
"Berhenti, Paman!"
Suara lantang Zena menyengat laki-laki hampir tua si pengemudi kapal cepat yang ditumpanginya. Sontak ia mematikan mesin, terapung di tengah laut. Sesuatu hilang-timbul akibat gelombang ombak yang tak henti bergerak.
Zena berjongkok di geladak, menunggu kedatangan benda tak asing yang mengapung di lautan tersebut.
"Mayat!" gumam Zena saat benda tersebut melintasi kapalnya.
"Ada apa, Kak?" Cheo mendekat penasaran.
"Mayat, sepertinya yang dikatakan para penduduk pulau Loa ada benarnya. Para mafia itu membuang nelayan di pulau Laes setelah merampas hasil tangkapan mereka," jawab Zena kembali berdiri dan meminta laki-laki tadi menjalankan kapalnya.
Bangkai kapal-kapal besar yang terbakar semalam sudah tak terlihat di pelabuhan pulau Laes. Tak satupun kapal nelayan terlihat bahkan dermaga di sana pun telah hancur tak nampak lagi.
"Pulau Laes terlihat sangat buruk dari pulau Loa dan Liman, ini benar-benar tidak bisa dibiarkan," gumam Zena dengan kerutan di dahi.
Ada kesedihan, kekecewaan, juga penderitaan dalam pancaran sinar kedua matanya.
"Cheo, hitung persediaan anak panah kita!" titah Zena tanpa mengalihkan pandangan dari kondisi pulau Laes yang seperti tak berpenghuni.
"Cukup untuk tiga kali penyerangan. Itu pun jika musuh tidak lebih banyak dari mereka yang di pulau Liman," jawab Cheo setelah memperkirakan jumlah anak panah yang mereka miliki.
Penjahat di pulau Liman memanglah yang terbanyak dari dua pulau lainnya. Zena menarik napas dalam, kapal melaju dengan lambat mendekati tepian. Ia berdiri berpangku tangan sembari memikirkan keadaan kota Elang juga markas besarnya.
Tuma, Belle, semoga mereka baik-baik saja. Kuharap kalian tidak di sana. Aku menyesal mengirim kalian ke markas, ternyata bukit hijau lebih aman dari pada markas.
Lagi-lagi ia menghembuskan napas panjang, sesak merebak dalam dada. Mencipta rasa yang bergelora. Cheo bersiap turun bersama Tigris, ia memanggul sebuah tas berisi bekal sigap menaiki punggung Tigris sebelum kapal menepi.
Tak ada kehidupan yang terlihat di pulau itu, desir angin menerbangkan dedaunan kering juga plastik-plastik sampah yang ditinggalkan para pengunjung dan penduduk. Jejak kaki manusia telah raib tersapu ombak, bangunan-bangunan juga tempat-tempat menjemur ikan berserakan di atas pasir.
Zena melangkah gontai, di mana semua penduduk? Di mana para mafia itu menyandera mereka? Langkah kaki terus berlanjut sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling pulau. Rumah-rumah warga sudah tak berupa, pakaian koyak bertebaran di mana-mana.
Ada beberapa mayat penduduk yang ditinggalkan begitu saja. Telah membusuk dan mengeluarkan aroma tak sedap. Pemukiman dijadikan tempat membuang mayat.
"Seingatku di pulau ini ada sebuah tambang pasir. Mungkinkah mereka dipekerjakan di sana?" Zena bermonolog sendiri.
Di depannya Tigris bersama Cheo memimpin dengan waspada. Hewan itu akan tahu jika saja tiba-tiba musuh mendekat. Cheo memutar pandangan ke segala arah, hanya hampa yang terlihat. Ke mana anak-anak kecil? Ke mana para Ibu mereka yang cerewet? Di mana para pembuat ikan asin? Mereka semua menghilang begitu saja.
"Cheo, ambil jalur selatan. Kita akan memeriksa tambang pasir di pulau ini," ucap Zena setelah berhadapan dengan persimpangan jalan.
Mereka berbelok ke kiri, terus berjalan melewati rumah-rumah penduduk yang sebagian telah hancur. Jalanan mulai memasuki kawasan perbukitan, di sanalah terdapat tambang pasir yang dikelola secara manual oleh penduduk pulau.
"Cepat!"
Suara bentakan dibarengi dengan lecutan seperti cambuk mengusik indera rungu Zena. Tigris membawa Cheo ke bagian hutan di kanan jalan, sedangkan Zena pergi ke bagian hutan di kiri jalan. Di punggung mereka tersampir tabung berisi anak panah. Zena dan Cheo menaiki sebuah pohon yang paling tinggi di antara yang lain.
"Biadab! Jadi kabar itu benar? Mereka menjadikan para penduduk sebagai budak," geram Zena.
Ia mengangkat busur, memasang tiga anak panah sekaligus. Jarak yang tidak terlalu dekat memang, tapi itu bukan masalah sama sekali. Cheo menghitung para penjahat, sekitar tiga puluh orang dan sebagian membawa senjata laras panjang.
Mereka tak segan memukul dan menendang bahkan mencambuk para penduduk yang membangkang. Laki-laki, wanita juga anak-anak semua dipaksa untuk menggali tanah dan menghasilkan pasir.
Hati bocah itu memanas, mengangkat busur dan memasang anak panah seraya mulai membidik. Dari kanan dan kiri anak-anak panah diluncurkan, melesat tanpa suara dan menancap dengan telak. Hujan anak panah terus menghujam di sekitar tambang, para penjahat juga penduduk kalang kabut dibuatnya.
Mereka berlarian khawatir akan terkena hantaman ujung runcing panah tersebut. Bidikan mereka adalah para penjahat yang memegang senjata. Satu per satu tubuh itu tumbang, wajah-wajah panik sang penjahat jelas sangat terlihat. Mereka mengambil senjata berupa golok dan cambuk, bersiap menyambut kedatangan musuh.
"Di sana! Di atas pohon sana, tembak!" seru salah seorang penjahat menunjukkan keberadaan Cheo.
Beruntung, bocah itu cepat-cepat turun dan bersembunyi bersama Tigris saat mesiu ditembakkan ke arahnya. Zena kembali membidik, tubuh si penembak jatuh dengan anak panah yang menancap di dahinya.
Ia turun, menyimpan busur dan menggantinya dengan samurai bersiap untuk pertempuran jarak dekat. Para penjahat itu beramai-ramai keluar area pertambangan dengan senjata di masing-masing tangan. Tersisa sekitar lima belas orang penjahat yang bergerak mendekati posisi Zena dan Cheo.
"Roarrr!"
Tigris melompat dan menerjang salah satu penjahat, untuk kemudian memakannya. Dari punggungnya, Cheo melayang sambil memainkan nunchaku menyerang musuh lainnya. Lalu, disaat mereka hendak mengeroyok Cheo, semuanya tertegun. Yang menyerang mereka hanyalah seorang bocah ingusan.
"Bocah?"
"Apakah benar dia yang melakukannya?"
"Rasanya sulit dipercaya."
Mereka bergumam sendiri, tertegun menatap Cheo tanpa tahu bahaya mengintai di belakang mereka.
"Kenapa, Paman? Kenapa kalian hanya diam saja? Bukankah kalian ingin menangkapku?" tanya Cheo dengan sikapnya yang tenang, nunchaku digenggamnya erat.
Ia sangat menyukai senjata itu. Selain terasa ringan, senjata itu juga mudah dimainkan, terutama daya serangnya yang cukup mematikan meskipun tidak secepat samurai.
"Jadi kau yang telah menyerang kami sembunyi-sembunyi?" sarkas salah seorang dari mafia tersenyum.
"Aku perlu mengurangi jumlah kalian, bukan?" sahut Cheo tak acuh.
"Sial!"
Mereka menggertakkan gigi kesal, berencana mengeroyok Cheo dan menangkapnya. Namun, sebelum mereka menjalankan rencana, Zena menyerang dari belakang. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat mereka terkejut sehingga kehilangan konsentrasi dan mudah dikalahkan.
Zena dan Cheo bersama-sama memberantas para penjahat tanpa disaksikan para penduduk yang dipaksa untuk menggali. Mereka sangat mudah dikalahkan, tapi para penduduk masih saja tak dapat melawan. Mereka berkumpul di satu titik, saling berpelukan berbagi rasa cemas dan takut.