Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kelas



"Hah ... akhirnya!" Ia merapatkan bibir membentuk garis lurus. Duduk menunggu di depan sebuah ruang kantor yang jarang dilintasi para siswa. Seperti apa ceritanya, dia sendiri tidak tahu bisa mendaftar sebagai siswa pindahan. Mereka hebat! Zena mengakuinya.


Iris kelamnya berkeliling mengamati keadaan sekaligus menghafal setiap lorong di sekolah tersebut.


"Nak Zena! Masih di sini?" tegur Kepala Sekolah yang memintanya untuk menunggu, tapi tidak di depan ruang guru.


"Aku tidak tahu harus menunggu di mana, Pak. Aku belum mengenal siapa pun di sini," ucap Zena. Ia berdiri dan sedikit membungkuk tanda hormat kepada laki-laki tua beruban itu.


Bibirnya yang keriput membentuk garis lengkung ke atas. Zena sama seperti siswa yang lainnya, dia cantik dan menarik, tapi juga mangsa yang empuk untuk para pemangsa.


"Ayo, saya antar ke kelasmu!" Ia melangkah terlebih dahulu, diikuti kaki jenjang Zena yang melangkah anggun. Sepanjang perjalanan itu, Zena terus mengamati keadaan gedung sekolah. Lantai dua, lantai tiga, adalah yang mereka tuju.


Kelas tiga C. Lumayan, tidak buruk.


Suara pintu diketuk menghentikan seorang guru yang sedang menulis di papan tulis untuk menoleh keluar.


"Silahkan!" Kepala Sekolah membawa Zena masuk, mereka berdiri di depan kelas. Memperkenalkan Zena secara singkat pada teman-teman sekelasnya.


"Hallo, saya Zena. Ke depannya, tolong bantu saya untuk beradaptasi di sekolah ini," ucap Zena sambil menunduk dan tersenyum manis.


"Kau bisa duduk di sana." Kepala Sekolah menunjuk satu bangku kosong, di sebelahnya diduduki seorang siswa laki-laki yang tak acuh pada kehadirannya.


Zena tak ingin berbasa-basi, ia menuju bangku dan duduk tanpa beban. Melirik siswa itu tanpa minat sebelum mengeluarkan alat tulis dari tas. Penampilannya yang berbeda, menjadikannya bahan bisik-bisik telinga.


Zena melempar tatapan pada satu per satu dari siswa perempuan di kelas tersebut. Mereka sama sepertinya, mengenakan rok minim dengan kaus kaki pendek pula. Tak seperti dirinya, yang dibelikan Chendrik stoking panjang hingga hampir menutupi lutut.


Mata elangnya mengamati keadaan kelas, tingkah para siswa juga guru yang terus menulis tanpa peduli pada muridnya yang ricuh. Kelas C, mungkin kelas terendah di antara kelas yang lain.


Suara sabetan tongkat di atas meja menyentak Zena yang terhanyut dalam keriuhan siswa di kelas tersebut. Kelopak matanya terpejam dengan napas tertahan. Zena menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan.


Ia mulai mencatat apa yang ditulis guru di papan tulis, sedangkan guru tersebut langsung duduk dan sekali lagi tak peduli pada keadaan kelas yang riuh. Ia bahkan membiarkan siswa yang tidak ikut mencatat apa yang ditulisnya.


Zena mengernyit saat sesuatu yang ia torehkan di atas kertas terasa janggal.


"Maaf, Pak. Sepertinya Bapak salah memberi materi. Apa materi yang semacam ini pantas diberikan pada remaja seperti kami?" Zena mengungkapkan keberatannya atas materi yang diberikan oleh guru tersebut.


Laki-laki bertubuh tambun tampak tak senang. Ia menurunkan kacamata dan menaikannya lagi, menatap tajam pada Zena yang masih berdiri usai mengutarakan keberatan.


"Tahu apa kau soal materi di sekolah? Masuk kelas saja belum sampai satu hari sudah protes soal materi yang diberikan. Catat jika ingin dan lupakan jika kau keberatan," jawab laki-laki bergelar guru tersebut dengan lantang dan tegas.


Tentu saja aku keberatan, kau menanamkan hal yang tidak pantas kepada otak para murid di sini.


Zena mengedarkan pandangan, semua siswa mengunci pandangan ke arahnya. Berbagai macam pandangan ia dapatkan. Iba, kasihan, jengah, marah, kesal, bahkan benci sekalipun ada dalam pandangan mereka.


"Ada apa? Apa kau ingin mempraktekannya di sini?" cibir guru tersebut sambil menatap mesum pada Zena.


Kurang ajar! Jika bukan karena sebuah misi, sudah aku patahkan lehernya.


Zena menggeram dalam hati.


Ia hanya menggelengkan kepala sambil menunduk. Sementara kedua tangannya terkepal erat menahan geram yang meraja. Ia duduk kembali dan melanjutkan tulisannya. Namun, bukan soal materi di papan tulis yang ia catat, tapi soal apa yang terjadi hari itu.


Sekali lagi Zena menatap sekeliling, para siswa memang tak ada yang mengenakan mantel. Mereka menepuk-nepuk tas memberitahu Zena untuk menyimpannya. Dengan terpaksa ia membuka mantel dan menyimpannya di dalam tas.


Seragam lengan pendek itu mengekspose tangan Zena yang seputih porselen. Membuat laki-laki tambun di depan kelas meneguk ludah penuh hasrat. Zena tak acuh, ia terus mencatat apa yang perlu dicatat sebagai bahan pertimbangan untuknya. Berharap segera menemukan petunjuk tentang hilangnya para gadis remaja.


Ini mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan silam di mana ia dan Cheo menggagalkan perdagangan manusia juga perbudakan yang dilakukan salah satu kelompok mafia di sebuah bangunan bekas pabrik.


Pasti ada sangkut pautnya dengan mereka. Ah, aku ingat, ketua mereka saat itu melarikan diri. Aku harus mencari tahu. Apa perlu aku datangi tempat itu lagi?


Zena menutup buku dengan pandangan kosong ke depan. Memikirkan para wanita juga anak kecil yang ia bebaskan dulu, pastilah ada kaitannya dengan kejadian waktu itu.


Tuan Hirata! Seperti apa dirinya? Aku yakin dialah dalang dibalik semua ini, tapi aku tidak tahu di mana dia berada?


Zena mendesah, terus berpikir tanpa terganggu oleh suara-suara gaduh di sekitarnya. Hanya ada satu orang yang terus diam bahkan tak mengeluarkan suara sepatah katapun. Remaja laki-laki yang duduk dekat dengannya.


Zena melirik. Tak ada yang istimewa darinya, dia biasa saja. Penampilannya sama seperti remaja lainnya hanya saja tak banyak bicara.


"Ada apa? Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" tanyanya dengan suara dingin menusuk. Pandangannya tajam dan tak ramah, hal itu membuat Zena harus mewaspadainya.


"Ah, tidak ada apa-apa. Aku Zena, kau siapa?" Zena berpura-pura. Gelagapan seperti orang yang tertangkap basah.


"William!" jawabnya singkat. Uluran tangan Zena tak disambutnya. Sekilas Zena melihat bulir dendam di maniknya yang berwarna biru. Juga pancaran tekad yang coba ia sembunyikan, tapi semua itu tak akan lepas dari sorot pandang Zena. Sekilas, ia adalah remaja laki-laki yang tampan. Garis wajahnya terpahat sempurna nyaris tak ada celah dengan kulit putih lesi.


"William. Baik, akan aku ingat," katanya seraya menarik kembali tangan yang ia kepalkan. Zena membuka kembali bukunya, menulis di lembar lain tentang remaja laki-laki misterius bernama William.


Kelas berjalan tanpa mencurigakan. Sesuatu yang janggal hanyalah tentang materi yang diberikan kepada para murid.


"Mmm ... Will, apa kalian sering mendapatkan materi semacam ini? Pelajaran ini bukankah tak layak kita pelajari?" bisik Zena pada laki-laki di sampingnya.


Target pertama!


Remaja itu melirik dengan ekor matanya, berpendar pada sederet tulisan di papan tulis.


"Menurutmu?" sahutnya membalik pertanyaan pada Zena.


"Entahlah. Aku rasa materi ini hanya patut diberikan pada mereka yang hendak membina rumah tangga, bukan siswa remaja seperti kita," celetuk Zena.


Tak ada sahutan, remaja laki-laki itu memutar bola mata jengah menanggapi Zena.


Bel tanda pulang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar tanpa tertib. Kecuali, Zena dan William yang paling akhir. Gadis riang itu mendahului William, ia berjalan sendirian di lorong menuju gerbang.


"Argh!"


"He-nti-kan!"


Sebuah teriakan kesakitan menghentikan langkah Zena.


"Jangan dengarkan! Terus maju jika kau ingin selamat!"