Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Rencana Gagal



Tok-tok-tok!


"Master! Sarapan Anda datang!" Sebuah seruan di luar kamar membuat Zena mematung di depan cermin. Ia telah bersiap dengan seragam olahraga dan sedang mengikat rambutnya tinggi-tinggi.


Dahinya mengernyit, diam sejenak untuk mendengarkan lebih jeli suara di luar kamar tadi.


"Master! Sarapan Anda sudah siap? Di mana saya harus meletakkannya?" Suara itu terdengar lagi. Zena mengangkat alis bingung mendengar kata sarapan. Ia tidak pernah meminta untuk dibawakan sarapan ke kamar.


Zena melangkah pelan, membuka tirai jendela memastikan seseorang di depan kamarnya. Ia melihat seorang pelayan mansion utama berdiri dengan sebuah nampan makanan di tangan. Ia. Pelayan wanita itu tersenyum ramah, matanya melirik nampak dan pintu bergantian.


Zena membuka pintu, melirik nampan di tangan pekerja itu sebelum bertanya, "Kenapa sarapanku diantar ke kamar?" Zena melihat si pelayan dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya.


"Ya, Master. Master Chendrik yang meminta saya mengantar sarapan Anda ke kamar. Katanya ini spesial karena master sendiri yang membuatnya," jawabnya panjang kali lebar.


Ah, dialognya sudah betul belum, ya? Aku tidak salah mengucapkannya, 'kan? Semoga saja sudah sesuai dengan yang diajarkan master tadi.


Pelayan itu bergumam dalam hati, mengingat-ingat dialog yang diajarkan Chendrik sebelum dia pergi.


"Chendrik? Yang membuatnya?" Kedua alisnya terangkat heran. Terkejut mendengar Chendrik yang memasak sendiri secara khusus untuk sarapannya.


"Benar, Master. Anda pasti sangat spesial di hati master Chendrik, sampai-sampai beliau rela membuat sarapan khusus untuk Anda." Tersenyum, tapi terpaksa.


Puji saja terus, buat master Zena tersanjung karena sikap master Chendrik. Begitu, 'kan, yang tadi diucapkan Master? Aku takut lupa.


Dia kembali bergumam, tertawa dalam hati saat melihat semburat merah muncul di kedua pipi Zena. Namun, gadis itu tetap menahan diri untuk tidak tersenyum.


"Benarkah? Aku tidak tahu. Eh, tunggu! Sepertinya kau tahu banyak hal, boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Zena sambil mengambil nampan tersebut dan mencicipi masakan yang dibuat Chendrik berupa omelette sayur bertabur sosis.


"Boleh, Master. Selama itu masih dalam jangkauan otak saya, saya akan menjawabnya," katanya antusias. Senyum tersemat di bibir, dapat berbicara banyak dengan Zena adalah sesuatu yang langka karena gadis itu sangat jarang mengeluarkan suara kecuali untuk sesuatu yang penting saja.


Zena berpikir, menelisik ke sekeliling sebelum menjatuhkan pandang pada pelayan wanita di depannya.


"Tidak jadi. Pergilah, terima kasih sudah mengantar." Zena buru-buru menutup pintu, dan duduk di kursi single. Tanpa menunggu, ia melahap omelette buatan Chendrik sambil menimbang rasa yang menari di atas lidahnya.


"Mmm ... lumayan." Zena melahap habis omelette tersebut sebelum menenggak segelas susu yang juga disiapkan Chendrik.


Di mansion utama, di meja makan Chendrik dan Sebastian sedang duduk menunggu yang lainnya berkumpul. Tak lama Ibu dan Arabella bergabung. Berkali-kali wajah Sebastian melirik ke arah pintu belakang berharap Zena segera muncul.


Di depannya, ia sudah menyiapkan sarapan spesial untuk gadis itu.


Rasakan, Zena tak akan duduk sarapan di sini. Beruntung aku mengetahui rencanamu, Bas. Maaf saja, tapi Kakakmu ini selangkah lebih maju dari pada dirimu.


Chendrik terkekeh dalam hati, tapi wajahnya tetap dingin tanpa ekspresi. Dengan sengaja dia membuat omelette saat melihat Sebastian memasak di dapur untuk Zena. Ia meminta kepada pelayan untuk mengantarkan sarapan Zena ke kamarnya hingga ia tak perlu sarapan di dapur utama dan tidak memakan sarapan dari Sebastian. Licik!


"Cheo? Ada apa dengan wajahmu?" tegur Sebastian saat melihat Cheo memasuki ruang makan di mana semua orang telah duduk untuk makan. Bocah itu terlihat berbinar, tidak seperti biasanya. Semua yang ada ikut melihat bocah itu.


"Ada apa, Paman?" tanya Cheo heran, ia duduk di tempatnya dan mulai mengambil sarapan. Tak sengaja melihat makanan di depan Sebastian, Cheo menelan liurnya sendiri.


"Apa ini dibakar di atas bara?" Ia kembali mengangguk.


"Bagaimana kau tahu?" Bertanya bingung.


"Dulu, saat di pulau Kakak sering membuatkannya untukku. Itu terlihat seperti ayam? Apakah ayam hutan?" cerocos Cheo dengan binar yang berbeda.


Chendrik menahan napas mendengar celoteh Cheo, jadi masakan yang dibuat Sebastian adalah makanan kesukaan Zena dan Cheo. Rasa cemas pun mulai menjalar di hatinya, melihat Cheo yang antuasias pastilah Zena pun akan berekspresi sama seperti anaknya itu.


"Kau benar. Ini memang ayam, tapi bukan ayam hutan. Ini hanya ayam biasa yang aku bakar dengan metode yang sama persis seperti yang dikatakan Zena," ucap Sebastian sambil tersenyum membayangkan binar di wajah Zena.


"Aku boleh memakannya?" pinta Cheo. Air liurnya hampir menetes ingin segera mencicipinya. Wajah laki-laki berpangkat jenderal itu memucat, makanan itu ia siapkan untuk Zena bukan untuk orang lain.


"Tapi Paman menyiapkan hidangan ini untuk Zena. Jika kau ingin memakannya, maka tunggulah dia datang. Kita akan memakannya bersama-sama," jawab Sebastian sembari tersenyum kembali berharap Cheo akan mengerti.


Chendrik tak senang mendengar jawaban Sebastian. Ia mengerutkan dahi dengan tatapan matanya yang tajam.


"Kenapa harus menunggu? Cheo bisa terlambat ke sekolah. Mungkin saja Zena sudah sarapan di kamarnya, kita tidak tahu, bukan? Sudahlah, berikan saja," tegur Chendrik terdengar panik.


Ibu dan Arabella diam mendengarkan dua laki-laki yang selalu membahas soal Zena. Kesal, tapi kali ini mereka memilih diam saja.


"Sudahlah, Bas. Berikan saja, keponakanmu menginginkannya," timpal Ibu yang tak tahan dengan sikap dua anak lelakinya itu.


"Tapi, Bu-"


"Apa itu disiapkan khusus untuk Kakak?" Cheo menyambar, ia mulai faham dengan tujuan Sebastian menunggu kedatangan Zena. Laki-laki itu mengangguk lemas, tapi berikutnya ia mendorong piring itu ke hadapan Cheo.


"Tadinya iya, tapi sudahlah tidak apa-apa. Kau makan saja daripada terlambat karena menunggu Zena," katanya dengan tabah terpaksa mengalah lagi.


"Kenapa harus menungguku untuk makan saja?" Suara Zena menjadi angin segar untuk kedua orang itu. Sebastian mendongak, Cheo dan Chendrik sama-sama menoleh dengan ekspresi yang berbeda.


"Kakak, lihat! Paman Bas membuatkan daging asap khusus untuk Kakak. Aku menunggu karena ingin memakannya bersama Kakak," ucap Cheo menunjukkan seonggok daging panggang di atas piring.


Sebastian tertegun melihat penampilan Zena pagi itu. Ini hanya perasaanku saja atau hari ini Zena memang terlihat sangat cantik?


Tanpa sadar ia tersenyum sendiri, semburat rona mereka muncul menghias di pipi. Begitu pula dengan Chendrik, mati-matian menahan gengsi, tetap saja aliran darah seolah-olah bergejolak membakar rasa dalam hati.


"Daging asap? Itu terlihat seperti ayam? Benarkah?" Zena terus berjalan mendekat dan duduk di kursi dekat Cheo.


"Benar, Kak. Ini ayam meskipun bukan ayam hutan, tapi sama persis seperti yang Kakak buat saat di pulau?" Cheo tak sabar ingin segera melahapnya. Zena menelisik tampilannya yang sedikit berbeda.


"Memang sama, tapi baiklah. Kita makan sama-sama," katanya membuat Sebastian berbunga-bunga.


Gagal sudah rencana Chendrik untuk mencegah Zena memakan masakan Sebastian. Gadis itu tetap memakannya meski sudah menghabiskan sepiring omelette sendirian.