Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Balasan



"Cheo!" Zena Bergumam lirih hampir hilang fokus karena posisi Cheo yang harus berhadapan dengan senjata api.


"Fokus, Kakak! Aku bisa menghadapi ini, jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku berjanji tak akan terjadi apapun padaku. Tetap fokus!" teriak Cheo sesaat setelah ia melirik Zena yang sedikit lengah.


Dor!


Satu timah panas diluncurkan, melesat tak terlihat mengarah pada kepala bocah sepuluh tahun itu.


"Cheo!"


Anak itu melompat sambil memainkan nunchaku. Membalikkan biji peluru yang terbang ke arahnya menghantam tembok. Menembus dinding kokoh villa tersebut hingga membentuk lubang dan mengepulkan asap pada lubang tersebut.


Zena tersenyum, ia cepat menangkis sebuah golok yang hampir menebas tangannya. Golok tersebut terlempar mengenai penjahat lain menancap tepat di bagian perut.


Zena berbalik dan mengayunkan samurai mengoyak bagian perut lantas menancapkannya tepat di dada kiri. Jatuh tersungkur, meregang nyawa disaat samurai itu dicabut Zena dengan kasar. Tak sempat menjeda, ia kembali melompat menghindari tebasan golok yang lainnya sembari melayangkan tendangan pada dua orang yang berada dalam jarak dekat.


Di satu sisi, Cheo yang terus memutar nunchaku sambil berjingkrak kian kemari menghindari setiap peluru yang ditembakkan ke arahnya. Di sisi lain, Zena terus menyerang menghabisi setiap mereka yang mengayunkan golok ke arahnya. Beruntung, hanya laki-laki tambun itu yang memegang senjata api.


Di lain tempat, Tigris tak henti menampakkan betapa tajam taring miliknya. Seolah-olah memberitahu kedua orang itu bahwa mudah saja baginya untuk mencabik-cabik daging mereka. William dan Laila tak dapat melakukan apapun selain saling berpelukan satu sama lain dengan tubuh yang bergetar.


Zena melompat cukup tinggi sambil mengayunkan samurai menebas leher penjahat yang tersisa. Tak berhenti di sana, ia terus berlari, menapak pada dinding sebelum melakukan tebasan pada tangan si pemilik senjata api.


"Argh!" Senjata itu terlempar bersama tangannya yang ikut melayang.


"Sial!" umpatnya menahan nyeri akibat tangan yang terputus oleh sabetan samurai milik sang penjaga pulau.


Ia jatuh berlutut sambil memegangi sebelah tangan yang terus mengucurkan darah. Zena menoleh pada Cheo, napasnya tersengal akibat terlalu mengkhawatirkan anak itu. Ia berlari cepat saat melihat cairan merah di bagian lengan Cheo.


"Cheo!"


"Aku tidak apa-apa, Kak. Ini hanya tergores," katanya dengan nada biasa tanpa meringis kesakitan seperti yang lainnya.


Buru-buru Zena memeriksa, memastikan tak ada peluru yang bersarang di lengannya. Benar, itu hanya luka gores. Zena bernapas lega, ia kembali berdiri tegak. Membuka penutup wajahnya dan melilitkan kain tersebut pada luka Cheo.


Zena berjalan mendekati laki-laki tambun yang terus mengerang kesakitan itu. Ia berguling di lantai tak peduli pada genangan darah yang melumuri tubuhnya. Terus menjerit, menangis, dan meraung sambil menggenggam tangannya yang terputus.


"Tanganku!" Ia bernapas berat, Zena menendang tubuhnya hingga menabrak dinding villa. Sekali lagi dia menjerit.


Ia mendongak, mendapati wajah yang sama seperti saat dulu gadis itu menggagalkan perdagangan manusia yang dia lakukan.


"To-tolong ... a-ampuni ... a-aku ...." mohonnya tersendat-sendat karena napas yang semakin sesak.


Zena mendengus, menghunuskan pedangnya pada leher laki-laki yang berbaring meringkuk itu.


"Sayang, kali ini aku tidak bisa membiarkanmu lolos. Aku tak ingin kau melakukan kekacauan lagi di kota ini ... di mana pun," ucap Zena tegas dan lantang.


"Ti-tidak. A-aku berjanji ... tak akan me-melakukan kejahatan la-lagi," ucapnya masih memohon kepada Zena.


Tak terduga, sekali tebas saja kepala dan tubuh laki-laki itu langsung terpisah. Benda bulat berambut itu terus menggelinding mendekat ke arah dua orang yang meringkuk ketakutan. Kondisi William semakin lemah, wajahnya pucat pasih akibat darah yang tak henti mengucur di bagian lehernya.


"Argh!" Laila menjerit, membenamkan wajah di ketiak William disaat benda berambut itu berhenti tak jauh darinya. Kedua matanya melotot, lidah terjulur panjang, jelas terlihat jika dia amat kesakitan.


Susah payah William menoleh untuk dapat melihat benda tersebut, ia langsung terpejam dan membanting kepalanya pada tembok. Benda itu terlihat mengerikan juga menjijikkan.


Ekor mata keduanya melirik Zena yang perlahan berbalik ke arah mereka. Samurai itu telah dilumuri cairan merah sepenuhnya, ia berjalan mendekat. William membelalak saat mengenali siapa gadis yang berada di balik cadar itu.


"Ze-zena? Ka-kau ...?" Lidahnya kelu, keringat semakin deras mengucur membasahi punggungnya. Rasa nyeri dan perih ia rasakan dari luka yang tersiram keringat. William meringis, menahan kesakitan yang luar biasa.


"Hallo, William! Tak kusangka ternyata kau dalang dibalik semua ini." Zena berdecak kagum. Langkahnya pelan dan pasti, setiap ketukan mengantarkan ancaman yang membuat gemetar sepasang lutut mereka.


Laki-laki itu masih tak percaya, jika yang di hadapannya adalah Zena sosok gadis lemah dan lugu yang baru satu hari dikenalnya. Tak ada yang dapat ia ucapkan, hatinya benar-benar tak menduga bahwa Zena adalah seorang mata-mata.


"Mata-mata? Bukan! Aku bukan seorang mata-mata, William!" tolak Zena mengucapkan apa yang tak dapat diucapkan laki-laki bermata biru itu.


"Bagaimana kau tahu jika aku mengatakan mata-mata?" tanyanya dengan napas terengah-engah. Rasa terkejut menambah sesak dadanya akibat sakit yang mendera.


"Kau mengenalnya, Will?" bisik Laila bergetar ketakutan. Zena yang cantik tampak menyeramkan di mata mereka.


"Dia murid baru di sekolah." William balas berbisik.


"Semua jelas dapat kubaca dari eksepsi wajahmu itu. Sekarang, tunjukkan padaku di mana kalian menyekap prajuritku!" tegas Zena menghunuskan pedang di hadapan keduanya.


Darah yang menempel di matanya yang tajam, menetes seolah-olah memberi peringatan untuk tidak berbuat macam-macam.


"Roaarrr!" Auman Tigris ikut terdengar membahana. Menyentak kesadaran keduanya bahwa bukan hanya Zena yang patut mereka takuti, tapi harimau yang sejak tadi menghalangi jalan mereka itu juga perlu diwaspadai.


"Ba-baik. A-akan aku tunjukkan!" ucapnya seraya berbalik berhadapan dengan binatang raksasa di depannya. Tubuh hewan itu hampir dua kali lipat tubuhnya.


Tigris menyingkir memberi jalan pada keduanya untuk memberi petunjuk pada Zena tempat di mana mereka menyekap para mata-mata yang dikirim Chendrik. Hewan itu berjalan tak jauh dari keduanya, mengawasi sekaligus memperingati.


Menyusul Zena dan Cheo yang ikut melangkah di belakang mereka. Jauh di belakang villa itu, terdapat sebuah bangunan tua yang tak terawat. Minim penerangan juga nampak menyeramkan dengan kehadiran ilalang yang tinggi mengelilingi.


Tanaman merambat menutupi bangunan tersebut, daun-daun kering ikut andil dalam menambah suram keadaan. William membuka pintu lebar-lebar, ia terus masuk bersama Laila yang tak lepas menggenggam lengannya.


Bau apak dan debu segera menyerbu indera pembau mereka. Ditambah bau tak sedap seperti bangkai mengaduk-aduk isi perut. Laila menutup mulut, wajahnya memucat menahan mual yang melanda. Namun, tidak dengan Zena dan Cheo, pengalaman hidup di pulau membuat mereka terbiasa dengan bebauan tersebut.


Di dalam sana, terdapat sekitar dua puluh orang terikat dengan keadaan mengenaskan. Bekas pukulan, cambukan, juga sayatan terdapat di sekujur tubuh mereka. Mereka disiksa, dikurung tanpa makanan dan minuman. Di bagian lain, lima orang terbujur kaku tanpa nyawa. Kondisinya sudah hampir membusuk dan dikerubungi hewan-hewan lalat. Dibiarkan begitu saja.


"Kalian memang pantas mendapatkan kematian yang setimpal!"


"Master!"