Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Turut Andil



"Jadi, Zena seorang mata-mata?" Mirah berkerut dahi setelah mendengarkan fakta sebenarnya tenang Zena dari Chendrik.


"Yah, dia salah satu agen rahasia kami," ucap Chendrik.


"Dia seorang master?" Cheo mengangguk menjawab pertanyaan Sarah, "pantas saja dia ahli dalam beladiri. Selama ini kitalah yang tidak menyadari, padahal Zena sering menolong kita dari bahaya," lanjutnya berkomentar.


"Kau benar. Ah, aku ingin tahu apakah usia Zena sama seperti kami?" Ben menyambar mengingat dia adalah seorang agen tidak menutup kemungkinan usianya jauh lebih dewasa dari pada mereka.


"Tidak, dia lebih tua dari kalian. Jika tidak salah mengingat usianya saat ini dua puluh tiga tahun, tapi dia baru merasakan bangku sekolah," ucap Chendrik.


Sontak ketiganya membelalak tak percaya, mereka masih berada di atap. Menemukan fakta bahwa semua siswa yang hilang terpampang gambarnya secara jelas di sana.


"Kalian tidak perlu terlibat. Pulanglah, kami yang akan mencari Zena. Misi ini sangat berbahaya, aku yakin Zena tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian. Dia menyayangi kalian dengan tulus, dan jika terjadi sesuatu pada kalian sudah pasti kami yang akan terkena imbasnya. Pulang sekarang dan jangan pergi ke mana pun!" titah Chendrik pada ketiga teman Zena.


"Tapi kami ingin membantu," sela Mirah.


"Lalu, menjadi kelemahan Zena? Pulanglah, para prajuritku yang akan mengantar kalian dengan selamat sampai di rumah," pungkas Chendrik seraya menggiring ketiganya untuk menuruni atap bahkan mengantar mereka sampai menemui salah seorang mata-mata miliknya.


"Antar mereka dengan selamat sampai di rumah, dan untukmu ... hubungi orang tuamu jika kau akan menginap di rumahnya." Chendrik menunjuk Sarah dan Mirah bergantian.


Jauhnya rumah Sarah dan terpencil, menjadikannya sebagai target yang empuk.


Sarah mengangguk patuh, ia mengerti dengan situasi yang ada. Mereka semua pergi sebelum pesta berakhir.


"Aku ingin ikut mencari Zena." Mirah bergumam. Bagaimanapun, Zena adalah teman mereka.


"Satu-satunya cara untuk membantu Master adalah dengan berdiam diri di rumah dan tidak pergi ke mana pun. Mereka tak akan melibatkan warga sipil jadi tetaplah di rumah berkumpul bersama keluarga kalian," sambar laki-laki yang mengemudi tak lain adalah orang Chendrik.


Mirah menjatuhkan bahu, lesu. Mereka teringin membalas budi, tapi juga tak ingin membahayakan Zena. Mendengar misi yang sedang dijalankan Zena sangatlah berbahaya, dan mereka tidak memiliki kemapuan apapun, satu-satunya cara membantu Zena adalah dengan berdiam diri di rumah.


"Kita bisa membantu Zena dengan menyelamatkan yang lain. Setidaknya kita tidak pergi begitu saja." Ben menyambar dengan antusias.


"Benar!" Sarah berbinar.


"Pak supir, bisa kau putar kemudi dan berbalik arah?" pinta Ben padanya.


"Tidak! Perintahku hanya satu, yaitu mengantar kalian pulang dengan selamat sampai rumah," katanya tegas.


"Ayolah, aku yakin kalian membutuhkan bantuan kami untuk membawa semua siswa yang ada di sana sebelum peperangan terjadi. Tak akan mungkin kalian akan melibatkan mereka, bukan? Zena pasti tak akan senang." Mirah merayu.


"Kami hanya akan memberi mereka peringatan, itu saja. Jika ada yang mendengar maka akan kami bawa, jika tidak kami akan meninggalkan mereka," sambar Sarah ikut merayu supir tersebut.


"Cepat kembali, kita harus cepat memisahkan siswa yang tidak terlibat dari area!" Sebuah bisikan perintah membuatnya berpikir ulang.


"Kalian yakin bisa membantu dan tidak menjadi beban?" tanyanya melirik Ben sekilas dan kembali ke depan.


"Kami yakin, Master!" sahut mereka kompak.


"Baiklah. Hanya membawa mereka yang tidak terlibat dan jangan sampai membuat kalian dicurigai," perintahnya yang diangguki oleh mereka.


Mobil berputar dan kembali melaju ke sekolah. Mirah dan Sarah juga Ben dibantu supir tersebut menyusun rencana dan lokasi tempat semua siswa diamankan. Pilihan mereka adalah ruang olahraga karena di dalamnya banyak alat yang bisa dijadikan sebagai senjata.


"Ingat, selalu hati-hati dan waspada. Ini, gunakan ini saat kalian membutuhkannya!" Ia memberi mereka masing-masing sebuah belati kecil untuk jaga-jaga saat menjumpai bahaya.


"Terima kasih, Master!"


"Ben? Kau melihatnya?" bisik Mirah.


"Yah, aku melihatnya," sahut Ben dengan berbisik pula.


Keduanya bersikap normal selayaknya pasangan saat berpapasan dengan orang-orang yang patut mereka curigai. Mata keduanya memindai mencari siswa yang tak terlibat dalam kelompok mafia. Sangat sulit membedakan karena semua orang terlihat sama.


Ben berhasil membawa dua gadis sekaligus, dengan rayuan cinta. Mengajak mereka ke gedung olahraga mengumpulkan dengan yang lain. Semua teman sekelasnya telah berada di dalam ruangan tersebut. Sekarang, hampir separuh siswa telah mereka bawa ke gedung olahraga.


"Kenapa kita dibawa ke sini?"


"Benar, untuk apa kita berkumpul di sini?"


"Bukankah pestanya belum selesai?"


"Ah, aku ingin kembali."


"Tunggu! Dengarkan aku!" sergah Sarah seraya keluar dari ruang ganti dengan membawa tongkat baseball sebagai senjata. Semua orang menoleh dan terkejut.


"Sarah?" Serentak mereka menyebut nama gadis itu.


"Apa maksudmu? Kenapa kau membawa kami semua ke sini?"


Sarah memindai satu per satu wajah yang ada di gedung tersebut.


Kecuali geng macan putih, selain itu semuanya adalah siswa.


Ia ingat apa yang dikatakan Chendrik di atas atap sebelum mereka berpisah. Kelompok yang dikepalai oleh empat wanita itu, tidak termasuk ke dalam daftar yang harus dievakuasi. Jadilah Sarah harus memastikan tak ada wajah-wajah itu di sana.


"Dengar! Sekolah kita telah dikuasai oleh mafia, banyak siswa perempuan yang menghilang secara misterius saat sekolah dalam keadaan sepi. Di sana, di dalam pesta, mereka menyamar menjadi apa saja untuk menjalankan apa yang menjadi tujuan mereka. Aku mengumpulkan kalian di sini semata-mata hanya untuk menyelamatkan kita semua. Ambil apa saja yang bisa kalian jadikan senjata."


Suara lantang Sarah terdengar meyakinkan, banyak dari mereka yang percaya, dan tidak sedikit pula yang menganggapnya sedang membual.


"Bagi kalian yang percaya padaku, silahkan ambil alat sebagai perlindungan diri. Dan bagi kalian yang tidak mempercayaiku, maka silahkan keluar dan jangan harap bisa kembali ke sini lagi!" tegas Sarah membungkam sebagian mulut siswa, tapi sebagian lagi memilih untuk pergi.


"Pembual! Aku tidak percaya padamu!" Sebagian kecil siswa beranjak dan berjalan mendekati pintu.


Dor!


Langkah mereka terhenti saat mendengar letusan bersambut suara teriakan banyak orang yang histeris.


"Bagaimana? Apa kalian masih ingin keluar dari sini?" tanya Sarah sembari memangku tongkat di atas pundaknya. Ia berdiri mengangkat dagu jumawa.


Kelompok itu berbalik dengan wajah ketakutan, mereka menggeleng seraya kembali duduk bersama kumpulan siswa yang lainnya. Laki-laki dan perempuan.


Sarah menunjuk peralatan olahraga dengan wajahnya, mereka berhambur mengambil apa saja yang bisa dijadikan senjata. Yang tak memiliki alat, berlindung di belakang yang lain.


Mereka terhenyak saat suara derap langkah yang banyak mendekat.


"Sa-sarah!"


"Calm down, Baby!"