
Sorak-sorai para siswa yang asik di tengah keramaian pesta, menjadikan pesta itu semakin meriah. Acara sudah dimulai, pemberian penghargaan pun sudah diumumkan kepala sekolah. Zena berhasil mendapatkan satu penghargaan di bidang olahraga.
Satu per satu siswa mengucapkan selamat kepadanya, beberapa siswa laki-laki bahkan mengajaknya berdansa bersama dengan yang lainnya, tapi Zena tidak tertarik karena selain kesal ia juga tak berminat melakukan tarian.
Duduk menyendiri sambil menatapi sebuah piala penghargaan pertama untuk seumur hidupnya itu. Ia tersenyum, memainkan benda yang terbuat dari perak itu dengan takjub.
Penghargaan pertamaku, akan aku berikan pada Ibu Cana dan Ayah Adhikari.
Tak jauh darinya, Chendrik dan Cheo berdiri memperhatikan. Ingin rasanya bocah itu berlari dan mengajak kakaknya itu untuk menari bersama, tapi ia tak bisa karena saat ini kedatangannya sebagai anak dari pemimpin markas.
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika melihat seseorang yang kita sayangi, tapi harus berpura-pura tidak saling mengenal.
Di antara wanita yang ada di pesta ini, hanya kau yang bersinar, Zena. Mereka redup, sinarmulah yang paling terang.
Chendrik memuji, tersenyum membayangkan ia berdansa dengan gadis itu. Di tempat sebaliknya, Sebastian ikut memperhatikan. Tatapan matanya tak jauh beda dengan sang Kakak, memuja satu gadis paling mencolok di pesta tersebut.
Seandainya aku bisa mendekatimu, Zena. Aku ingin sekali mengajakmu berdansa, tapi aku sudah berjanji tak akan membuatmu berada dalam bahaya hanya untuk malam ini saja.
Sebastian ikut bergumam, pandang keduanya terpatri pada sosok penyendiri di tengah pesta itu. Mereka akan menggeram ketika ada siswa laki-laki yang mengajak Zena berdansa. Lalu, kembali tersenyum saat Zena menolak ajakannya.
Cheo melirik pada ayahnya, gadis yang dibawa pemimpin markas itu telah berada di tengah ruang dansa meninggalkannya karena Chendrik tak ingin melakukan dansa.
"Ayah, siapa gadis tercantik di pesta ini?" tanya Cheo cukup keras hingga membuat beberapa kepala menoleh ke arahnya termasuk Zena dan Sebastian.
Gadis itu mendengus, bibirnya mengerucut lucu saat pandang bertabrakan dengan milik Chendrik. Ia berpaling muka, wajah cantiknya nampak jutek dan judes tanpa senyum. Tak acuh pada obrolan mereka yang seolah mencari perhatiannya.
"Ayah rasa gadis yang duduk sendiri di sana itulah yang paling tercantik!" seru Chendrik sedikit menekan.
Sekali lagi Zena mendengus, ia tak peduli dan terus membuang muka darinya.
"Benarkah? Boleh aku berkenalan dengannya?" pinta Cheo, setelah lama berpikir ia mendapatkan satu ide untuk bisa bersama Zena tanpa dicurigai.
Chendrik mengernyit, beberapa detik ia tak mengerti apa maksud anaknya itu. Lalu, kemudian ia mengangguk mengizinkan Cheo untuk menjalankan rencana sendiri.
"Terima kasih, Ayah." Bocah sepuluh tahun beranjak, melangkah pelan mendekati Zena dengan wajahnya yang ditekuk. Kelakuannya menjadi sorotan, terutama dari musuh Chendrik yang ikut berbaur bersama semua orang.
"Selamat malam, Nona. Sendirian?" tegur Cheo selayaknya orang dewasa yang mengajak berkenalan pada seorang gadis.
Zena terhenyak, ia mengedipkan mata terkejut dengan kedatangan Cheo yang tiba-tiba. Bocah itu memainkan mata, mengajak Zena untuk berakting. Gadis dengan sanggul di rambut itu pun mengerti permainan yang sedang diperankan si bocah.
"Ah ... aku terkejut. Haha ...," ucap Zena setelah tersadar bahwa banyak mata yang mengarah pada mereka. Berbagai pandangan mereka dapatkan dari sebagian orang yang hadir dalam pesta.
"Anda sendirian, Nona? Boleh aku temani?"
Bocah ini, dari mana dia belajar merayu wanita seperti ini?
Zena mendelik tajam pada ayah dari bocah itu yang juga nampak terkejut. Buru-buru Chendrik membuang muka dan mencari obyek pandang lainnnya. Ia melambaikan tangan pada wanita yang menggandengnya mesra saat memasuki arena pesta.
"Ah, benar. Mmm ... kau masih kecil, tapi sudah pandai merayu seperti orang dewasa. Baiklah, silahkan. Aku tidak keberatan ditemani," ucap Zena sedikit gugup dan tersanjung dengan apa yang dilakukan Cheo untuknya.
Bocah itu mendaratkan bokong di dekatnya, menatap lekat pada wajah cantik Zena seolah-olah ia adalah pengagum rahasia sang gadis. Padahal, ia hanya tak ingin Ibunya itu ditemani laki-laki lain yang tak sepadan.
Black Shadow yang telah kembali pun ikut memperhatikan permainan yang dibuat Cheo. Ia mengernyit, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Aku Cheo, kau bisa memanggilku itu saja. Mau berdansa denganku, Nona?" Cheo memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan di depan Zena.
"Baiklah ... Zena. Dengan senang hati!" Zena menyambut uluran tangan Cheo. Bocah itu bahkan mengejutkan semua orang, termasuk Ayah dan Pamannya yang melebarkan biji manik mereka tatkala ia mendekatkan tangan Zena ke bibirnya. Tanpa segan memberikan kecupan pada kulit tangan yang selembut sutra itu.
Chendrik terbakar, entah mengapa meskipun dia darah dagingnya sendiri rasanya tak rela melihat bocah itu melakukan adegan tadi.
Bocah nakal! Awas kau!
Chendrik mengancam dalam hati, ini diluar dugaan. Ia tak pernah menyangka Cheo akan membuatnya terbakar api cemburu. Terlebih saat Zena menerima tawarannya. Keduanya beranjak dari kursi menuju area dansa. Berbaur bersama Mirah dan Sarah juga Ben yang sudah menentukan pasangan masing-masing.
Cheo dan Zena berhadapan, saling membungkuk sebelum menautkan jemari dengan mesra. Bergerak seirama dengan musik, mereka menjadi pusat perhatian sekejap saja. Mengalahkan pesona empat orang macan putih yang selalu menjadi primadona setiap tahunnya.
Sial! Bocah itu menang banyak malam ini. Anak nakal, kau benar-benar berhasil membuatku cemburu.
Sebuah hati menggeram marah.
Apakah mereka memang benar-benar tidak saling mengenal sebelumnya? Mengingat Chendrik yang terlihat gencar mendekati Zena sewaktu ujian, tapi melihat tingkah bocah itu sepertinya dia telah berhasil memikat hati Zena.
Hati yang lain sama tidak bisa menerimanya.
Padahal dia anakku, tapi rasanya panas seperti terbakar. Kenapa Zena seolah-olah menikmati tariannya bersama bocah itu.
Chendrik menggeram kesal. Ia mengambil segelas wine dan menenggaknya.
"Master! Jangan minum minuman itu!"
Sebuah suara mengusik telinga lewat earphone yang ia kenakan. Mata Chendrik menatap gelas kosong di tangan, ia sadar bahwa sedang dalam misi dan tak boleh terhanyut dalam emosi.
Chendrik meletakkan gelas tersebut pada nampan yang dibawa seorang pelayan. Ia menenangkan dirinya dari rasa terbakar api cemburu.
"Dari mana kau belajar dansa seperti ini, Cheo?" tanya Zena sambil menatap manik bocah yang kembali pada mood bocah kecilnya.
"Aku melihatnya di televisi, Kak. Aku mempelajarinya tanpa ada yang tahu," katanya setengah berbisik di telinga Zena.
Tanpa mereka tahu, Chendrik, Sebastian, dan Black Shadow ikut memasuki area dansa. Menanti perputaran pasangan untuk dapat berdansa dengan gadis primadona malam itu. Sayang, sepertinya Cheo tak berniat melepaskan Zena.
Tiba pada saat perputaran pasangan, tak ingin tertinggal Chendrik menarik tangan Zena dan menukar pasangannya dengan Cheo. Tangannya mendekap posesif di pinggang Zena, jemarinya erat menggenggam jemari Zena.
Menari mengikuti irama musik, berputar dan kembali ke dalam pelukan. Entah bagaimana caranya Zena bisa melakukan dansa tanpa terjatuh. Inilah yang menjadi tantangannya beberapa hari lalu selain belajar mengenakan high heels.
"Di mana kau belajar dansa?" tanya Chendrik berbisik di telinga Zena. Pandangannya tak teralihkan dari wajah gadis yang begitu dekat dengannya itu.
"Di rumah, bersama Ayah. Ada apa?" Chendrik nampak tak senang mendengarnya. Orang tua itu rupanya sudah mendahului. Semakin panas hatinya terbakar, semakin posesif tangannya memeluk pinggang ramping tersebut.
"Jadi orang tua itu mendahuluiku? Dia memelukmu seperti ini?" tanya Chendrik sembari menekan tangannya yang berada di pinggang Zena.
"Tentu saja, bukannya memang harus seperti ini melakukannya? Bagaimana lagi?" Zena mendengus kesal, laki-laki itu mulai mengaturnya tak sadar dia juga telah membuat hati Zena terbakar.
Perputaran kembali berlangsung, Chendrik tak berniat melepaskan Zena, tapi tangan Sebastian sigap menyambar jemari lentik itu. Zena berpindah pelukan, berbeda dengan Chendrik, bersama Sebastian ia lebih rileks karena laki-laki itu tak menunjukkan rasa cemburunya.
Satu orang lagi menunggu giliran, tapi dua laki-laki itu menghalangi.
Sial!