
Suara-suara itu semakin jelas terdengar saat Zena menempelkan telinganya pada lantai atap, suara bermacam-macam rupa berasal dari dalam bangunan itu. Bukan, itu bukan suara manusia berbincang, tapi seperti suara erangan, rintihan, suara manusia tercekik sesuatu.
Ada apa sebenarnya di dalam sana?
Zena beranjak, manik hitamnya memancarkan tekad yang kuat. Seperti biasa, dia harus bisa mengungkap semua misteri. Tubuhnya terhenyak begitu suara gaduh terdengar dari bawah. Ia melongo dari atas, memberi isyarat pada semua orang untuk menjauh.
Telunjuknya mengarah pada tempat di mana mereka masuk. Dia tak ingin diganggu, akan bekerja sendiri menuntaskan semuanya. Entah bagaimana, semua orang itu menurut. Pergi secara perlahan menjauh dari bangunan itu.
Setelah memastikan semua orang menjauh, Zena mulai mencari jalan masuk. Sebuah pintu atau apapun itu. Dia yakin di atas sana ada jalan untuk masuk ke dalam bangunan. Jika tidak, tak akan suara-suara di dalam bangunan itu terdengar jelas olehnya.
Zena menekan-nekan lantai atap tersebut menggunakan jari-jarinya. Terus saja ia lakukan sampai menemukan lantai yang terasa berbeda dengan lantai lain. Hanya menyerupai, tapi tidak sama. Zena menyapu lantai tersebut menggunakan tangannya, sebuah papan yang disamarkan dengan warna serupa dengan lantai.
Gadis itu mengeluarkan belati, melubangi papan kayu untuk dapat melihat isi di dalam bangunan. Zena menelungkup, menaruh satu matanya pada lubang. Meski hanya terbatas, tapi dia dapat melihat apa yang sedang mereka kerjakan. Terdapat sekitar tiga orang di bawah sana, mereka mengenakan apron di tangan masing-masing memegang sebilah golok. Layaknya seorang penjual daging, mereka sedang mencincang sesuatu di atas meja.
Darah berceceran di lantai, di bawah meja itu. Ada beberapa benda bulat berbulu yang diletakkan di kolong meja tersebut. Zena masih belum dapat mengira kegiatan apa yang sedang mereka lakukan. Dia harus menunggu sampai mereka bertiga meninggalkan ruangan.
Zena beralih menempelkan telinga untuk dapat mendengar lebih jelas suara-suara di dalam sana. Suara pintu berderit terdengar, ketukan langkah mengiringi.
"Istirahat dulu, makanan sudah siap."
Tak ada yang bersuara setelah suara perintah itu. Beberapa derap langkah terdengar sebelum pintu ditutup. Zena bergegas membuka papan kayu tersebut, menggunakan belati dia mencungkil celah-celah papan yang ada.
Satu papan terbuka, tak cukup besar untuk ia masuki. Zena kembali membuka satu papan, merayap turun sambil memasang kembali papan tersebut sebelum melompat ke lantai. Genangan darah menciprat ke tubuhnya, bau amis yang menyengat menyambut kedatangannya.
Zena merinding memperhatikan lautan darah di lantai yang ia pijak. Ruangan tanpa ventilasi, pengap dan bau karena hanya sedikit udara yang masuk ke dalamnya. Kipas angin di tembok berputar-putar ke kanan dan kiri untuk mengusir hawa panas ruangan.
Ia berbalik menatap meja-meja yang digunakan orang-orang tadi untuk mencincang sesuatu. Golok mereka masih menancap di pinggiran meja, ada bekas darah dan sisa daging yang tertinggal di atas meja.
Di mana mereka menyimpan daging-daging itu.
Zena teringat benda bulat-bulat berbulu yang dilihatnya di kolong meja. Ia berjongkok, ada tiga buah benda bulat di bawah sana. Semuanya berbulu hitam dan dilumuri darah. Zena membelalak saat mengenali benda tersebut.
Ini seperti kepala manusia, tapi apa yang mereka lakukan dengan kepala manusia ini? Jangan-jangan ....
Mata Zena semakin melebar, dia berdiri dan mendekati lemari pendingin yang terdapat dalam ruangan itu. Membukanya lebar-lebar, ada banyak bungkusan yang entah isinya apa. Kemungkinan itu adalah daging yang mereka cincang tadi.
Di dalam kotak pendingin itu, terdapat beberapa kotak kecil yang dipisahkan secara khusus. Disatukan dalam satu tumpukan, dan itu menarik perhatian Zena untuk membukanya.
"Astaga! Apa aku tidak salah lihat? Tadi itu ginjal manusia." Zena bermonolog sendiri.
Dia mengambil kotak yang lainnya, kali ini Zena sudah mempersiapkan diri untuk melihat kemungkinan-kemungkinan lain.
Benar saja, meski sudah menyiapkan diri tetap saja Zena menahan napas saat melihat benda yang tersimpan di dalam kotak tersebut. Sebuah jantung manusia yang diawetkan di dalam es. Zena menebak, kotak-kotak yang lainnya juga pasti berisi sama. Organ dalam manusia yang mereka ambil.
"Bedebah! Mereka semua keji, kenapa tega sekali berbuat hal kejam seperti ini?"
Zena menggeram, ia menyimpan kembali kotak-kotak itu pada tempatnya. Bunyi langkah mendekat mengusik ketenangannya. Ada suara anak-anak juga yang terdengar lemas tak bertenaga. Menolak ikut dengan mereka. Pandangannya meluas, mencari tempat bersembunyi.
Di sudut ruangan itu, terdapat beberapa bungkus plastik sampah yang menumpuk. Zena bersembunyi di balik tumpukan sampah itu, ia bersiap dengan busur di tangan.
Satu orang yang tadi masuk menjinjing seorang anak kecil yang tak berdaya. Zena menunggu dua lainnya, tapi pintu ditutup rapat olehnya. Laki-laki tambun itu mengangkat anak kecil dan meletakkannya di atas meja. Wajahnya dingin tanpa ekspresi seperti halnya para mayat hidup yang tak bernyawa.
Dia mengambil golok yang menancap di pinggiran ranjang dan menajamkannya pada sebatang asahan. Anak kecil itu tak dapat melakukan apapun selain menangis. Zena sigap berdiri, menghadap laki-laki yang memunggunginya.
Tangannya terangkat bersiap memotong tubuh anak kecil tersebut. Zena yang telah bersiap dengan busur, melepas anak panah tepat di bagian jantungnya.
"Argh!"
Penjahat itu mengerang, golok di tangannya jatuh menghantam lantai. Tentu saja tak akan terdengar keluar karena suara musik yang berdentam-dentam menyamarkan suara-suara lainnya.
Mata kecil itu membelalak, melihat ke arah Zena yang telah mencabut samurai di tangannya. Laki-laki itu masih dapat berdiri tegak, dia bahkan berbalik hendak menyerang Zena.
Namun, ayunan samurai di tangan gadis itu, mendahului langkahnya. Kepala itu jatuh diikuti tubuhnya yang berdebam menghantam lantai. Buru-buru Zena mendatangi ranjang, mengambil anak itu dan menyembunyikannya di dekat tumpukan sampah.
Sementara jasad si penjahat, ia letakkan di dalam kotak pendingin yang masih terdapat banyak ruang. Dia kembali bersembunyi bersama anak tadi. Anak yang malang, entah apa yang mereka lakukan padanya sehingga tubuh kecil itu lemah tak berdaya.
Suara langkah kembali terdengar, kali ini Zena tidak menunggu lama. Dia menyambut kedatangan penjahat itu di balik pintu dengan samurainya. Begitu pintu dibuka dan ditutup lagi, dia sudah kehilangan nyawa. Jatuh bersama kepala yang ikut menggelinding ke sudut ruangan.
Dia melakukan hal yang sama seperti penjahat yang pertama. Lalu, menunggu penjahat ketiga masuk. Zena tahu karena di dalam ruangan itu terdapat tiga buah meja yang mereka gunakan untuk mengeksekusi para korban.
Cukup lama menunggu penjahat ketiga tidak muncul-muncul. Disaat Zena hendak membawa dua anak ke atas atap, pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dan penjahat ketiga masuk bersama anak lainnya.