Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Berburu



Halang rintang telah dilewati dengan mudahnya, ia berjalan pelan, kembali Membungkuk di hadapan penguji olahraga menembak.


"Semoga berhasil, cantik!" katanya menggoda, ia mengedipkan mata nakal. Oh, laki-laki itu menjijikkan ... di sampingnya seorang penguji wanita mendengus.


"Terima kasih, Master!" ucap Zena sopan.


Ia mulai memasang kacamata dan penutup telinga. Berjalan memasuki arena, Zena diberikan senjata laras pendek oleh seorang penguji, dan menerimanya dengan sopan.


Jangankan laras pendek, laras panjang saja sangat mudah bagiku.


Zena berbicara pada hatinya sendiri sambil mengambil posisi berhadapan dengan papan target.


"Amunisi di dalamnya hanya ada satu, gunakan sebaik mungkin karena itu artinya kau hanya memiliki satu kesempatan menembak saja. Mengerti?"


Peringatan dari seorang penguji perempuan terdengar tegas. Nampaknya, penguji itu didatangkan dari markas tentara pilihan. Berulang kali Zena mendapati ia melirik ke arah Sebastian, mereka saling mengenal satu sama lain.


"Mengerti, master!" sahut Zena dengan pasti.


Ia mulai membidik, posisi yang terlihat sempurna. Semua penguji memuji cara Zena mengambil posisi, tak perlu lagi membenarkan. Sebastian tersenyum saat wanita itu menoleh padanya.


Dor!


Peluru yang diluncurkan Zena melesat cepat, moncong senjata di tangannya mengepulkan asap. Tembakan Zena tepat mengenai target.


"Sempurna! Kau hebat sekali. Sepertinya kau sudah sering melakukannya, aku benar?" puji wanita itu dengan binar bangga.


Zena tersenyum, lantas menyerahkan kembali senjata itu padanya.


"Tidak juga, Master. Aku tidak sering melakukannya, ini hanyalah sebuah kebetulan semata," ucap Zena dengan sikap rendah hatinya.


Penguji wanita itu menepuk bahunya bangga.


"Kelak, kau akan sangat dibutuhkan oleh kota ini. Jadilah yang terbaik, dan asah kembali kemampuan yang kau miliki," ucapnya dengan senyum ramah yang menenangkan hati Zena.


Sungguh senang luar biasa, Zena mengangguk pasti dengan posisi tegap layaknya para tentara.


"Terima kasih, Master!" Wanita itu mengangguk sebelum mempersilahkan Zena melanjutkan ujian.


"Zena! Kau pasti bisa!" teriak Ben lagi tanpa sadar. Ia gegas bersembunyi dibalik kedua tubuh teman wanitanya saat sesuatu membuat bulu kuduknya berdiri.


"Ma-maaf, Master. Aku tidak sengaja," katanya takut-takut. Mirah dan Sarah menahan tawa, Ben dan Chendrik ibarat tikus bertemu kucing.


Laki-laki dingin itu mendengus, pandangan matanya mengancam sebelum menatap lapangan di mana Zena sedang berjalan ke arena berkuda. Ujian kali ini, ia harus berkuda ke dalam hutan sambil memanah setiap target yang disediakan.


Ujian itu ditampilkan pada layar proyeksi di sudut lapangan agar semua bisa melihat dan menilai bagaimana siswa-siswi tersebut dalam menjalankan ujian.


"Aku yakin, kali ini dia tak akan bisa melakukannya. Kita lihat saja!" cibir ketua macan putih sambil mendengus kesal.


Di antara puluhan orang yang menatap kagum pada sosok Zena, seseorang memicing curiga.


"Siapa kau sebenarnya, Zena? Jika kau hanya anak dari seorang dokter, kenapa seolah-olah kau sudah biasa dengan latihan seperti ini?" Ia bergumam lirih.


Tanpa sengaja pula, Chendrik melirik ke arahnya. Melihat ekspresi wajahnya yang sinis, ia tahu bahwa laki-laki itu sedang menandai Zena.


Oh, jadi kau sudah mulai menyadari siapa Zena? Tak apa, ini adalah penghujung. Tunggu saja waktumu.


Chendrik mengancam, ia juga menandai laki-laki itu.


Zena melangkah ke arena ujian lainnya, seekor kuda putih segera menyambut dengan suara ringkikan yang nyaring. Seolah-olah bergembira dapat bertemu kembali dengan manusia yang menjadi temannya kemarin. Zena tersenyum, penguji yang ada di dekatnya mengernyit bingung.


"Mmm ... namamu, Zena? Kau sudah tahu aturannya, bukan?" tanyanya memastikan karena gadis yang ada di hadapannya terlihat lugu dan polos. Hatinya sedikit cemas ia akan mengalami kesulitan di ujian ini.


Zena mengangguk tanpa memberi sahutan.


"Baiklah." Ia menarik salah satu kuda berwarna coklat dan memberikannya kepada Zena, "naiklah!" katanya sambil menunjuk pada kuda yang dipegangnya.


"Umh ... Master, bisakah saya menaiki yang putih saja! Saya suka sekali dengan warnanya," pinta Zena.


"Kau yakin?" Kerutan di dahi wanita itu membentuk gurat bingung yang kentara.


"Mmm ...." Zena mengangguk pasti.


"Tapi kau tahu, jika kuda itu masih liar. Kau tak apa?" tanyanya lagi meyakinkan.


"Tidak masalah, aku sudah menaikinya kemarin," katanya dengan yakin.


Wanita penguji itu mendesah pasrah, jika dilihat dari penampilannya ia sepertinya seorang petugas pemeliharaan hewan. Sangat mengerti betul tentang hewan dengan berbagai jenisnya.


"Baiklah. Berhati-hatilah, Zena!" katanya.


Zena mengangguk seraya mengambil langkah mendekati kuda tersebut. Dengan gesit ia melompat dan mencekal tali kekang dengan erat. Zena menghentak kaki meminta kuda itu berlari. Hutan lindung yang berada di belakang sekolah memang kerap dijadikan tempat ujian dan latihan. Di sinilah letak keunggulan dari sekolah tersebut, banyak talenta bisa dibentuk karena fasilitas yang lengkap.


Gerbang hutan dibuka lebar, Zena melesat bersama kuda putih itu. Semua orang yang berada di lapangan menatap layar besar menyaksikan bagaimana gadis itu menyelesaikan misinya.


"Aku yakin dia tak akan bisa mengambil busur itu. Kau lihat caranya menunggang kuda? Ia seperti ketakutan. Mungkin saja takut jatuh," cibir salah satu dari anggota macan putih disambut gelak tawa oleh orang-orang di sekitarnya.


Zena yang tak mendengar, terus memacu kuda dengan kecepatan sedang. Bibirnya membentuk garis lengkung ke atas saat melihat sebuah busur berikut tabung berisi anak panahnya. Zena menyambarnya dengan mudah, tiba-tiba ia berbalik menghadap kamera dan berteriak kuat.


"Bisakah aku berburu hewan di sini? Aku akan membawakan seekor hewan untuk kalian!" Ia tersenyum sebelum berbalik dan melanjutkan berkuda sambil memanah satu per satu papan target tanpa kesulitan sama sekali.


"Luar biasa!"


"Dia benar-benar hebat!"


"Itukah anak baru yang polos itu? Dia tidak terlihat lugu."


"Zena! Aku benar-benar padamu!" Ben berteriak paling kuat memudarkan senyum Chendrik yang berdiri di sampingnya sedang menatap kagum pada gadis dalam layar tersebut.


Ia menoleh, Ben membeku seketika. Meneguk saliva gugup, merasakan atmosfer di bagian kiri tubuhnya turun drastis. Ia mundur beberapa langkah, dan kembali bersembunyi dibalik tubuh Mirah.


Kepalanya menggeleng takut, tapi tak ada kapoknya. Berbagai kalimat pujian diucapkan orang-orang yang menonton penampilan Zena.


Chendrik menghampiri penguji dan bertanya padanya, "Bagaimana? Apakah kau masih meragukannya?"


Penguji itu menoleh, ia menunduk hormat pada Chendrik karena bagaimanapun dia adalah orang yang disegani di kota Elang itu.


"Dia benar-benar luar biasa, Master. Aku belum pernah bertemu dengan gadis remaja yang sudah ahli sepertinya. Apa Anda dengar tadi dia mengatakan akan berburu di hutan itu," katanya dengan nada bangga dan mata yang berbinar.


"Yah, biarkan saja. Mungkin saja dia akan membawakan kita daging kelinci atau ... bahkan harimau." Chendrik terkekeh membayangkan Zena membawa Tigris ke lapangan tersebut.


Penguji itu menggelengkan kepala, keduanya terdiam saat suara riuh terdengar bergemuruh.


"Eh, ke mana dia?"


"Dia menghilang."


"Dia tidak terlihat."


Chendrik dan wanita itu sama-sama menoleh pada layar besar. Zena menghilang dari pantauan. Disaat semua orang panik, Chendrik justru terkekeh.


"Gadis nakal!" katanya pelan.


Tak lama Zena muncul dengan tiga ekor kelinci hasil buruannya.


"Astaga! Dia benar-benar berburu, apakah dia tidak tahu jika hewan di hutan lindung tidak boleh diburu?" keluh sang penguji.


Semua orang terpana. Adhikari, Cana, Chendrik, juga Sebastian tertawa melihat tingkah menggemaskan gadis yang menenteng kelinci itu. Senyum lebarnya nampak polos dan lugu, maniknya berbinar terang.


"Anak kita memang hebat!" celetuk Cana tanpa sadar.


"Kau benar, dia anak kita." Adhikari berucap setelah beberapa saat terdiam mendengar kalimat sang istri.