Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Insiden



Esok hari yang dinanti pun tiba, Zena bersiap untuk pergi bersama Cheo dan Tigris seusai sarapan. Mereka berdua bersama tiga ekor harimau besar itu menunggu kedatangan tim Chendrik di puncak bukit hijau.


Dari puncak bukit tersebut terlihat pemandangan laut pulau, perkebunan, juga hamparan ladang sayur. Menyegarkan mata mereka. Para penduduk berbondong-bondong pergi ke ladang dengan membawa peralatan mereka. Para wanita dan laki-laki juga anak-anak yang turut serta bermain di ladang.


Zena menghela napas, teringat saat ia belum pergi merantau. Setiap pagi seperti itu, akan ikut bergabung bersama mereka semua. Membantu para juragan di ladang menggarap dan memetik buah juga sayur. Ia tersenyum, melihat seorang anak kecil melambaikan tangan padanya.


"Kakak!" Cheo berseru sambil berdiri di saat sebuah kapal cepat berhenti di dermaga. Zena ikut beranjak melihat sebuah kapal dengan lambang Elang.


"Jemputan kalian sudah tiba. Ikutlah bersama mereka, kita akan bertemu di sana saat pencarian kami berhasil," ucap Zena pada Tuma dan Belle.


Mereka menuruni bukit menyambut kedatangan sebuah tim pasukan Elang Coklat. Ketua tim keluar dan memberi salam penghormatan kepada Zena.


"Aku titipkan mereka pada kalian. Tolong jaga dan rawat dengan baik, jangan lupa beri makan jika tidak ingin mereka yang memakan kalian," ucap Zena sembari mengusap bulu-bulu Tuma yang lebat.


Meski sekuat mungkin menahan gugup, tetap saja Zena dapat melihat jakunnya naik dan turun dengan lambat saat meneguk saliva. Zena tersenyum tipis, ia berbisik pada Tuma dan Belle. Setelahnya, kedua harimau itu melangkah mengikuti dan masuk ke dalam mobil.


"Kami pergi, Master! Maaf, ada titipan dari Master Chendrik juga Jenderal. Kami permisi."


Tim tersebut berbalik setelah memberikan apa yang dititipkan kedua laki-laki itu. Masing-masing sebuah amplop yang berisi surat, juga ada sebuah kotak yang dibungkus rapi.


"Padahal, mereka selalu menggangguku lewat telepon. Kenapa masih mengirim surat juga. Aneh," gumam Zena seraya memasuki van setelah mobil yang membawa dua harimau itu menghilang.


"Apa yang dikirimkan Ayah dan Paman?" tanya Cheo sesaat mereka duduk di dalam mobil.


"Entah. Bukalah, jika kau penasaran dengan isinya," titah Zena. Dia sendiri menyandarkan punggung berbaring di atas ranjang. Cheo sibuk membongkar dua kotak yang dikirimkan Ayah juga pamannya.


"Apa ini? Jelek sekali gambar yang dia buat," celetuk Zena saat membuka surat dari Chendrik. Sebuah gambar hati besar berwarna merah dengan tulisan sederhana di dalamnya.


"Cepatlah pulang. Aku menunggumu."


Zena tersenyum, entah kenapa hatinya berbunga-bunga hanya mendapatkan hal yang seperti itu saja. Tak ada kata puitis, juga tak ada panjang lebar.


Zena beralih pada surat kedua milik Sebastian.


"Uang?"


Zena bergumam saat melihat lembaran uang di dalam amplop tersebut. Di dalamnya juga terselip secarik kertas dengan tulisan tangan.


"Kali ini kau tidak bisa menolak uang dariku. Maafkan aku, Zena. Aku sadar, hatimu sudah memilih Kakakku. Lagi pula, bocah nakal itu sudah seperti anakmu sendiri. Aku mengalah, aku relakan kau untuknya. Semoga kau bahagia, Zena. Teruslah tersenyum karena senyummu memberikan bunga di hatiku. Cepatlah pulang, calon suamimu gelisah setiap saat."


Ada icon tertawa di ujung tulisannya. Zena menggelengkan kepala, menyusut cairan yang menggenang di pelupuk.


"Kakak, ini cokelat. Paman mengirimkan cokelat untuk kita. Enak sekali," ucap Cheo sambil mengunyah cokelat pemberian Sebastian.


"Apa isi yang satunya?" tanya Zena ingin tahu.


"Hanya sebuah sweater dengan hoodie. Biasa saja. Selera Ayah memang jelek," cibir Cheo sembari terus memakan cokelat pemberian Sebastian.


Zena tak peduli, ia mengambil sweater pemberian Chendrik dan tanpa segan memakainya. Zena beralih duduk di belakang kemudi bersiap pergi, membiarkan Cheo yang sibuk dengan cokelatnya.


******


Satu Minggu di perjalanan tanpa hambatan, tanpa gangguan yang berarti. Zena menikmati perjalannya bersama Cheo dan Tigris. Ia selalu terhubung dengan semua teman juga Chendrik yang setiap hari selalu menghubunginya disaat Zena beristirahat.


Sebastian mulai jarang menghubungi, sepertinya jenderal muda itu sudah memiliki kehidupan yang lebih baik. Zena merebahkan dirinya di atas ranjang, di sisinya Cheo tertidur lelap. Malam itu, mereka menginap di pinggiran sungai.


Ia yang tak dapat tidur, beranjak turun dari ranjang dan menaiki atap mobil. Duduk memeluk lutut sambil memandang langit luas yang dipenuhi bintang. Langit cerah malam itu, tak nampak awan mendung yang selalu mengundang hujan.


Lamunannya tersentak disaat ia mendengar suara ledakan yang cukup keras. Zena berdiri untuk dapat melihat di mana asal suara itu. Kepulan asap membumbung tinggi di jarak lima ratus meter dari tempatnya berkemah.


"Kakak, suara apa itu?" Suara Cheo yang parau terdengar dari bawah.


Gegas Zena menuruni atap, mengambil sebuah belati dan menyimpannya di dalam saku.


"Kakak mau ke mana?" tanya Cheo sambil mengucek matanya yang buram.


"Kakak hanya ingin memeriksa keadaan. Tetaplah di sini, dan jangan keluar. Kakak hanya pergi sebentar," ucap Zena seraya memakai hoodie dan berjalan keluar mobil.


Cheo menurut, bocah itu tetap menunggu di dalam mobil bersama Tigris. Keadaan pinggir sungai yang gelap, tak menyurutkan langkah Zena untuk memeriksa suara ledakan tadi.


Asap mengepul tinggi, api pun menyala di bagian depan sebuah mobil yang terjungkal. Zena berlari mendekat, memeriksa keadaan manusia di dalamnya. Tubuhnya tersentak saat mendengar suara tangisan anak-anak dan jeritan minta tolong.


Ia berlari ke belakang mobil, suara-suara itu berasal dari dalam box mobil yang terbakar.


"Anak-anak? Kalian tak apa?" tanya Zena berteriak.


"Kakak! Siapa saja tolong kami! Panas!" sahut salah seorang anak laki-laki dari dalam box tersebut.


Zena linglung sesaat, sebelum mencari apapun untuk bisa ia gunakan sebagai alat membuka kunci box mobil tersebut. Zena mengambil sebuah batu, memukulkannya pada gembok yang mengunci pintu. Berkali-kali ia hantamkan batu tersebut sehingga terbuka.


Zena terbelalak melihat empat orang anak meringkuk di tengah box tersebut. Ia melambai meminta mereka untuk segera turun dari dalam box. Satu per satu anak-anak seusia Cheo melompati truk tersebut, keadaan mereka mengenaskan. Hampir terpanggang di dalamnya.


"Kakak, salah satu teman kami masih ada di dalam. Dia kesakitan dan tidak dapat bangun, tolong, Kak!" ucap salah satu anak menunjuk seorang anak laki-laki yang berbaring tak sadarkan diri.


Zena menaiki box tersebut dan dengan cepat mengambil anak itu. Ia melompat tanpa menunggu.


"Ayo, cepat tinggalkan tempat ini. Truk ini akan meledak lagi!" ajak Zena pada mereka semua. Anak-anak kecil itu berlarian menjauh bersamanya yang menggendong seorang anak tak sadarkan diri.


"Tiarap!" teriak Zena sembari menjatuhkan diri ke atas tanah dan melindungi anak yang digendongnya bersama anak-anak yang lain. Bersamaan dengan itu, suara ledakan besar terdengar, tanah berguncang hebat. Truk tersebut terbakar, api membumbung tinggi menjilat-jilat udara.


"Kalian tak apa?"


"Kakak!"


"Cheo?"