
Hari beranjak siang, lalu berganti sore. Mobil Zena terus melaju di jalanan besar, tapi tidak sepadat kota Elang. Anak-anak ada yang terlelap sebagian, ada pula yang masih berbincang riang. Zena hanya mendengarkan tanpa ikut terlibat dalam obrolan anak-anak bau kencur itu.
"Apakah masih jauh? Kita sudah hampir seharian di jalan, tapi belum sampai juga," tanya Cheo mulai lelah.
Ia melipat kedua tangan, mendengus kesal. Padahal mereka sudah berada di daerah tujuan, tapi jalan yang mereka lintasi seolah-olah tak berujung.
"Sebentar lagi, Kak. Hanya tinggal berbelok ke kiri setelah melewati perkebunan, desa kami akan terlihat," sahut salah satu anak dengan sabar.
Tak ada lagi sahutan, mereka terus diam sepanjang perjalanan. Celotehan anak-anak pun tak terdengar lagi, keadaan menjadi sepi. Hanya Zena seorang yang masih terjaga.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mobil mereka melintasi pasar desa yang tak terlalu ramai. Banyak pedagang menjajakkan jualannya, mulai dari aneka makanan, sampai keperluan rumah tangga. Zena menepi, turun dengan hati-hati.
Ia menghampiri salah satu lapak pedagang yang menjual beraneka macam kue. Tangannya sibuk memilih menunjuk satu per satu kue yang membuat air liurnya meluap. Dia kembali ke dalam mobil, melanjutkan perjalanan.
"Kakak dari mana?" Cheo bertanya, suaranya parau khas bangun tidur.
"Beli makanan. Itu, makanlah!" sahut Zena menunjuk bungkusan menggunakan dagu. Cheo beranjak membenarkan posisi duduknya, ia membuka bungkusan dan mengambil salah satu makanan.
"Mmm ... manis." Cheo berkomentar dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Bangunkan mereka dan makanlah bersama-sama," perintah Zena lagi.
Cheo berpindah ke belakang, membangunkan semua anak-anak yang tertidur. Hari mulai gelap, tapi jalan desa masih belum terlihat. Suara ramai memenuhi mobil, celoteh anak-anak kembali mengisi telinganya.
"Di depan sana, ambil jalan ke kiri, Kak!" seru salah satu anak menunjukkan jalan.
Zena melirik jalan, memanjangkan lehernya untuk dapat melihat jalanan di depan sana. Ia memutar kemudi ke kiri, jalanan menjadi sempit. Di kanan dan kiri adalah perkebunan warga tanpa lampu jalan yang menerangi.
"Kenapa tidak ada lampu jalan?" tanya Zena bingung.
Ia melonggarkan pijakannya pada pedal gas, mengurangi kecepatan. Langit semakin gelap, awan senja telah berganti dengan gumpalan-gumpalan hitam yang memayungi bumi. Gelap.
"Di sini sangat minim listrik, Kak, bahkan masih ada rumah warga yang tidak memasang listrik."
Zena tertegun, keadaan di sini sama persis seperti pulau Liman tempo dulu. Listrik tidak masuk, sekolah pun tak ada. Anak-anak dikirim ke pulau lain untuk mendapatkan pendidikan. Namun, seiring waktu berjalan, pulau yang terbelakang itu kini menjadi modern. Mereka bahkan membangun jalan beraspal yang menjadi akses para warga menuju tempat tujuan mereka.
Zena membuka jendela mobil, udara sejuk dan segar segara menyapa rongga hidungnya. Molekul-molekul tanpa polusi mulai mengisi paru-paru membersihkannya dari polusi kota. Garis bibirnya terangkat membentuk lengkungan sempurna. Zena membuka mulut, merasakan kedamaian yang mengaliri hatinya.
"Di sini sejuk sekali, sama seperti di pulau saat dulu," gumam Zena lirih.
Angin dibiarkannya masuk, menerpa permukaan kulit halus Zena. Sesekali tangannya akan keluar memetik helai-helai daun yang ia lintasi. Kerlap-kerip lampu di kejauhan mulai tertangkap netranya. Pertanda rumah penduduk tak lagi jauh.
Gerbang desa yang terbuat dari bilah-bilah bambu menyambut kedatangan mereka. Anak-anak itu membuka jendela, berteriak memanggil nama teman-teman mereka yang kemarin selamat dari penculikan.
Para wanita dan anak-anak bermunculan dari pintu-pintu rumah, menonton mobil Zena yang melaju lambat di jalan tengah kampung. Jalan yang hanya terbuat dari bebatuan kali yang disusun, dan tidak diberi aspal. Sudah dapat dipastikan jika hujan lebat turun, jalanan itu akan menjadi licin.
Zena tersenyum menyapa para wanita yang berdiri di teras rumah mereka, di depan setiap wanita itu anak-anak berlompatan senang. Mereka mengarak mobil Zena hingga ke tengah-tengah desa. Gadis itu beranjak turun, berputar mengelilingi van untuk membukakan pintunya.
"Ibu!" Tangisan yang mereka pertontonkan mengharu biru.
Zena tersenyum getir, mereka masih disambut dengan pelukan saat pulang ke rumah. Tidak seperti dirinya, yang harus mandiri di usia yang masih kanak-kanak. Kerutan muncul di dahi gadis itu saat melihat salah satu anak tetap berdiri di sisinya. Dia keponakan Ben, anak kepala desa.
"Barry, kenapa kau masih berdiri di sini? Di mana orang tuamu?" tanya Zena sambil memberikan sapuan lembut pada kepala anak itu.
Barry mendongak, menatap Zena lewat tatapan sayu dan sedih. Kepalanya menggeleng lemah, lantas menunduk dalam-dalam. Para wanita yang anaknya diselamatkan Zena, mendatangi mereka. Menyapa dengan ramah sekaligus mengucapkan rasa terima kasih.
"Maaf, Bu. Ke mana semua laki-laki di sini? Kenapa aku hanya melihat para wanita dan anak-anak?" Zena tak tahan ingin bertanya.
Sejak kedatangannya, tak satupun makhluk berjenis laki-laki nampak di antara mereka. Kesemuanya hanyalah perempuan dan anak-anak saja.
"Mereka sedang mencari anak-anak yang diculik, sepanjang hari tak pulang. Sudah banyak anak yang hilang dan tak pernah kembali pulang. Kali ini, pencarian dilakukan secara besar-besaran. Bukan hanya karena anak kepala desa yang ikut diculik, tapi karena kami sudah sangat ketakutan dengan teror ini, Nak," jawab wanita itu.
Matanya berkaca-kaca sedih ingin menangis, air merangsek ke permukaan dan jatuh secara tragis menghujani pipinya. Ia mendekap sang anak, rasa takut jelas nampak di garis wajahnya yang mulai keriput.
"Apa Ibu tahu ke mana mereka pergi?" tanya Zena lagi.
"Mungkin saat ini mereka pergi ke hutan. Menurut salah seorang warga ada bangunan mencurigakan di dalam hutan itu. Kepala desa dan seluruh warga sedang menyelidiki tempatnya," jawabnya lagi.
Zena melipat bibir, menunduk sambil berpikir.
"Di mana arah hutannya?"
"Kenapa? Apa kau mau menyusul mereka? Kau hanya seorang perempuan, tetaplah di sini. Biarkan saja para lelaki yang pergi. Mereka juga akan kembali," sergah wanita itu tak menutupi kekhawatiran dari wajahnya.
Zena tersenyum, baru saja ingin menyahut salah satu anak perempuan menceritakan bagaimana aksi Zena melumpuhkan para penculik mereka.
"Kakak sangat hebat, mungkin saja bisa membantu menyelidiki kasus yang terjadi di desa kita ini," pungkas anak itu penuh kekaguman.
Para wanita dan anak-anak lain yang mendengar, melongo tak percaya. Mata mereka berkedip-kedip, napas mereka berhenti berhembus.
"Ekhem! Jadi, di mana arah hutannya?" Zena mengulang pertanyaannya.
Dengan tangan gemetar, wanita itu menunjuk ke satu arah. Jalan lurus melewati desa, di ujung desa itu terdapat hutan lebat.
"Baiklah," putus Zena sambil menghela napas, "Cheo, Kakak akan pergi sendirian. Kau dan Tigris tetap di sini menjaga para warga. Jangan bertindak gegabah, tetaplah bersama mereka."
Zena mengusap rambut bocah itu sambil tersenyum. Ia berjalan masuk ke dalam mobil, mengambil busur beserta tabung yang dipenuhi anak panah. Tak lupa, senjata andalannya. Samurai legenda. Semua orang terpana melihat sosoknya yang keluar bagai seorang Dewi Perang. Nampak gagah dan berani, juga cantik tentu saja.
"Aku titip anakku pada kalian, jika kalian semua melihat seekor harimau keluar dari dalam mobil, itu temanku. Dia akan ikut menjaga kalian. Doakan aku," ucap Zena.
Dia berbalik, mengayun kaki beberapa langkah, tapi kemudian berbalik lagi.
"Umh ... ada yang memiliki kuda?"