
"Begini ...."
Keadaan semakin sunyi disaat Zena menggantung ucapannya. Terlebih perwakilan rakyat yang ingin sekali mendapat solusi terbaik dari para penguasa.
"Menekan para nelayan menurutku itu bukan solusi terbaik karena mengganggu hak masing-masing orang hidup. Nelayan hanyalah rakyat biasa yang juga harus menyambung hidup dengan pergi melaut sambil berharap hidup mereka akan berubah untuk ke depannya. Nah, yang ingin aku tanyakan, sudahkah para penguasa, pemerintah di sini mensejahterakan mereka yang hidup di pesisir pantai?"
Terbayang saat hidup di pulau, mengantar hasil kebun pak Karim menyeberang dua pulau demi sampai ke pulau Laes untuk melakukan barter. Sayuran ditukar dengan ikan, terkadang daging, juga sebagian ada yang membelinya memakai uang.
Hidup para nelayan di pulau Laes berada di bawah standar masyarakat. Tak jarang mereka menukar hasil melaut dengan makanan pokok karena harga ikan sangat murah di pasaran. Sementara pemerintah setempat tak pernah mendengar keluhan mereka.
Mengingat hal itu, hati Zena meringis. Namun, kehidupan di pulau, baik pulau Laes dan Loa, semuanya sudah berubah. Begitu pula dengan pulau Liman, tempat tinggal Zena. Terakhir kali ia kunjungi saat Tigris diserang tim Mata Elang. Hal paling menyakitkan yang harus dilihat Zena secara langsung waktu itu.
Desas-desus kembali terdengar setelah Zena bertanya demikian. Para penguasa yang duduk berjejer di hadapan mereka, mengunci rapat mulut mereka. Tak menyangka jika akan ada yang bertanya perihal kinerja mereka secara langsung.
Zena tersenyum tipis dari balik penutup wajahnya. "Kehidupan nelayan di pulau Laes, sangat jauh dari kata baik-baik saja, Bapak Menteri. Mereka terkadang tak mampu membeli makanan pokok karena harga ikan yang jauh lebih rendah dari pada kebutuhan mereka. Bagaimana menemukan solusi terbaik untuk mensejahterakan hidup mereka yang di sana?" Kembali, kalimat Zena yang menyinggung soal nelayan membungkam mulut mereka.
Di antara perwakilan rakyat itu, ada dari mereka yang menjadi perwakilan nelayan dari pulau Laes meskipun mereka bukanlah nelayan itu. Namun, mendengar apa yang diucapkan Zena barusan, memang benar adanya. Kehidupan mereka tetap seperti itu meski pulau telah berubah banyak.
"Kami sudah memberikan harga terbaik untuk nelayan di pulau tersebut. Sesuai dengan kualitas ikan yang mereka hasilkan," sahut salah satu Menteri dengan pastinya.
Riuh rendah suara di belakang Zena seperti ribuan lebah yang hendak menyerang. Gadis itu mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk mereka berhenti beraksi.
"Kualitas? Aku kira semua ikan memiliki kualitas yang sama jika yang ditangkap para pelayan ikan yang sama pula. Tidak di pulau Laes, tidak juga di pesisir laut kota Elang ini. Mereka menangkap ikan yang sama, tapi mendapatkan harga yang berbeda meskipun sama-sama tidak membuat hidup mereka berubah." Perdebatan yang alot.
Kali ini, para penguasa tak akan bisa berkutik di hadapan Zena. Diam-diam, Chendrik tersenyum tipis. Semakin kagum pada sosoknya yang begitu tenang seperti air, tapi berbisa seperti ular. Adhikari menunduk, mengulum senyum saat melihat wajah-wajah tegang dari para penguasa di hadapan.
"Hmm ... kualitas? Apanya yang kualitas? Bahkan ikan yang ditangkap para nelayan di pulau Laes jauh lebih baik kondisinya daripada ikan di pesisir kota karena laut di pulau Laes jauh dari polusi juga limbah-limbah pabrik. Otomatis ikan-ikan di sana memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain, bukan berarti aku mengatakan ikan yang dihasilkan di laut kota lebih buruk ... tidak!" sarkas Zena yang kian menohok alam pikiran para penguasa.
Suara keributan kembali terdengar membenarkan apa yang baru saja diucapkan Zena. Sang moderator kewalahan menenangkan para perwakilan rakyat tersebut.
"Jika begitu, bagaimana menurut pendapat Anda, Nona? Apa solusi terbaik untuk masalah para nelayan?" Salah satu Menteri yang terlihat bijak membuka suaranya. Ia tersenyum ramah sambil menatap manik kecil Zena dengan irisnya yang sekelam malam.
Sudut bibir Zena terangkat, membentuk kerutan halus di sudut matanya.
"Kukira akar masalahnya sudah kita temukan. Lalu, masalah para nelayan yang tidak mau memasarkan hasil tangkapan mereka sudah dapat kita lihat. Mereka perlu menyambung hidup, mereka juga perlu berubah seiring zaman yang terus beranjak. Kebutuhan semakin meningkat, secara otomatis penghasilan pun seharusnya meningkat. Namun, mereka tetap jalan di tempat tidak pergi ke mana pun. Disaat seperti itulah, sekelompok orang datang menawarkan harga tinggi untuk ikan-ikan yang mereka tangkap. Membuat kontrak seumur hidup agar ikan-ikan tersebut tidak dipasarkan untuk umum," papar Zena.
"Seperti halnya pedagang di pasaran, mereka akan menjual barang dagangan mereka kepada siapa yang lebih bisa memberikan keuntungan untuk mereka. Jika pemerintah peduli terhadap para nelayan, 'bukan ikan-ikan yang mereka tangkap.' Maka seharunya pemerintah mulai merubah kebijakan yang dibuat agar lebih bisa menguntungkan para nelayan juga bisa diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Itu saja, silahkan dipikirkan." Zena beranjak, tak ingin lagi berada di ruangan yang sama dengan para tikus berdasi itu.
"Kita kembali Chendrik!" Perintah yang tak dapat dibantahkan oleh pemimpin markas tersebut. Ia ikut beranjak, suara tepuk tangan yang meriah mengiringi langkah keempat orang utusan markas besar tersebut.
"Ah ...!" Zena berseru disusul tubuhnya yang tiba-tiba berbalik kembali menghadap para menteri. Keadaan kembali hening, ingin mendengar apa yang akan dikatakan Zena.
"Untuk masalah obat-obatan, hentikan perbuatan kalian. Kembalikan hak rakyat seperti dulu, biarkan mereka mendapatkan hak sehat hidup mereka. Jika tidak, maka aku bersumpah tanganku sendiri yang akan menghancurkan permainan kalian. Juga ... aku sendiri yang akan menuntaskan masalah para nelayan. Ingat itu!" ancam Zena menuding lurus dan tajam para penguasa yang termangu mendengarnya.
Mereka kedapatan meneguk saliva karena gugup dan takut. Gadis kecil itu memiliki aura yang luar biasa. Mampu menggetarkan hati mereka yang selama ini tak pernah kalah dalam debat.
Zena berbalik meninggalkan ruangan bersama kelompoknya. Ia berpura-pura tidak mengenal Adhikari karena tidak ingin membuka penyamarannya.
"Nona! Nona, tunggu!" Salah seorang perwakilan rakyat mengejar Zena hingga keluar gedung. Ia dengan berani memapak langkah sang master membuat Zena mengernyitkan dahi.
"Ada apa? Kembalilah ke dalam dan dengarkan apa yang dikatakan para penguasa itu!" titah Zena dingin. Laki-laki itu bercucuran keringat mendengar suara dingin Zena.
"Ka-kami hanya ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada Anda karena telah membantu kami menyuarakan isi hati. Terima kasih, Nona. Terima kasih banyak." Ia menangkupkan tangan di dada berulang-ulang mengucapkan terima kasih kepada Zena.
Zena menelisik wajah pemuda di hadapan, tak lama senyumnya terbit indah di balik cadar.
"Kau ... putra paman Okk?" Senyum Zena mengembang lebih lebar.
Pemuda itu termangu, kedua belah bibirnya terbuka. Rasa tak percaya jika wanita hebat di hadapannya bisa mengenal sang Ayah. Chendrik melirik dengan kerutan di dahi, penasaran kenapa Zena bisa mengenalnya.
"Be-benar, Nona. Di-dia Ayah saya. Nona mengenalnya?" Ada binar di matanya.
Zena mengangguk singkat. "Apa dia baik-baik saja?" Kali ini pemuda itu yang ikut mengangguk. Rasa bahagia di hati, membuat lidahnya kelu tak dapat berucap.
"Katakan padanya, seorang gadis kecil dari pulau Liman menitipkan salam untuknya," ucap Zena dengan lembut.
Bibir pemuda itu semakin lebar terbuka, senyumnya terbit sempurna. "Ja-jadi, Andalah gadis yang selalu diceritakan Ayah? Sa-saya sudah mendengar tentang Anda, sa-saya mengagumi Anda, Nona. Se-senang sekali bisa bertemu dengan Anda," ungkapnya terbata.
"Terima kasih. Sekarang, kembalilah!" Pemuda itu mengangguk, Zena melanjutkan langkah di bawah tatapan ribuan tanya Chendrik.