Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kejutan



Chendrik mengadakan rapat dadakan bersama para petinggi markas soal apa yang ditemukan Zena setelah mengkonfirmasi tentang gambar tersebut dari gadis itu. Dalam rapat, Chendrik meminta beberapa orang untuk mengawasi rumah tersebut.


Ia kembali ke ruangannya setelah rapat selesai, memandangi foto tersebut dengan saksama. Terutama pada dua orang laki-laki yang seusia dengannya itu.


"Guru? Jadi kalian menyelinap ke sekolah itu dan menyamar menjadi guru? Hebat! Kalian masih menganggapku remeh rupanya, akan aku tunjukkan seberapa berkuasanya seorang Chendrik sekarang," gumamnya seorang diri. Bibirnya tersungging sinis, sorot mata mengancam tajam.


Chendrik mengenali dua laki-laki itu, sedangkan empat gadis yang berada di teras rumah, ia baru saja tahu jika mereka itu adalah kelompok macan putih yang memiliki kuasa di sekolah tersebut.


Satu Minggu berlalu, dan hari ini Zena harus bersiap menghadapi ujian akhir sekolah. Ia mengenakan seragam resmi, juga nametag yang menggantung di leher. Pagi itu, Zena bahkan mengikat rambutnya dengan rapi.


Begitu pula dengan Cheo, setelah bertanya kepada Chendrik dan hampir setiap malam belajar dengan laki-laki tersebut, Cheo siap menghadapi ujian. Keduanya berpisah di sekolah Cheo, Zena melanjutkan perjalanan menuju sekolahnya sendiri.


Ia berjalan di koridor sendirian, terlihat tegang karena baru kali ini ia menghadapi ujian. Tidak seperti dirinya, siswa yang ia lewati nampak biasa saja bahkan mereka tertawa dengan riang. Seolah-olah tak perlu cemas dengan ujian akhir.


Ting!


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Zena. Gadis itu membukanya dan melihat pesan yang dikirimkan seseorang.


Semangat! Kau pasti bisa!


Begitu isi pesannya. Zena tersenyum, melihat gambar yang dikirimkan bersama pesan tersebut. Zena mengetik pesan balasan, sekaligus bertanya soal tugas yang sedang dijalankannya.


Terima kasih, Bas. Bagaimana masalah di perbatasan? Apa sudah kau bereskan?


Zena memilih duduk di bangku depan kelas, berbalas pesan dengan adik Chendrik yang sudah lama tak terlihat di mansion maupun di markas.


Semua aman terkendali. Kami sedang menunggu pasukan tambahan sebelum melakukan penyergapan pada sebuah tempat yang kami curigai. Kau doakan aku, Zena. Agar bisa secepatnya pulang. Aku rindu ingin melihat wajahmu.


Zena tersenyum tipis membaca sederet kata yang ditorehkan laki-laki itu. Ia mengetik balasan lagi sebelum beranjak dan masuk ke kelas karena bel tanda masuk telah berbunyi. Duduk menunggu guru membagikan kertas ujian bersama Mirah dan Ben yang sama tegangnya seperti Zena.


"Kau tegang sekali, Mirah," bisik Zena pada Mirah yang kali ini duduk di bangku sebelahnya menggantikan William.


"Terlihat sekali, ya?" Mirah meringis, ia tak mampu menyembunyikan ketegangan di wajahnya. Berkali-kali menyeka keringat yang terus menyembul dari pori-pori agar tidak tumpah dan turun membasahi seragam.


"Tenang, kawan. Aku juga tegang sekali, tapi sebisa mungkin bersikap biasa dan tenang agar otakku dapat menemukan jawaban dari pertanyaan dalam ujian ini." Zena mengangkat kepalan tangan memberi semangat pada sahabatnya itu.


Seorang guru tanpa berbasa-basi membagikan kertas ujian pada masing-masing siswa.


"Kerjakan dalam waktu tiga puluh menit. Setelah itu tak ada alasan untuk tidak mengumpulkan!" Ia duduk dengan tenang di kursinya. Menunggu semua siswa yang berjumlah lima belas orang mengerjakan soal ujian akhir.


Bulir-bulir keringat bermunculan di dahi Ben, siswa laki-laki itu nampak kesulitan dalam mengisi setiap soal di hadapannya. Zena melirik, bukankah yang seharusnya kesulitan adalah dirinya karena baru beberapa Minggu saja ia belajar di sekolah. Berbeda dengan Ben yang sudah hampir tiga tahun lamanya menimba ilmu di sekolah.


Tiga puluh menit berlalu, tak satu pun siswa yang tak beranjak. Tak terkecuali Zena. Ketiganya keluar kelas dan berkumpul bersama Sarah di bangku taman.


"Aku hanya gugup, ini ujian akhir yang akan memutuskan lulus tidaknya kita. Kau sendiri ... aku lihat kau begitu tenang," sahut Ben sembari membayangkan saat Zena ujian.


"Itu terlalu mudah untukku." Pelajaran bahasa yang dulu sering Ayah ajarkan padaku. Terlalu mudah.


Zena melanjutkan ucapannya di dalam hati. Ia bersandar pada kursi sambil melipat kedua tangan di perut. Membiarkan sinar matahari yang mulai merangkak naik menerpa wajahnya.


"Benarkah? Aku masih saja kesulitan jika pelajaran tentang bahasa. Entahlah, mungkin karena aku bukan berasal dari Negara ini," celetuk Sarah. Wajahnya cemberut dan lesu. Bahunya melorot, ia mendesah berat.


"Kau harus lebih belajar dengan giat lagi, Sarah." Mirah tersenyum, mereka terkekeh saat melihat Sarah justru menjatuhkan kepala di sandaran kursi.


"Tapi aku menunggu ujian olahraga. Biasanya kita akan dilatih dan diuji oleh ahli dari kota ini." Ben antusias berucap. Wajahnya berbinar cerah membahas ujian praktek olahraga.


"Olahraga? Ada ujiannya juga?" Zena dengan cepat beranjak melihat Ben. Siswa laki-laki itu mengangguk pasti.


"Itu benar, biasanya sekolah akan mengundang para ahli ke sekolah untuk ujian praktek olahraga. Aku juga tidak sabar untuk ujian itu," timpal Mirah dengan senyum tersemat di bibir.


"Kukira tidak ada ujian olahraga. Memangnya apa saja yang diujikan? Selama aku belajar tidak pernah sekalipun berolahraga," gumam Zena sambil berpikir.


"Banyak, lompat jauh, lari, renang, bahkan menembak dan berkuda sambil memanah semua diujikan. Dan jika kau pandai beladiri, kau bisa ikut ujiannya. Itu hanya untuk orang-orang tertentu saja," ucap Sarah lesu.


Zena mengangguk antusias. Eh? Ia terlupa harus menjemput Cheo, Zena pergi usai berpamitan pada tiga orang temannya itu. Ia ingin tahu soal ujian hari pertama Cheo.


"Semuanya lancar tanpa hambatan. Soal-soal itu sangat mudah untukku," jawabnya jumawa. Pulang dengan perasaan lega karena dapat mengerjakan soal ujian dengan baik. Chendrik tersenyum saat berpapasan dengan keduanya di halaman mansion.


Mereka berpisah tanpa saling menegur satu sama lain. Terus masuk ke kamar masing-masing dan akan bertemu kembali saat makan siang dan malam.


Beberapa hari berlalu, Zena dan Cheo dapat melewati ujian dengan baik. Tak ada satu pun pelajaran yang membuat Zena kesulitan. Semua yang ada pada kertas ujian telah diajarkan sang Ayah saat kecil dulu. Ia juga membaca banyak buku yang disediakan orang tuanya di pulau.


"Selesai juga ujian pelajaran. Hari ini kita akan mendengar pengumuman tentang pelajaran olahraga," celetuk Ben dengan nada lesu karena baru saja mereka berhadapan dengan berbagai angka. Angka-angka dalam kertas ujian itu masih berputar, menari-nari seolah-oleh mengejeknya karena tak dapat menyelesaikan ujian matematika dengan lancar.


"Semua siswa harap berkumpul di aula!" Sebuah pengumuman menggema, Zena dan ketiga temannya gegas menuju tempat yang diumumkan.


"Selamat siang siswa semua!"


"Siang, Kepala Sekolah!"


"Pada kesempatan kali ini saya akan mengumumkan kepada siswa semua tentang ujian praktek olahraga untuk tahun ini. Sekolah akan mengundang seorang ahli dalam bidang ini untuk melatih dan menguji kelas akhir. Kali ini kami mengundang seorang yang besar, beliau rela membagi waktu di tengah kesibukannya untuk membina kalian. Tak hanya satu, tapi tiga sekaligus. Silahkan!"


Tiga orang laki-laki maju perlahan, dua di antaranya menyematkan senyum. Zena terperangah tak percaya, ia menunduk demi menghindari tatapan mata ketiganya.


"Sial!"