Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Ibu



Di rumah besar Chendrik, keributan terjadi antara Ibu yang ingin pergi keluar dan Cana yang mencegahnya. Kedua wanita itu bersitegang hampir setiap hari. Jiwa belanja yang dimiliki Ibu Chendrik tak dapat ditahannya. Setiap hari uring-uringan, gelisah dan selalu mencari cara untuk mengelabui para penjaga.


"Aku harus bisa keluar dari sini, aku tidak bisa tinggal dan berdiam diri saja di rumah. Kenapa Chendrik menempatkan begitu banyak penjaga di bawah dan di seluruh mansion ini? Menyebalkan," gerutunya sambil menatap para penjaga yang berdiri tegak di depan mansion.


Kebetulan saat itu Cana tengah berkunjung ke mansion utama ditemani para pekerja wanita. Kesal karena berbicara dengan mereka terlalu kaku, dia ingin mendapatkan kawan bicara yang seimbang agar dapat berbincang dengan santai. Tidak kaku seperti seorang asisten kepada majikannya.


"Ada siapa saja di rumah itu?" tanya Cana sambil terus berjalan menuju rumah utama.


"Tidak ada, Nyonya. Hanya ada Nyonya besar saja sendirian," jawabnya.


Cana menganggukkan kepala, berharap Nyonya yang mereka maksud akan dapat menghilangkan rasa jenuhnya.


Ibu berlalu-lalang di dalam kamar, wajahnya mengernyit kusut. Jejak kebosanan jelas terlihat di kulitnya yang keriput.


"Aku tidak tahan lagi," katanya seraya menyambar tas dan berjalan cepat keluar kamar.


Suara ketukan langkahnya mengusik para penjaga yang bertugas di dalam mansion. Mereka serentak menoleh, sekitar lima orang penjaga laki-laki dengan senjata di tangan. Bersikap waspada dan sigap membentuk brikade untuk mencegah kemungkinan.


"Kenapa kalian menghalangi jalanku?" bentak Ibu, matanya melotot lebar seketika saja kulit wajahnya merah terbakar.


"Maaf, Nyonya. Ini perintah Master, kami tidak bisa membiarkan Anda keluar dari rumah ini," tegas salah satu penjaga.


Ibu semakin meradang, kepulan asap seolah-olah menyembul dari sela-sela rambutnya yang dicat hitam.


"Aku hanya bosan dan akan berjalan-jalan sebentar saja di luar. Setelah itu aku akan kembali ke rumah ini, aku berjanji tidak akan lama," ucap Ibu merayu meskipun menahan geram dalam hati.


"Maaf, Nyonya. Tetap tidak bisa. Anda tidak bisa ke mana pun selama surat izin belum datang dari Master," sahut mereka lagi membuat Ibu yang tak tahan untuk tidak meledak.


"Kalian pikir kalian ini siapa? Minggir, kalian tidak bisa menghalangi jalanku!" hardik Ibu lagi sembari mencoba untuk menembus brikade yang mereka bentuk.


"Anda tidak bisa melakukan ini, Nyonya. Anda harus tetap di rumah dan tidak diizinkan melangkah keluar," sahut mereka keukeuh.


"Minggir! Aku mau lewat!" Wanita yang tak lagi muda itu tetap merangsek ke depan menerobos pertahanan mereka.


Cana yang baru saja sampai di halaman mansion tersebut menghentikan langkahnya saat mendengar suara keributan itu. Ia menoleh ke belakang tubuh pada pekerja wanita yang mengekorinya.


Melihat reaksi dari mereka, Cana tahu seperti apa tabiat dari Nyonya rumah besar itu. Ia melanjutkan langkah memasuki mansion sekaligus membantu para penjaga memberi pengertian kepada Ibu.


Kulit dahi Cana terlipat melihat seorang wanita tua memaksa untuk pergi. Terjadi adegan dorong-mendorong antara penjaga dan dirinya. Dari ucapan yang terlontar bibir keriput itu Cana tahu dia berencana keluar mansion untuk mengusir rasa bosan. Padahal, tidak seperti itu.


Melihat itu, Cana semakin dalam memasuki mansion hingga berdiri di dekat mereka yang masih saling mendorong itu.


"Maaf, Nyonya. Mereka hanya menjalankan tugas dari pimpinan mereka. Sebaiknya Anda menurut karena semua itu demi keselamatan Anda," ucap Cana dengan lemah lembut.


Ibu berhenti mendorong para penjaga begitu mendengar suara Cana mencegah. Mata lebarnya semakin melotot tidak terima dengan ucapan Cana.


Kerutan di dahinya semakin menumpuk, ia melangkah maju tanpa rasa takut akan sosok Nyonya yang galak itu.


"Aku memang tamu di sini, tapi aku tahu bagaimana kondisi kota Elang di luar sana. Kota sedang kacau sekarang, disaat semua orang ingin berdiam diri di rumah kenapa Anda justru ingin keluar rumah dan menemui bahaya?" ungkap Cana semakin tidak mengerti dengan jalan pemikiran Ibu dari Chendrik ini.


"Omong kosong! Itu hanya akal-akalan Chendrik saja untuk mencegahku menghabiskan uangnya. Aku tetap tidak percaya dan ingin keluar sekarang juga!" bentaknya lagi semakin brutal.


Ia kembali mendorong para penjaga kali ini lebih keras dan kuat dari sebelumnya.


"Aku tidak mengerti dengan isi pikiran Anda, Nyonya. Disaat anak Anda ingin melindungi Ibunya dari bahaya, Anda justru ingin mendatangi bahaya itu sendiri. Betapa kecewanya Chendrik disaat tahu Ibunya ini justru menganggapnya membual," sarkas Cana tetap berusaha tenang meskipun hatinya menggeram.


"Kalian tetap tidak bisa mencegahku! Minggir, aku ingin pergi keluar!" ucapnya semakin berapi-api.


Cana tak dapat menahan dirinya lagi, rasa kesal terus membuncah hingga ke ubun-ubun. Ia bahkan mengetatkan rahang saking kesalnya.


"Bawa wanita sombong itu ke hadapan benda besar di ruang sana! Tunjukan pada matanya yang buta keadaan kota sesungguhnya!" perintah Cana dengan tegas.


Dua orang penjaga sigap mencekal kedua tangan ibu Chendrik, membawanya ke ruang keluarga di mana sebuah televisi besar terpampang di sana. Para reporter pastilah memberitakan kekacauan di kota. Cana berjalan layaknya seorang pemimpin mengawal penjahat.


"Lepaskan aku! Beraninya kalian memperlakukan aku dengan kasar seperti ini! Lihat saja aku akan mengadukan kalian kepada Chendrik!" jerit wanita tua itu tanpa dipedulikan oleh semua orang.


Mereka tahu hubungan antara dirinya dan master mereka tidaklah baik. Juga atas perintah Chendrik, lakukan apa saja untuk mencegah Ibu keluar dari rumah. Mereka menerima perintah Cana karena posisinya dianggap lebih tinggi dari pada wanita tua itu.


Ia didudukkan di atas sofa single, kedua bahunya dicengkeram agar tidak memberontak. Matanya menjegil lebar menatap nyalang Cana dan para penjaga.


"Awas kalian, akan aku adukan pada Chendrik!" ancamnya tidak main-main.


"Nyalakan, dan biarkan dia membuka matanya lebar-lebar!" Cana menunjuk benda besar itu. Ia berdiri di samping sofa memperhatikan wajah tua ibu Chendrik.


Seorang penjaga berjalan ke depan, mengambil remote dan menyalakan televisi besar yang menyiarkan sebuah berita tentang kekacauan di kota Elang. Perlahan garis wajah keras wanita tua itu mengendur, kedua alisnya terangkat tinggi-tinggi, rasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya dalam televisi.


"Kau lihat sekarang! Seperti itu keadaan kota kita saat ini, jika kau keluar dari wilayah ini aku tidak yakin kau akan pulang dalam keadaan selamat. Sekarang, apa kau masih ingin keluar rumah?" ucap Cana setelah sebuah berita tentang keadaan kota yang kacau menyapa kedua matanya.


Ia meneguk saliva, ketakutan perlahan memancar dari wajah tuanya, ia tak lagi memberontak. Diam tak berkutik dengan pandangan fokus pada televisi. Cekalan di bahunya terlepas, mereka semua kembali tenang dan sedikit lega, tapi tetap tidak mengendurkan kewaspadaan.


Cana menghela napas lega, mendaratkan bokong di atas sofa berhadapan dengannya. Ia meraih tangan tua itu seraya menggenggamnya hangat.


"Kedua putramu sedang bertaruh nyawa di luar sana demi mengembalikan keadaan kota. Chendrik ingin kau selamat, untuk itu dia menempatkan banyak penjaga di mansion ini. Dia juga memerintahkan mereka untuk mencegahmu juga semua orang yang berniat meninggalkan mansion. Jadi, tetaplah di sini sampai keadaan kembali pulih. Kita sebagai orang tua sebaiknya mendoakan yang terbaik untuk mereka. Kau faham sekarang, Nyonya?" tutur Cana dengan lemah lembut.


Tubuh wanita tua itu bergetar, tak lama air mata berderai. Menangis sesenggukan menyesali semua tindakan. Terbayang betapa ia membenci Chendrik, tapi mendengar perjuangan juga melihat kekacauan kota, hatinya diliputi rasa sesal yang mendalam.


Cana beralih tempat duduk, memeluk ibu Chendrik memberinya kekuatan. Ia pun sama cemasnya, di markas itu ada suaminya juga anak-anak yang pernah diasuhnya. Terutama ada Zena yang mungkin saja terlibat dalam pertempuran itu.