Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Apa Itu Cemburu



"A-ampun! maafkan kami, maaf!" mohon sang Ketua macan putih saat Zena berdiri tegak di hadapan mereka.


Gadis kecil yang lemah itu sekejap saja berubah menjadi seekor singa yang mengamuk dan membuat mereka babak belur di mana-mana.


"Bagaimana rasanya dipukuli? Apakah sakit?" Suara Zena berdesir melintasi gendang telinga mereka. Membangkitkan seluruh bulu dalam tubuh membuat mereka meremang.


Mereka mengangguk patuh bagai seekor kucing yang telah dijinakkan bahkan laki-laki bertubuh besar yang bersama mereka pun, dibuat tak sadarkan oleh Zena.


"Kalian masih ingin menindas siswa lainnya?" Mereka menggeleng kuat-kuat. Padahal, dalam hati menggeram tidak terima Zena telah mengalahkan mereka. Jatuh sudah reputasi yang mereka miliki.


"Ti-tidak! Kami tak akan berani!" ucap mereka terbata dan lirih. Zena melirik saat ketukan langkah mengusik telinga. Mirah menuntun Sarah mendekati Zena diikuti Ben yang masih mengusap-usap bokongnya yang ngilu.


Ketiganya menatap tajam empat gadis yang berjongkok itu. Rasanya ingin tertawa melihat macan yang selama ini mengaum, kini mengeong dan menjadi jinak.


"Berani kalian mengusik temanku, maka kalian akan berhadapan langsung denganku! Camkan itu!" ancam Zena dengan tegas. Ia membantu Mirah memapah Sarah dan memasukkan gadis itu ke dalam mobilnya.


Ia dan Ben sigap menaiki motor melesat mengikuti mobil Mirah yang lebih dulu melaju meninggalkan kelompok macan putih yang sudah kehilangan taringnya.


Memar hampir memenuhi wajah mereka, rambut yang selalu tertata rapi itu pun menjadi kusut. Seragam mereka mengalami robekan di bagian tertentu, dan jika berkaca pada Zena ... gadis itu sama sekali tidak berubah.


Seseorang yang bersembunyi di dalam mobil, tertawa terpingkal melihat keempat gadis sombong itu jadi tak berdaya. Ingin rasanya meledakkan cibiran di depan wajah mereka, tapi ia sadar sedang bersembunyi.


"Rasakan, macan yang sesungguhnya mengamuk. Salah kalian membangunkan singa yang tertidur, maka terima saja akibatnya." Ia tersenyum geli sebelum menyalakan mesin mobil meninggalkan semak bersama mobil Zena yang melintasinya.


"Sial! Awas saja kau, Zena! Aku pastikan kau akan mendapatkan balasan. Kau pikir aku sudah kalah dan menyerah begitu saja? Tidak! Kau salah! Lihat saja, seperti apa pembalasan yang sebenarnya dariku!" Sang Ketua berdiri tegak dengan mata memicing penuh emosi. Jemari tangannya terkepal kuat seolah-olah sedang meremas Zena di dalamnya.


"Benar, dia harus mendapatkan balasan! Aku juga tidak terima dia membuat rambutku kusut dan tidak menarik lagi," sahut yang lain ikut berdiri meski tertatih.


Berikutnya dua orang yang tersisa dengan sudut bibir yang terluka. Keempatnya menatap nyalang pada iring-iringan kelompok Zena yang tak terlihat lagi.


"Seret dan masukkan dia ke dalam mobil! Kita kembali dan menyusun rencana untuk membalas gadis itu!" titah sang Ketua pada ketiga bawahannya yang mengangguk patuh.


Ia memasuki mobilnya dan melesat meninggalkan mereka yang bahu-membahu menggotong tubuh besar tak sadarkan diri itu.


"Sial! Kenapa tubuhnya berat sekali?" umpat mereka sambil terus menyeret tubuh laki-laki itu.


Zena tiba di sebuah rumah sederhana yang sedikit jauh dari jalanan. Rumah bergaya minimalis itu nampak asri karena dikelilingi oleh banyak pohon buah. Mereka menepi di luar pagar, dituntun Sarah memasuki halaman rumah yang dipenuhi tumbuhan sayur.


"Apa kalian keluarga petani? Aku teringat dengan pak Karim," celetuk Zena ketika mengingat kehidupannya di pulau Liman yang sering membantu di ladang sayur milik pak Karim, Ayah sahabatnya, Ciul.


"Tidak! Kami menanam ini untuk kebutuhan kami sehari-hari, tidak menjualnya. Ayahku bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah pabrik, dan Ibuku menjadi wanita biasa yang mengurus rumah setiap hari," jelas Sarah sambil terus menuntun mereka menuju rumahnya.


"Zena, kau hebat sekali! Kenapa selama ini kau hanya berdiam diri tanpa melawan saat ada yang mengganggumu," ujar Mirah dengan senyum bangga terukir di bibirnya.


Teringat kejadian yang baru saja mereka saksikan, bagaimana Zena menghajar kawanan macan liar itu tanpa memberi kesempatan pada mereka untuk melawan.


"Aku hanya tidak suka membuat onar, aku datang ke sekolah untuk belajar bukan untuk berkelahi. Untuk apa menunjukkan kekuatan? Jagoan ... aku tidak tertarik menyandang gelarnya," tutur Zena dengan enteng.


"Lagipula, aku minta kepada kalian untuk merahasiakan kejadian hari ini pada semua orang di sekolah. Jangan sampai siswa ataupun guru tahu apa yang telah terjadi hari ini. Biarlah menjadi rahasia antara kita saja," lanjut Zena memberikan tatapan hangat pada ketiga temannya yang mematung di teras rumah Sarah.


Mereka mengangguk meski enggan, ingin rasanya membuat pengumuman besar tentang kehebatan Zena hari ini yang sudah mengalahkan geng macan putih itu. Namun, mendengar permintaan Zena, mereka harus menghargai keputusannya.


*******


Sore hari Zena kembali ke mansion, di ruang tengah mansion Chendrik menunggu dengan gelisah. Berdiri dengan wajah yang memerah marah, mendengar laporan dari mata-mata yang dia kirim untuk mengawasi Zena.


Deru motor gadis itu mengusik telinga, ia sigap berdiri dengan angkuh dan menyembunyikan kegelisahannya. Wajah dingin dan tegasnya ia pasang untuk mengintimidasi Zena yang baru melangkahkan kaki memasuki mansion.


Di tangannya membawa secarik kertas yang ia terima dari guru saat di sekolah. Mengernyit dahi Chendrik saat Zena memberikan kertas tersebut kepadanya.


"Apa ini?" tanya Chendrik sambil membaca tulisan kertas tersebut.


"Aku tidak tahu, buka saja," katanya, seraya melengos meninggalkan Chendrik menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya.


Chendrik mendesah, tak peduli pada surat di tangannya sesuatu yang mengganjal hati harus ia tuntaskan saat ini juga.


"Siapa siswa laki-laki itu?" Pertanyaan tiba-tiba yang diterima Zena, membuat langkahnya terjeda. Ia menoleh dengan wajah lelah yang mengernyit.


"Siapa? Aku tidak mengerti siapa yang kau maksud?" Zena balik bertanya dan terus melanjutkan langkah menuju dapur.


Chendrik mengejar dan menangkap tangannya. Zena cepat menepis karena jujur saja ia ingin segera mereguk air guna menyegarkan tenggorokan.


"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu terlihat jelek seperti itu?" cibir Zena kembali melengos.


Chendrik yang tak bisa menahan diri, menarik Zena dan menyudutkan gadis itu pada dinding dapur. Kedua tangannya memagari pergerakan Zena di kanan dan kiri. Zena malas melawan, ia hanya ingin minum dan langsung beristirahat.


"Siapa siswa laki-laki yang berani menyentuh tanganmu? Kenapa kau membiarkan dia memelukmu juga?!" geram Chendrik dengan geraham yang beradu menahan gejolak dalam batinnya.


Zena memutar bola mata malas, ini yang ia maksudkan. Pasti akan ada drama tak jelas dari laki-laki yang sedang mengurungnya itu.


"Kenapa kau marah? Dia temanku. Apa aku tidak boleh berteman di sekolah? Kau pun sering memeluk Arabella juga gadis pengkhianat itu, bukan? Aku tidak marah sekali," ucap Zena dengan polosnya.


Chendrik memejamkan mata, ia harus benar-benar bersabar menghadapi sifat polos gadis pulau yang tak tahu menahu soal perasaan itu. Matanya kembali terbuka, menatap lekat pada manik kelam Zena.


"Itu berbeda, Zena. Kau tidak marah karena kau tidak merasakan cemburu seperti aku! Aku cemburu melihatnya bisa dengan bebas menyentuhmu, sedangkan aku ...." Chendrik menggantung kalimat. Dadanya naik dan turun hampir bersentuhan dengan milik Zena.


Namun, gadis di depannya justru mengernyit bingung.


"Cemburu? Apa itu ... cemburu?"