Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Semakin Kacau



"Masalah di perbatasan semakin kacau, para nelayan di sana enggan menjual hasil tangkapan ikan mereka ke pasar ataupun ke penduduk setempat. Semua ikan di sana seolah-olah mempunyai tempat sendiri dan tidak diizinkan beredar di tempat yang seharusnya. Dampaknya telah terasa di kota Elang ini, di mana ikan-ikan mulai langka di pasaran. Baik pasar tradisional maupun swalayan-swalayan."


Laporan dari salah satu prajurit yang bertugas di perbatasan kepada Chendrik di mansionnya. Tanpa sengaja ditangkap telinga Zena, darahnya berdesir seketika hingga naik ke ubun-ubun.


Lenguhan napas Chendrik pun terdengar berat dan panjang, ia tak bisa berdiam diri saja. Namun, jika ia pergi, maka itulah yang diinginkan para bandit itu.


"Lalu, bagaimana masalah di rumah sakit? Apa Master sudah dapat menemukan akarnya?" Chendrik bertanya kepada yang lain.


"Rumah sakit setiap hari menerima pasien yang kehilangan organ dalam, Master. Baik dewasa maupun anak-anak, mereka selalu berdatangan setiap hari. Pasokan obat-obatan mulai jarang dan stok di farmasi semakin menipis. Rumah sakit juga tidak mendapat alat-alat medis yang baru. Tak hanya di sini Master, tapi di tempat lain pun sama." Laporan yang tak mengenakan semakin menambah kacau keadaan.


Para mafia itu rupanya sudah terang-terangan menantang Chendrik. Mereka sengaja membuat ulah dan ingin menguasai perekonomian. Ini tidak bisa dibiarkan.


"Ini semakin kacau dan tidak bisa dibiarkan. Bagaimana keadaan masyarakat dan pemerintah setempat?" Berharap ada kerjasama antara semua pihak.


"Pemerintah sedang mengadakan rapat membahas semua ini, Master. Mereka meminta master Adhikari untuk datang menjelaskan situasi di rumah sakit. Sedangkan masyarakat banyak yang mengeluh karena mulai terkena dampak dari semua kekacauan ini."


Chendrik kembali mendesah, mengandalkan pemerintah yang selalu berjalan lambat hingga keadaan semakin kacau seperti sekarang ini.


"Semoga mereka segera menemukan solusinya," ucap Chendrik penuh harapan. Ia memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.


"Kenapa tidak kau sendiri saja yang datang ke rapat itu, Chendrik? Katakan semua masalah dan tekan mereka untuk menemukan solusi. Jika sampai berlarut aku yakin, kota ini akan dikuasai oleh mereka dan kita akan semakin kesulitan mengatasinya," sambar Zena sambil berjalan ke tempat mereka bertiga membahas semua masalah yang terjadi.


Chendrik melempar pandangan ke arah gadis itu, bukannya ia enggan untuk datang, tapi pemerintah merasa paling berkuasa hingga tak pernah mendengarkan pendapatnya.


Chendrik mengibaskan tangan mengusir kedua pelapor. Ia ingin berbicara empat mata saja dengan gadis itu, mengajaknya ke ruang kerja yang satu kali pun tak pernah dimasuki Zena. Ruang kerja Chendrik sama seperti ruang kerja milik orang lainnya, deretan buku seperti perpustakaan kecil terpasang di salah satu sudut ruangan. Berkas yang menumpuk di atas meja, sofa dan meja juga hal-hal lainnya yang selalu tersedia di ruang kerja.


Zena mengernyit di saat netranya menangkap sesuatu yang tak asing. Ia berjalan mendekat pada dinding itu, melihat dengan saksama gambar dua orang yang nampak gagah dan berani mengenakan seragam tertinggi markas tersebut.


"Bukankah ini gambar kedua orang tuaku? Kenapa kau memiliki gambar mereka?" tanya Zena tanpa mengalihkan pandangan dari figura besar yang terpampang di hadapannya.


Rindu itu kembali mencuat, bergejolak ingin dimuntahkan. Hanya saja, siapa yang bisa mengobati rasa itu? Sementara mereka telah berbeda alam.


"Kau benar. Semua pemimpin markas memiliki gambar mereka di ruang kerjanya. Hal itu untuk mengenang keduanya agar tak mudah dilupakan begitu saja. Bukankah mereka terlihat gagah dan berani? Sama seperti dirimu yang tak pernah mengalah pada takdir," tutur Chendrik sembari berjalan dan berdiri di samping Zena.


Gadis itu meneguk saliva, kesedihan seketika merundung hati. Kepergian sang Ayah tanpa pamit dan pesan, menjadi pukulan terhebat untuknya. Kisah tentang seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun yang harus hidup sendiri di pulau terpencil setelah kepergian ayahnya, kembali membayang dalam benak.


Kerasnya hidup yang dia jalani, membuatnya pandai menyembunyikan kelemahan serta kerapuhan yang sebenarnya bersarang dalam hati. Chendrik melirik, hatinya bergetar melihat Zena terdiam membeku. Untuk kedua kalinya, ia melihat gadis itu menitikan air mata.


Ia meneguk saliva, tak tega melihat air itu jatuh dari pelupuknya. Namun, dengan begitu, ia tahu bahwa gadis di sampingnya masih manusia normal biasa yang juga bisa menangis. Dibalik sifatnya yang ceria, tersimpan kerapuhan yang teramat.


"Kau tak apa?" Pada akhirnya bertanya khawatir Zena akan terpuruk.


Gadis itu mengusap air yang tanpa sadar jatuh dari mata, berbalik menghadap Chendrik dengan manik yang berpendar penuh tekad.


"Ah, benar. Masalah pemerintahan, aku segan untuk melangkahkan kaki ke gedung tersebut. Mereka tak pernah mendengar pendapatku, hanya menganggapku sebuah tunggul kayu yang tak bernyawa," ucap Chendrik.


"Lalu, kenapa Paman pergi?" Zena menyelidik.


"Master Adhikari tidak pernah membuka statusnya sebagai seorang master di markas Mata Elang. Untuk itu, tak ada yang tahu jika ia adalah salah satu pemimpin di markas. Berbeda denganku yang sudah banyak dikenal kalangan," ungkapnya.


Zena manggut-manggut mengerti. Itulah sebabnya Adhikari yang mengusulkan diri untuk menjadi orang tuanya. Masalah sekolah, pihak sekolah secara tiba-tiba meliburkan siswa terkait dengan berita terbakarnya sebuah villa di balik perkebunan karet. Ini juga yang menjadi pikiran Zena.


"Kali ini kau perlu datang, Chendrik. Dengarkan seperti apa solusi dari mereka, aku hanya ingin tahu bagaimana cara pemerintah saat membahas soal kekacauan yang terjadi," ucap Zena dengan tegas.


Chendrik termangu, pandangannya jatuh dan terpatri pada manik kelam milik gadis di hadapannya. Sama-sama terdiam menyelami alam pikiran masing-masing.


"Jangan terlalu lama menatapku, aku khawatir kau akan jatuh dalam pesonaku dan tak dapat melarikan diri dari sana," sergah Zena meski dingin, tapi terdengar menggoda.


Chendrik tersenyum tipis, ia mengakui dalam hati. Mengakui bahwa dia memang telah jatuh ke dalam kubangan cinta gadis itu dan tak ingin lari. Zena mengernyit tak suka.


"Baiklah. Apa yang harus aku lakukan?" katanya mengulum senyum dengan melipat kedua bibir.


"Sudah aku katakan kau harus datang ke rapat itu sekarang juga!"


"Aku tidak mau."


"Biarkan aku yang pergi. Akan aku buat gedung itu porak poranda sama seperti saat aku menyerang markasmu!" tegas Zena tidak main-main. Kilatan emosi yang memancar di matanya, membuat Chendrik menghilangkan senyum sekaligus membuat tubuhnya tegang.


Ia mendesah pasrah. "Baiklah. Aku akan pergi." Menyerah.


"Kenakan seragam-mu sebagai pemimpin markas," titah Zena yang tak dapat ditolak Chendrik. Laki-laki berusia lebih tua darinya itu hanya mengangguk patuh tanpa dapat membantah.


Zena keluar dari ruang kerja Chendrik, turun ke lantai satu, kamar belakang tujuannya. Ia melihat dua orang yang melapor tadi masih ada di ruang tengah mansion Chendrik.


"Kalian, ikutlah dengan Chendrik ke rapat tersebut!" Hanya begitu saja, ia terus melanjutkan langkah menuju mansion belakang.


Berselang, Chendrik menuruni anak tangga menuju lantai satu. Beruntung, pagi itu Cheo sedang pergi bersama Tigris.


"Ikut aku!" titahnya pada dua orang itu.


"Siap, Master!"


"Tunggu!"