Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Desa Hulu



"Kakak!"


Cheo yang melihat Zena ada di mansion ayahnya, berlari menuruni tangga. Memeluk gadis itu dengan erat, menumpahkan kerinduan padanya setelah beberapa hari tak berjumpa.


"Kau, rindu pada Kakak?"


Cheo melepaskan pelukan, mengangguk sambil tersenyum menatap Zena.


"Kakak juga rindu padamu. Kenapa kau tidak mengunjungi Kakak di rumah Paman?" Zena mengernyit.


Wajah Cheo nampak murung, sudah beberapa kali ia meminta kepada Chendrik untuk pergi ke rumah Adhikari. Namun, setiap itu juga ayahnya itu selalu pandai dalam mencari alasan.


"Ayah bilang itu akan sangat membahayakan Kakak, akhir-akhir ini ada orang yang selalu mengawasi rumah. Bahkan dalam satu Minggu pengawal Ayah sudah menangkap empat orang mata-mata, tapi mereka semua bungkam dan memilih mati saat ditanyai," jawab Cheo sesuai dengan keterangan yang ia dapatkan dari para pekerja mansion Chendrik.


Zena mengangkat alis terkejut, di sisinya Sebastian mengangguk membenarkan saat ia menoleh.


"Lalu, kenapa kau menjemputku?" tanya Zena sedikit tak senang melihat Sebastian yang diam mematung.


"Kenapa kau membawa Zena kemari? Bukankah kau tahu di sini sedang tidak aman untuknya?!" Suara Chendrik menggelegar dari lantai dua mansion.


Zena mendongak, melihat kemarahan di wajahnya ia tak ingin Kakak beradik itu berselisih faham.


"Kau tahu, Zena. Aku tidak datang untuk membawamu ke mari, tapi aku hanya ingin mengajakmu makan malam," ucap Sebastian lirih yang hanya didenger oleh Zena dan Cheo.


"Bas-"


"Umh ... Chendrik, dengar! Bukan dia yang mengajakku ke sini, tapi aku yang memintanya. Ada yang ingin aku tanyakan padamu, dan ini sangat penting. Aku tidak bisa membicarakannya lewat telepon," sela Zena sambil melangkah mendekati Chendrik yang masih berdiri di anak tangga terakhir.


Sebastian menatap datar wajah Kakaknya, masih jelas dalam ingatan kejadian saat ujian kemarin.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Chendrik sambil menahan kesal di hatinya. Kedatangan mereka berdua, tak hanya membahayakan Zena, tapi juga Sebastian. Ia tak ingin keduanya mendapat masalah karena bagaimanapun Sebastian adalah adik kandungnya meskipun mereka bersaing untuk mendapatkan hati Zena, tapi ia tak ingin sesuatu terjadi padanya.


"Bisakah kita ke ruang kerjamu saja?" pinta Zena yang segera diangguki Chendrik.


"Aku ikut!" Cheo menghentikan langkah ketiga orang itu.


"Tidak!"


"Ayo, Cheo. Naiklah!"


Zena memandang tajam Chendrik yang melarang anaknya. Laki-laki itu mengalah, mendengus seraya berbalik melanjutkan langkah.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Chendrik segera setelah mereka berada di ruang kerjanya.


"Kau tahu di mana desa Hulu?" Zena memperhatikan reaksi wajah pemimpin markas itu juga Sebastian yang nampak bingung.


"Desa Hulu? Kau ingin ke sana?" Chendrik memastikan.


"Sesuatu terjadi di desa Hulu ... kau tahu Ben?" ucap Zena.


Mendengar nama Ben disebut, keduanya berubah masam.


"Teman laki-lakimu yang menjengkelkan itu?" Chendrik mendengus. Masih kesal dengannya yang terus menerus mengatakan 'aku padamu'.


"Dia tidak menyebalkan, Chendrik. Dia menyenangkan," sela Zena tidak terima.


"Apanya yang menyenangkan, sepanjang ujian dia terus menatapmu mesum," timpal Sebastian tak kalah sengit.


Zena mendelik pada dua laki-laki itu. Ia sedang menghadapi masalah genting, tapi mereka bisa-bisanya menjelekkan Ben begitu mudah.


Sebastian dan Chendrik sama-sama bungkam, hal itu membuat Zena murka.


"Kalian membuat Ibu Tigris marah!" seru Cheo pelan.


Baik Chendrik maupun Sebastian, keduanya meneguk saliva kasar melihat Zena terbakar. Wajahnya menghitam bahkan asap tipis serasa mengepul dari sela-sela rambut hitam gadis bermata sipit itu.


"Oh, baiklah. Apa yang terjadi di sana?" Chendrik buru-buru menyambar, tak akan mungkin dia membiarkan Zena marah dan mengamuk. Bisa-bisa ruang kerjanya itu akan berubah menjadi medan tempur.


Zena menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Berulang-ulang ia lakukan itu demi mengurai emosi dalam hatinya.


"Masalah yang sama seperti yang terjadi di perbatasan. Anak-anak banyak yang hilang, bedanya mereka tidak kembali sama sekali. Benar-benar hilang," ucap Zena memberitahu.


Kedua laki-laki berbeda status itu menahan napas mendengar kabar mengejutkan dari Zena.


"Jadi, markas belum menerima laporan soal itu?" sambar Zena dengan yakin setelah melihat reaksi Chendrik.


"Markas?" beo sang pemimpin dengan bingung, "kenapa markas harus menerima laporan?" lanjutnya lagi bertanya.


"Kenapa kau bilang? Tentu saja karena itu tanggung jawab markas untuk menyelesaikannya!" hardik Zena sedikit kesal.


"Tanggung jawab?" Seolah-olah lupa pada statusnya sebagai pemimpin tertinggi dari markas itu, Chendrik berhasil membuat Zena kesal.


"Kemari, aku tunjukkan padamu di mana desa Hulu!" katanya seraya berjalan mendekati meja kerja dan membuka sebuah kertas besar.


Sebuah peta negara terpampang di hadapan mereka. Chendrik menunjukkan di mana letak kota Elang dan desa Hulu yang dimaksud Zena.


"Di sini adalah kota Elang, dan jika kau ingin menuju desa Hulu maka kau harus melintasi berbagai kota bahkan kau harus menyeberang pulau di Selatan. Letaknya di ...." Chendrik menarik garis lurus terus menjauh dari titik awal.


"Sini." Ia berhenti di titik paling ujung yang berbatasan langsung dengan negara lain.


Sebastian mengangguk, ia pernah sekali ditugaskan di desa tersebut menjaga perbatasan antar Negara.


"Apakah itu jauh?"


"Jauh sekali!"


"Tapi mereka mengatakan akan dapat ditempuh dengan cepat jika menggunakan jalur udara."


Sebastian dan Chendrik saling menoleh satu sama lain, keduanya mengangguk membenarkan bahwa adanya jalur udara ke daerah tersebut.


"Bandara di kota sangat jauh dari desa Hulu, kau masih harus menempuh perjalanan darat selama dua hari barulah sampai di desa Hulu," jelas Chendrik lagi memberitahu.


Zena mengedipkan mata terkejut, rasanya ia tak ingin mempercayai adanya desa sejauh itu.


"Kenapa jauh sekali?" celetuknya sambil menggaruk tengkuk.


"Desa Hulu adalah desa terpencil, jauh dari kota. kehidupan di desa itu masih mengandalkan alam. Hampir seluruh penduduknya bermatapencaharian sebagai petani, menanam sayuran dan buah-buahan di ladang-ladang luas yang mereka miliki. Aku pernah singgah beberapa hari di desa itu saat menjalani misi dulu. Penduduknya sangat ramah dan mudah menerima pendatang. Mungkin karena mereka merasa terisolasi, jadilah mereka begitu antusias saat ada yang berkunjung," papar Chendrik lagi panjang lebar.


"Seperti kehidupan di pulau Liman, mereka semua menjadi petani sebelum era modern menyentuh tanah kelahiranku itu," gumam Zena membayangkan kehidupannya yang dulu.


"Lalu, apa kau akan diam saja? Kau tidak akan mengirimkan mata-mata milikmu ke sana?" tanya Zena menekan Chendrik.


Namun, reaksi yang ditunjukkan sang pemimpin bukanlah yang diharapkan oleh Zena. Urat-urat kekesalan mulai bermunculan di leher serta pelipisnya. Emosi yang semula sudah redam, kini bergolak kembali hingga menyentuh ubun-ubun.


"Dengar dulu!"


Semua orang menegang.