusungkan dada dan menepuknya beberapa kali.
Melihat tekad yang terpancar jelas di wajah ketiganya, Zena terenyuh. Ia tersenyum sambil menatapi satu per satu dari tiga orang biasa, tapi memiliki jiwa yang luar biasa itu.
"Kota Elang memang membutuhkan orang yang berjiwa patriot. Membutuhkan kalian yang sanggup berkorban demi membebaskannya dari cengkeraman tangan musuh. Jika begitu, selamat datang sekutu! Mari bersama kita rebut kembali tanah kelahiran kita!" tegas Zena sembari mengepalkan tangan dan diangkatnya tinggi-tinggi.
"Mari!"
Zena memulai langkah lagi, keluar dari gerbang dan terus berjalan menuju kota. Menyusuri setiap tempat yang disinggahi para mafia, membebaskannya dari cengkeraman tangan musuh yang jahat.
Tanpa mereka ketahui, Zena menyelinap keluar. Ia memanjat atap dan terus berlari dari atap ke atap rumah penduduk. Pasukan membelah diri menjadi dua, satu pasukan yang dipimpin oleh komandan militer bergerak menuju gedung pemerintahan. Satu lagi dipimpin Sebastian bergerak menuju markas Mata Elang.
Di mana Cheo? Dia bersama Tigris sudah lebih dulu menunggu Zena di perbatasan hutan. Tanpa mereka sadari, diam-diam para penduduk ikut bergabung ke dalam dua pasukan tersebut. Mereka ingin turut andil memerdekakan kota kelahiran mereka dari musuh.
Di depan barisan, mobil-mobil baja menjadi tameng untuk mereka. Di belakang, pasukan pemanah siap menggempur musuh yang datang. Satu pasukan kecil kini menjadi besar setelah para penduduk yang berani turut masuk ke dalamnya.
Zena merasa takjub, dia tidak sendirian. Terus melompat mendahului berniat mengurangi musuh yang kemungkian memiliki jarak tempur yang jauh. Zena tiba di atas tembok markas, di atap-atap markas para penembak jitu berlalu-lalang dengan senjata mereka. Lengah.
Zena menyembunyikan diri di atas sebuah pohon, membidik mereka menggunakan senjata satu per satu. Nyaris tanpa suara, para penembak jitu di atas atap itu mulai tumbang tak bersisa.
Ia melirik ke bawah, Cheo telah menunggu bersama Tigris. Zena memberi isyarat agar tetap diam sampai waktunya mereka menyerang. Lirikan matanya jatuh pada atap yang lain, senjata lebih besar terpasang dan kapan saja siap untuk diluncurkan. Tiga buah meriam yang sudah pasti akan sangat merepotkan.
Penjagaan tidaklah terlalu ketat, mungkin mereka pikir tak akan ada serangan terjadi. Zena merayap perlahan, lincah dan gesit seperti seorang ninja. Melompati atap dan hinggap di atap lainnya.
Ada tujuh orang yang berjaga di sekitar meriam tersebut. Zena mengangkat busur memasang anak panahnya. Menembak mereka sambil terus berjalan, ia berniat menunggu mereka di sana.
"Serangan!"
Melihat tiga temannya mati dengan panah menancap di bagian tubuh mereka, keempat sisanya berteriak sambil mengangkat senjata. Sayangnya, kalah cepat oleh gerakan Zena. Samurai itu kembali memakan korban menyisakan satu orang penjahat yang berniat melarikan diri dari atap.
Namun, belati kecil Zena meluncur dengan cepat, dan mengenai bagian jantungnya. Ia berhenti berlari, jatuh terkapar tak sadarkan diri. Jadilah, Zena berdiri di atap tersebut. Mengawasi sekitar gerbang yang dijaga oleh beberapa orang bersenjata.
Di kejauhan, rombongan Sebastian telah terlihat. Zena memasang busur menembak mereka satu per satu penjaga, bersamaan dengan munculnya Cheo bersama Tigris. Bocah itu yang akan membukakan pintu gerbang utama untuk para pasukan.
Serangan dari atap, juga dari bawah membuat mereka mudah melumpuhkan para penjaga. Gerbang yang terbuat dari papan kayu karena gerbang sebelumnya telah dihancurkan mereka, dibuka Cheo untuk memberi jalan kepada pasukan.
Di atap Zena mengawasi sambil bersiap membidik musuh yang tiba-tiba muncul dari dalam markas. Tigris membawa Cheo menaiki atap demi atap menyusul keberadaan Zena. Mendengar suara ribut-ribut di luar, Hirata dan semua anggotanya keluar dari ruang rapat untuk memastikan keadaan.
Betapa terkejutnya ia saat sebuah pasukan besar menerobos masuk ke dalam markas. Ia mendongak melihat para penjaga meriam, tapi tak ada siapapun di sana.
"Kita diserang, cepat siapkan senjata. Ke mana para penjaga di atap? Apakah mereka mabuk?" kesal Hirata sambil berjalan masuk untuk mengambil senjatanya.
"Mereka telah mati!"