Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Semakin Kacau



Kekacauan di kota Elang semakin merebak, banyak gedung yang dihancurkan, penduduk yang melawan langsung dibunuh di tempat. Tak ada lagi yang berani menentang mereka setelah menyaksikan beberapa orang yang mati di depan mata mereka.


Semua orang bersembunyi di dalam rumah, mengunci rapat pintu dan jendela bahkan ada yang menghalanginya dengan perabot rumah. Mereka khawatir orang-orang kejam itu tiba-tiba akan menerobos masuk dan menyakiti keluarga mereka.


"Di mana gedung pemerintahannya?" tanya Hirata.


Serangan mereka telah mencapai jantung kota, hanya beberapa mil lagi untuk sampai di markas Mata Elang.


"Hanya lurus saja, tempat itu berada tepat di pusat kota dan sangat mencolok," jawab laki-laki kerdil yang selalu bersamanya.


Mobil mereka terus melaju, dikawal satu kendaraan tempur yang terus menembak dan menghancurkan apa saja yang mereka lintasi. Gedung itu telah terlihat, Hirata memerintahkan untuk menerobos penjagaan di depan gedung tersebut.


Orang-orang bersenjata dari markas tentara juga kepolisian yang bertugas mengamankan gedung pemerintahan, bersiaga menyambut kedatangan mobil tersebut. Rasanya menembak pun percuma, mobil baja itu terus melaju menerobos gerbang.


Sebuah granat dilemparkan, tapi sama sekali tidak meninggalkan pengaruh. Mobil itu terus merangsek masuk, menembaki para penjaga yang menghalangi jalan mereka. Pagar yang terbuat dari kawat berduri pun mereka lintasi dengan mudah.


"Pimpinan, mereka menyerang gedung ini," ucap salah satu menteri dengan panik.


Mereka memboyong keluarga untuk berlindung di dalam gedung tersebut. Gedung yang dikabarkan tak tertembus senjata api. Menjadi satu-satunya tempat yang aman untuk menyembunyikan diri mereka.


"Benarkah? Bagaimana dengan para penjaga!" Laki-laki berusia lanjut itu berdiri dari duduknya.


Ia berjalan mendekati jendela, mengintip yang terjadi di depan gedung kebanggaannya itu. Mobil baja yang memimpin jalan Hirata hampir tiba di depan gedung tersebut. Sang pimpinan menutup tirai, kembali pada perkumpulan menteri.


Riak panik di wajahnya jelas terlihat, keringat dingin mengucur membasahi lehernya. Dia menatap anak dan istri juga anak-anak lain yang berada di dalam gedung tersebut. Berpikir apa yang diinginkan para mafia itu dari kota yang dia pimpin.


"Bagaimana dengan surat yang kita kirimkan pada markas Mata Elang? Apakah mereka sudah membalasnya?" tanyanya menatap semua pejabat yang hadir di dalam gedung tersebut.


"Belum ada balasan, Pak. Sepertinya, mereka tidak akan membantu mengingat ini semua karena kesalahan kita yang lalai dan mengabaikan peringatan dari pemimpin markas itu. Kita hanya perlu diam menunggu bantuan datang," jawab salah satu dari pejabat.


Rasa sesal mengisi hati mereka, tapi semua itu telah terjadi. Penyesalan tiada arti lagi. Mereka hanya dihadapkan pada dua pilihan, melawan sampai mati atau menyerah begitu saja.


Boom!


Suara ledakan berasal dari lantai satu gedung mengejutkan mereka semua. Para wanita dan anak-anak menjerit histeris, saling berpelukan berbagi rasa takut dan menenangkan.


Mobil yang membawa Hirata menembus tembok gedung dan berhenti di aula. Laki-laki bertubuh tegap dan tinggi itu keluar, berjalan ke tengah aula sambil berkeliling.


"Perintahkan mereka untuk berjaga di sekitar tempat ini. Untuk sementara aku akan menjadikan tempat ini sebagai markas kita," ucap Hirata yang lantang membahana.


"Bagaimana dengan orang-orang yang ada di dalam gedung ini, Ketua?"


Pertanyaan dari laki-laki kerdil yang cukup nyaring itu menyentak semua orang yang berada di lantai dua gedung. Mereka mencoba untuk tidak bersuara meskipun sebenarnya telah menjadi tawanan.


"Biarkan saja mereka di sini, anggap mereka menjadi tawanan kita," jawab Hirata sembari mendaratkan bokong di atas sebuah kursi kepresidenan.


Amarah dan kekecewaan jelas terpancar di wajahnya yang dipenuhi garis-garis penuaan.


"Pak, apa sekarang kita menjadi tawanan mereka?" tanya seorang wanita sambil menangis tersedu-sedu.


Tak satupun menjawab, membuat tangisnya semakin melaju. Anak-anak ketakutan, memeluk ibu mereka.


"Sudah, yang penting mereka tidak menyakiti kita dan anak-anak itu saja untuk saat ini. Sambil menunggu bantuan datang, kita tak perlu melakukan apapun, apa lagi melawan yang hanya akan membahayakan diri kita dan juga anak-anak," ucap pimpinan itu yang dibenarkan sebagian orang, tapi sebagian lagi berharap bisa terlepas dari kungkungan para mafia itu.


Di bawah sana, Hirata bersama laki-laki kerdil dan beberapa orangnya duduk di sebuah kursi. Peta besar membentang di atas meja. Peta kota Elang.


"Seberapa jauh lagi markas itu?" tanya Hirata yang tak melakukan apapun selain duduk sambil menyesap sebatang rokok di tangan.


"Tidak terlalu jauh, Ketua. Kita sudah berada di pusat kota dan markas itu berada di balik hutan kota," jawab laki-laki kerdil sambil menunjukkan keberadaan hutan yang mengelilingi markas.


Hanya satu yang tidak ada di dalam peta tersebut, keberadaan mansion Chendrik yang tersembunyi. Tempat paling aman yang sebenarnya karena tak ada akses jalan menuju ke sana.


"Baiklah, kurasa hari ini cukup sampai di sini saja. Besok kita lanjutkan menyerang markas itu. Aku yakin Chendrik telah bersiap-siap menyambut kedatanganku," tandas Hirata. Bibirnya menyematkan senyum tajam dan penuh dendam.


Sementara itu, mata-mata yang dikirim Chendrik memberinya laporan tentang gedung pemerintahan yang kini diduduki para mafia. Ia berpikir kembali mencari solusi untuk menyelamatkan pemimpin kota dan yang lainnya.


"Master, aku memiliki firasat buruk, bagaimana jika Anda membawa istri Anda ke mansionku saja. Kurasa di sana akan aman," pinta Chendrik pada Adhikari.


"Benar, hanya dia yang aku cemaskan. Markas ini akan diserang mereka, aku tidak bisa melawan sambil melindungi dirinya." Adhikari berpikir.


Ia beranjak setelah Chendrik memberitahunya sebuah jalan rahasia yang hanya dia sendiri saja yang tahu. Adhikari membawa Cana ke mansion itu, melintasi jalanan hutan yang tak pernah dilalui manusia. Jalan yang tembus ke belakang mansion, dekat kamar Zena.


"Kau tetap di sini, jangan pergi ke mana pun. Tetaplah bersama mereka di sini. Aku akan kembali setelah semuanya selesai," ucap Adhikari setelah mereka tiba di kamar Zena.


Para pekerja di mansion Chendrik berkumpul di sana. Ia menitipkan Cana pada mereka, kemudian kembali ke markas. Wanita berusia lanjut itu menangis, memikirkan Zena juga suaminya yang kini akan berperang melawan para mafia.


"Tenang, Nyonya. Kita berdoa saja semoga semua ini cepat berakhir," ucap salah satu pekerja mencoba menenangkan Cana yang tak kunjung meredakan tangisnya.


Di tempat sang jendela muda bertugas, Sebastian menerima kabar tentang penyerangan di kota Elang. Dia segera menghubungi markas dan memberi perintah kepada pimpinan di sana untuk mengirim surat kerjasama pada markas Mata Elang.


Selanjutnya, Sebastian meminta mereka untuk menutup rapat markas dan tidak melakukan apapun. Dia memiliki rencana lain untuk itu. Tujuan kedatangan para mafia itu sudah dapat dibaca pikirannya. Chendrik dan markasnya tentu saja.


"Aku akan ke desa Hulu, semoga Zena masih di sana," ucapnya seraya mempersiapkan diri pergi menemui Zena.


Gadis itu pun tak dapat tidur, terus memikirkan semua orang yang tiba-tiba tak dapat dihubungi.


"Sepertinya aku harus kembali," gumamnya pelan.