
"Ke ruanganku sekarang!" tekan Chendrik dengan wajah yang memerah marah. Entah kenapa sebabnya.
Zena mengangkat bahu tatkala Cheo menoleh padanya, bertanya lewat sorotan mata tanpa kata.
"Pergilah ke kamar, kau perlu istirahat," katanya sebelum mengambil melangkah menuju ruangan kerja Chendrik. Laki-laki bertubuh tinggi itu sudah menunggunya di sana.
Tanpa mengetuk pintu, Zena masuk dan mendapati laki-laki itu sedang berdiri memunggungi. Kedua tangan menopang di belakang tubuh menggenggam benda pipih miliknya. Zena mengernyit, tapi menutup pintu ruangan tersebut dengan perlahan.
"Ada apa?" tanyanya masih dengan raut bingung dengan sikap Chendrik yang berubah-ubah.
Chendrik berbalik, maniknya tajam menatap gadis yang nampak bingung di depannya. Zena meletakkan tas dan duduk tanpa meminta izin dari sang empu. Ia tak acuh pada Chendrik yang terlihat kesal karena merasa tidak membuat masalah.
"Apa yang kau lakukan di sekolah hari ini?" tanyanya dingin.
Zena semakin mengernyit tak suka, lebih tepatnya bingung dengan pertanyaan Chendrik.
"Tidak ada. Hari ini ada rapat di sekolah, dan Paman datang ke sekolah. Memangnya kenapa?" Ia balik bertanya.
Chendrik berdecak kesal, berpaling sebentar sebelum mematri pada pandangan Zena. Ia melangkah tanpa melepaskan pandangan, membuat Zena waspada. Ia yang duduk di sofa beringsut mengambil tas dan mendepaknya.
"Jelaskan padaku apa ini?" Ia menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan sebuah adegan memalukan untuk dilihat.
Zena termangu dengan dahi mengernyit bingung. Apa yang harus dijelaskan sementara dirinya pun tak tahu apa yang terjadi.
"Apa? Kenapa? Aku tidak tahu," katanya polos.
Chendrik menggeram, napasnya memburu tak karuan. Jemarinya meremas gawai yang digenggamnya.
"Bukankah ini kau? Lalu, siapa dia? Siapa laki-laki yang memeluk tubuhmu? Sudah aku katakan tak ada yang boleh menyentuh tubuhmu!" geram Chendrik.
Zena meringkuk takut melihat laki-laki di depannya yang terus memojokkan dirinya.
"Aku tidak tahu laki-laki itu. Dia tiba-tiba mengagetkanku dan menangkap tubuhku saat hampir jatuh," jelas Zena sesungguhnya.
Chendrik menatap tajam manik hitam milik Zena, mencari kejujuran pada kolam matanya. Zena bergeming, balas menatap Chendrik dengan berani.
"Lagi pula kenapa kau bertanya-tanya soal begitu? Kau boleh saja mengirimkan mata-mata untuk mengawasiku, tapi kau tidak bisa membatasi aku untuk berteman dengan siapapun. Tak terkecuali laki-laki." Zena memelankan suara di ujung kalimatnya. Ia menggigit bibir dengan wajah tertunduk disaat mata Chendrik semakin berkilat tajam.
Chendrik menjatuhkan tubuh, kedua tangannya mengurung Zena yang duduk di sofa. Adegan laki-laki itu yang menghisap kulitnya membayang dalam pelupuk. Zena meletakkan tas di depan wajah, menghalangi lehernya dari serangan Chendrik.
"Tidak ada laki-laki. Ingat itu! Kau begitu polos soal laki-laki, mereka bisa memanfaatkan dirimu untuk kepentingan mereka sendiri. Ingat, Zena. Laki-laki punya seribu cara untuk membuatmu lemah. Lagipula kenapa kau tanyakan lagi alasan yang sudah jelas kau ketahui?" ucap Chendrik semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Zena.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu mengaturku? Memangnya siapa kau bagiku?" hardik Zena tepat di depan wajah Chendrik. Terpaan napasnya yang hangat membuat tubuh laki-laki itu meremang. Ia suka.
"Siapa aku bagimu? Tentu saja karena kau begitu penting untukku. Aku tidak ingin gadis yang telah merawat anakku jatuh pada sembarang laki-laki. Melihatmu selalu dekat dengan laki-laki membuatku memanas, Zena. Aku cemburu," ucap Chendrik dengan suaranya yang parau.
Zena meneguk ludah, ini sudah bukan Chendrik. Laki-laki itu sedang dikuasai nafsu, dan Zena tidak bisa diam saja. Ia mendorong dengan kuat tubuh Chendrik hingga terjengkang di sofa sebelahnya. Buru-buru Zena bangkit dan hendak pergi dari ruangan laki-laki itu. Namun, tangan Chendrik cekatan mencekal tangannya. Menarik tubuh Zena hingga jatuh di pangkuan.
Zena meronta, mengerahkan seluruh tenaga untuk bisa lepas dari cengkeraman makhluk buas itu.
"Berhenti meronta, Zena. Kau membuatnya bangun," gumam Chendrik sambil mengeratkan pelukan. Ia bahkan rela menahan sakit akibat pukulan keras Zena. Chendrik harus mengelak dikala siku gadis itu hampir menghantam wajahnya.
"Aku tidak peduli, siapapun yang akan terbangun. Lepaskan, Chendrik. Bajingan!" geram Zena terus meronta melepaskan diri.
Namun, bukannya lepas, Chendrik justru menjatuhkan tubuh Zena pada sofa. Mengurung gadis itu dengan tubuhnya. Ia menyeringai dikala melihat wajah Zena yang merona merah. Gadis itu terdiam, menjadikan kedua tangannya sebagai tameng yang ia tempatkan di depan dada.
"M-mau apa kau?" Bergetar lidahnya. Sebelum Chendrik menyambar wajah Zena, tangan gadis itu mendorong tubuhnya dengan kuat. Chendrik jatuh terjengkang, bokongnya menghantam lantai cukup keras. Zena tak peduli pada tasnya, gegas mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan kerja laki-laki itu.
"Zenaaa!!!" Chendrik menjerit kesal. Ia memukul lantai melampiaskan kemarahannya.
"Kenapa kau selalu kabur dariku, tapi dengan laki-laki di sekolah kau terus saja menempel. Sialan!" gerutunya sambil menatap nyalang pada pintu yang baru saja terbanting setelah Zena keluar.
"Awas saja kau ... tapi dia terlalu kuat jika aku memaksanya. Aku akan bersikap lembut mulai hari ini. Apa, ya?" Ia berpikir mencari cara bagaimana meluluhkan dinginnya hati Zena.
Chendrik mengacak rambutnya ketika ia merasa pusing mencari cara memperlakukan Zena.
"Kau terlalu kaku, Chendrik." Ia geram sendiri dengan tingkahnya.
Menjatuhkan kepala pada sofa, menengadah menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih. Pikirannya mengawang mencari cara merebut hati Zena. Ia tak seperti Sebastian dengan sikapnya yang bersahabat. Mengajak Zena berbincang hal remeh, tak melulu masalah kasus yang sedang terjadi.
"Ah, aku tahu!" Chendrik beranjak. Keluar dari ruangan tersebut dan masuk ke kamarnya sendiri. Ia tersenyum-senyum di depan layar ponselnya. Entah apa yang sedang dia lakukan.
Sementara Zena, tak menghentikan laju larinya sampai di kamar. Gegas ia melepas semua pakaian dan menyambar handuk. Berendam setelah mengisi bathtub dengan air hangat.
"Sialan Chendrik. Kenapa dia selalu membuat jantungku mau lepas. Apa yang terjadi padanya?" gerutu Zena. Tangannya menghentak-hentak air dengan kesal.
Ia menarik napas sebelum menikmati hangatnya air rendaman yang mengendurkan otot-otot tubuhnya.
"Bisa-bisa gila aku jika selalu ada di dekatnya, tapi ... kenapa aroma napasnya harum? Rasanya aku selalu ingin mengendusnya. Apa yang dia gunakan, ya?" Zena berbicara pada dirinya sendiri. Berpikir apa saja yang ada di dalam kamar laki-laki itu.
"Apa aku harus menyelinap masuk ke kamarnya? Akan aku coba saat dia tak di rumah." Ia tersenyum licik. Lanjut berendam dan melepas semua pikiran yang membebaninya.