Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Keberangkatan Zena



"Hirata?"


Zena mengetatkan rahang hingga bunyi gemelutuk gigi terdengar nyaring. Wajahnya mengeras, kedua mata memicing penuh dendam. Jemarinya erat mengepal, rasa dalam hati bergejolak membakar aliran darah.


"Apa dia ikut dalam penyerangan kali ini?" tanyanya.


Emosi yang membuncah bahkan merubah suaranya yang selembut salju menjadi parau dan serak.


"Aku dengar dia sendiri yang memimpin penyerangan kali ini. Separuh kota Elang saat ini ada dalam kuasa mereka, tujuan mereka selanjutnya adalah markas Mata Elang," jawab Sebastian.


"Tidak, Jenderal. Menurut kabar terakhir yang aku dengar mereka bahkan sudah menduduki gedung kepresidenan. Pemimpin dan para menteri dijadikan tawanan, dan para mafia itu menggunakan gedung tersebut sebagai markas mereka," sambar salah satu prajurit yang ikut bersama Sebastian.


Zena bereaksi, genggaman tangannya semakin erat mengepal hingga semua buku tangan memutih.


"Bedebah! Kita tidak bisa menunggu terlalu lama, saat ini juga kita harus ke kota Elang," tegas Zena yang tak ingin menunggu lebih lama lagi.


"Tunggu, Zena. Apa tidak sebaiknya kita membuat rencana dulu sebelum memutuskan pergi ke sana?" usul Sebastian yang dirasa benar oleh semua orang.


Zena berpikir sejenak, matanya menatap tajam pada kedua manik milik Jenderal muda itu.


"Baik, apa kau tahu berapa jumlah musuh? Senjata mereka, kendaraan tempur mereka? Juga apa saja yang mereka miliki sehingga berani menguasai kota Elang? Katakan padaku, apa saja yang kau tahu? Dan apa rencanamu?" cecar Zena sedikit kesal karena harus menunda perjalanan.


Gelagapan Sebastian dibuatnya. Mereka memang tidak tahu persis seperti apa penyerangan para mafia tersebut. Terutama persenjataan yang mereka miliki.


"Tidak tahu? Kita pergi!" lanjut Zena seraya berdiri dari lantai dan bergegas menuju mobil.


"Zena, izinkan kami ikut berjuang denganmu? Kami tidak tahu apakah kami diperlukan di sana ataukah tidak, tapi kami ingin membalas semua yang telah kau lakukan untuk kami, Zena," ucap Ciul berhasil menjeda langkah gadis itu.


Zena berbalik dengan kesal, ia berniat menitipkan Cheo di sana selama peperangan terjadi. Jika Ciul ikut, maka tak ada yang menjaga para penduduk. Zena termangu begitu melihat beberapa penduduk yang memiliki kemampuan melawan telah berdiri dengan sebilah senjata yang mereka miliki.


Zena terenyuh, ia benar-benar tidak menyangka ada banyak orang yang ingin berjuang bersamanya meskipun tahu bawa nyawa resikonya.


"Kalian yakin? Perlu kalian ingat lagi pertempuran ini melibatkan nyawa sebagai taruhannya. Kalian siap kehilangan semuanya termasuk nyawa kalian?" tegas Zena sembari melayangkan tatapan tajam yang menusuk sekaligus membakar jiwa pejuang dalam diri mereka.


"Kami siap, Master! Bawalah kami bersama Anda!" seru mereka kompak dan berani.


Zena tidak tahu lagi harus apa, dia hanya mengangguk menyetujui keinginan mereka. Sebastian dan sebagian temannya menaiki mobil Zena bersama Ciul dan keluarganya. Keadaan mobil tak lagi sama, ranjang disulap menjadi tempat duduk agar cukup untuk semua orang.


Sementara sebagian lagi di mobil yang dibawa Sebastian bersama para penduduk. Tak tertinggal Cheo yang tak ingin berpisah dengan Zena.


Para penduduk melepas kepergian mereka dengan perasaan haru dan doa yang terus tersemai untuk keselamatan juga kemenangan mereka semua. Zena harus memastikan keadaan musuh, barulah ia bisa membuat rencana.


Sang Jenderal meminta salah satu orangnya untuk menghubungi markas tentara dan memberi perintah sesuai yang diinginkan Zena. Gadis itu juga memberi perintah kepada sang elang untuk mengawasi keadaan kota.


Selama di perjalanan, sedikit demi sedikit mereka menerima informasi tentang banyaknya jumlah musuh, kendaraan perang mereka, juga senjata yang mereka miliki dari markas besar tentara.


"Jadi, gerbang utama kota dijaga kendaraan perang sebanyak delapan buah. Aku tidak tahu apakah markas memilikinya, tapi aku yakin markas tentara pasti memiliki. Berapa kendaraan perang yang dimiliki oleh markas tentara?" ucap Zena setelah mendengar laporan terakhir.


"Ada sekitar dua belas kendaraan perang yang dimiliki markas tentara dan disimpan di luar kota Elang. Ah ...." Sebastian termangu usai mengatakan itu.


"Itu bagus! Aku yakin pikiranmu sama denganku. Aku meminta para tentara untuk mengambil kendaraan perang itu membobol pertahanan mereka di gerbang utama. Tidak, jangan semua. Kirim sejumlah yang ada di gerbang. Sisanya menunggu dan mengawasi khawatir ada serangan tiba-tiba yang tak terduga," ungkap Zena yang sangat mudah dimengerti oleh mereka.


"Perintahkan pada markas tentara untuk menyerang melalui jalur udara saat gerbang utama berhasil dibobol. Aku dan para penduduk akan menyerang mereka dari arah lain. Kita akan berpisah nanti aku ingin membebaskan pulauku terlebih dahulu dari para pembuat onar itu," tekad Zena.


Ia tidak menerima pulau kelahirannya dikuasai para mafia. Jadi Zena memutuskan akan masuk melalui perairan di pulau Liman. Perjalanan masih sangat panjang, membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua Minggu untuk tiba di kota Elang.


Sebastian mengatur rencana Zena dan meminta markas untuk selalu siaga menerima perintah darinya.


"Kau yakin akan membebaskan pulau terlebih dahulu?" tanya Sebastian memastikan. Ia yang duduk di belakang bersama Zena, sedangkan salah satu prajuritnya mengambil alih kemudi.


"Yah, bagaimanapun di pulau itu tempat kedua orang tuaku disemayamkan. Pulau itu juga tempat kelahiranku, aku tidak ingin mereka bebas melakukan apa saja terhadap pulauku," tekad Zena sembari menahan geram di hati.


Satu yang dia pikirkan adalah rumah baru kedua orang tuanya. Seandainya saja mereka berani merusak bangunan itu, tak satupun kepala akan lolos dari sabetan samurai Zena. Yah, dia bersumpah dalam hati untuk tidak memaafkan mereka semua.


Mobil tiba di persimpangan, Sebastian dan rekan prajuritnya turun berpindah kendaraan. Para penduduk beralih ke mobil Zena.


"Berhati-hatilah, jangan sampai terluka," ucap Sebastian sembari merengkuh tubuh Zena.


Gadis itu belas memeluknya, mengangguk dengan pasti sebelum melepas pelukan.


"Kau juga, pastikan kau menggunakan strategi perang terbaik yang kau miliki. Kita harus berhasil merebut kembali kota kita!" ujar Zena sembari mengepalkan tangan di udara.


Mereka berpisah, dua mobil itu melaju berlawanan arah. Mobil yang dikemudikan Ciul menuju perairan yang terhubung ke pulau Liman. Ada sebuah tempat yang menurutnya cukup tersembunyi untuk mereka menepi.


Ciul juga mengenal beberapa nakhoda yang sering berlalu-lalang melintasi perairan tersebut. Dengan bantuan para nakhoda dan awak kapal mereka, Zena dan Ciul akhirnya dapat menyebrang tanpa hambatan.


Mereka juga bercerita semenjak penyerangan terjadi, tak ada lagi orang yang keluar masuk pulau Liman. Semua seolah mati dan lumpuh total. Zena termangu mendengarnya. Ingin segera tiba, tapi perjalanan butuh waktu selama dua hari untuk tiba di titik yang ditunjukkan Ciul. Tepatnya berada di balik hutan yang mengelilingi bukit hijau. Benar, di tempat tersebut tak ada kapal perang milik para mafia.


Selanjutnya, Zena akan menyusun rencana. Nira tetap di sana menjaga Barry sampai keadaan tenang barulah mereka akan berkumpul dengan pak Karim.


Saat malam tiba, terdengar ledakan yang cukup menggemparkan. Bumi berguncang, air laut surut lalu naik. Entah apa yang terjadi? Tapi Zena harus memastikan.