
Zena berjalan dengan menenteng tiga ekor kelinci di tangan. Ia meletakkan kelinci tersebut di meja penguji, hebatnya kelinci itu dalam kondisi hidup.
"Hidup?" Penguji wanita mengangkat alisnya terkejut. Memandang Zena penuh takjub, apalagi kata yang bisa diucapkan sebagai perwakilannya?
"Mmm ... aku hanya membuatnya pingsan tadi. Lihat! Ujung anak panah ini kututup dengan buah." Zena mengangguk, ia mengangkat salah satu busur yang digunakannya untuk memanah kelinci itu. Ujungnya yang runcing tertutup dengan buah menjadikannya tumpul, tapi cukup ampuh untuk membuat pingsan seekor kelinci.
"Luar biasa! Kukira kau membunuhnya, ternyata ...." Ia menggelengkan kepalanya merasa takjub dengan kecerdasan yang Zena miliki.
"Mmm ... Master, semua ujian sudah aku lewati. Aku ingin meninggalkan lapangan, apa boleh?" Zena melempar senyuman pada Chendrik, menatap sambil memohon izinnya untuk pergi.
Chendrik berkacak pinggang, menggeleng sambil tersenyum menggodanya. Zena cemberut kesal, ia melangkah sambil menghentakkan kaki menjauh dan berkumpul bersama ketiga temannya.
"Ah ... Zena!" Gadis itu menoleh dengan senyum penuh pengharapan, "jangan terlalu dekat dengan teman laki-lakimu itu. Aku tidak suka," ucap Chendrik. Senyum di bibirnya mengancam, sorot matanya tajam tak menutupi perasaan cemburu yang selalu hadir disaat Zena berdekatan dengan laki-laki lain.
Gadis dengan rambut ekor kuda itu mendengus kesal, berbalik dengan cepat, berlari menjauhi Chendrik. Ia sengaja duduk di antara Ben dan Sarah, memanasi Chendrik yang membuatnya kesal.
"Ada apa? Kenapa wajahmu kusut seperti itu?" tanya Mirah sambil menikmati kudapan yang ia bawa sendiri.
"Apa kita tidak boleh meninggalkan lapangan? Aku bosan, bukankah kita tidak ikut ujian beladiri?" sungut Zena menatap ketiga temannya.
Wajah gadis itu memerah kesal, tapi hal itu justru membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Ben ternganga, matanya tak berkedip sama sekali menatap Zena yang geram.
"Menyingkir!" Sekonyong-konyong Sebastian mengangkat tubuh Ben dan memindahkannya dari sisi Zena. Lalu, ia bergabung di sana duduk berdampingan dengan gadis yang sedang menahan geram itu.
"Kenapa master Chendrik dan Master Jenderal seolah-oleh tak ingin aku dekat dengan Zena? Padahal, dia temanku." Ben bersungut-sungut kesal. Ia berpaling muka dengan kesal, tak peduli Sebastian yang menatapnya tajam.
"Kenapa Anda duduk di sini, Master?" ketus Zena tak senang, tapi itu bukanlah masalah. Sebastian yang tak acuh justru tersenyum dan sengaja merangkul bahu Zena.
"Aku hanya ikut duduk di sini, bergabung dengan kalian sepertinya menyenangkan," katanya seraya melepas rangkulan saat mata Zena melirik tajam pada tangannya. Tatapan mata yang mengancam, seolah-olah mengatakan 'jaga batasanmu!'.
"Mmm ... Master, bolehkah kami pergi dari lapangan? Kami tidak ikut kelas beladiri," ucap Zena dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi lugu kembali.
Mirah dan Sarah mengangguk setuju, mereka juga bosan berada di lapangan karena yang akan ikut ujian hanyalah sebagian kecil saja.
"Sorry, tapi kalian tidak bisa meninggalkan lapangan ini. Ujian beladiri kali ini terbilang unik dan lain daripada yang lain, akan ada tiga cabang beladiri diujikan dengan juri ahli masing-masing. Karate, taekwondo, dan Wushu. Kalian yakin tidak tertarik?"
Keempatnya kompak menggeleng, sama sekali tidak menarik minat mereka untuk menonton. Hanya seperti itu saja, mereka akan bosan melihat sikap congkak dari geng macan putih itu.
"Sama sekali?" Sebastian memastikan. Mustahil mereka tidak tertarik karena siswa yang lain memilih menetap untuk menonton jalannya ujian tersebut.
"Sama sekali!" tegas Zena menggelengkan kepalanya dengan pasti.
Sebastian berkedip tidak percaya, menatap aneh pada Zena yang sama sekali tidak terlihat antusias dalam ujian beladiri kali ini. Detik kemudian, Sebastian tersenyum sambil melipat tangan di perut.
"Kudengar, salah satu di antara kalian akan ikut dalam ujian ini. Dan jika dia berhasil maka dia akan lulus tanpa syarat lainnya. Sebagai lulusan terbaik dari sekolah ini dan akan mendapatkan penghargaan saat pesta kelulusan nanti," beritahu Sebastian yang berhasil menarik minat ketiga teman Zena.
"Benarkah, Master?" Mirah antusias. Sebastian mengangguk pasti menunggu reaksi Zena yang nampak biasa saja.
Sial!
"Apa ada yang ikut ujian ini dari kelas kalian?" Chendrik tiba-tiba muncul bertanya pada kelas Zena yang berjumlah lima belas orang dikurangi Ben.
Mirah memastikan, semua siswa menggelengkan kepala karena tak satupun dari mereka yang memiliki bakat beladiri.
"Sepertinya tidak ada, Master. Ada apa?" Mirah bertanya dengan dahi yang berkerut.
"Kudengar jika salah seorang menjadi perwakilan, maka kalian semua akan lulus, tapi jika tak ada perwakilan maka kalian harus mengikuti ujian tambahan. Aku tidak tahu ujian seperti apa? Pihak sekolah yang akan menentukan," ucap Chendrik memberitahu.
Namun, sebuah pengumuman menggema dari atas podium. Kepala sekolah mengumumkan apa yang baru saja disampaikan Chendrik. Senyum mengejek jelas tercetak di wajahnya saat Zena justru termangu dalam diam.
"Zena, hanya kau satu-satunya harapan kelas kita." Semua siswa di kelas Zena merengek, mereka tak ingin ujian tambahan. Dan orang yang bisa diandalkan hanyalah Zena.
"Ah ... baiklah, baiklah. Aku ikut!" Meski terpaksa, ia tak tega melihat semua temannya mengiba.
"Master? Apa aku boleh ikut ketiganya?" Zena berbinar, sekalian saja ia ikuti semua ujian itu.
"Tentu saja! Kau bisa ikut semuanya!" ucap Chendrik dengan pasti.
"Ayo, Bas! Kita sudah menemukan juaranya, sekarang kita harus pergi mengawasi!" ajak Chendrik pada adiknya dengan senyum kemenangan. Keduanya pergi meninggalkan kelompok Zena dan kekesalan gadis itu.
"Semua peserta perwakilan maju ke depan!" Mirah dan Ben, mendorong Zena yang malas melangkah. Gadis itu beranjak dan berjalan gontai ke tengah lapangan bersama dua puluh orang lainnya. Termasuk kelompok macan putih, dan siswa laki-laki.
Berselang, tiga orang dengan seragam berbeda memasuki arena. Mereka para Master yang akan menjadi penguji siswa dalam olahraga beladiri.
"Selamat siang! Kalian siap untuk ujian hari ini?"
Seorang master menyapa dengan lidahnya yang aneh saat mengucapkan kata. Wajahnya khas negeri sakura dengan mata yang kecil, tak jauh beda dengan Zena.
Serasa bertemu dengan keluarga sendiri.
Zena bergumam, Ibunya asli keturunan Negeri tersebut. Ahli beladiri dan memainkan samurai sejak kecil sebelum bertemu dengan Bazleen dan memulai petualangan. Zena menjadi antusias.
"Siap, Master!" Serentak mereka membungkuk.
Satu per satu dari mereka memulai penampilan. Dari dua puluh orang itu, terpecah menjadi tiga. Kecuali Zena yang nampak bingung ke mana harus pergi. Alhasil, ia memilih ujian karate lebih dulu.
Duduk bersama peserta yang lain, menunggu giliran.
"Hmm ... mereka selalu memukau setiap tahunnya. Sampai detik ini, tak ada siswa yang bisa mengalahkan mereka dalam seni beladiri," celetuk salah satu siswa yang duduk di samping Zena.
Di depan sana, ketua tim macan putih sedang memperagakan sebuah gerakan.
"Kyokushin." Zena bergumam lirih saat mengenali jenis gerakan karate tersebut.
"Kau mengatakan sesuatu?" Seseorang bertanya padanya.
Zena menunjuk hidungnya sendiri.
"Ya, kau? Siapa lagi? Apa yang kau katakan tadi?" tanyanya ingin tahu.
"Kyokushin." Zena mengernyit.
"Apa itu?"
"Kalian tidak tahu?" Mereka kompak menggeleng.
"Kyokushin yang artinya 'kebenaran tertinggi' dalam bahasa Jepang. Karate jenis ini adalah karate dengan gaya bertarung yang agresif. Kalian lihat gerakan yang dia lakukan? Bagaimana menurut kalian?" Zena menjelaskan seraya menunjuk pada ketua macan putih yang masih memperagakan sebuah gerakan.
Mereka melihat dan menilai, tapi tak tahu apapun soal karate. Semua mata menatap aneh pada Zena, gadis itu berjengit menjauhkan tubuhnya dari mereka semua.
"Apa? Kenapa dengan kalian?"