
"Oh, jadi ini siswa baru yang bernama Zena?"
Sebuah suara yang terdengar sinis dan meremehkan menguar dari belakang tubuh mereka. Secara otomatis langkah Zena dan kawan-kawan terhenti meski tak mengenali siapa yang berbicara.
"Hanya seorang gadis kecil dan lemah. Kenapa kalian bisa kebakaran jenggot seperti itu?" lanjutnya lagi semakin menilai remeh gadis yang kini berbalik menghadapnya.
Pahatan sempurna yang diciptakan Tuhan untuknya, membuat si pembual mengedipkan mata. Pesona kepolosan Zena, mengetuk nalurinya sebagai laki-laki. Di belakangnya, Zena seperti melihat satu buah pasukan Chendrik yang diperintahkan untuk menyerang sekelompok bandit.
Zena tersenyum membuat hati pria di hadapannya menggelepar. Ia terus terdiam karena tak menyangka orang yang dia cari secantik dan seimut gadis di hadapannya.
"Kakak datang mencariku?" Pertanyaan Zena lembut mengalun. Tingkat kepolosan paling tinggi. Ia tak tahu saja, ketiga temannya panas dingin saat mengenali kelompok tersebut.
Pria yang berada di paling depan, memicing tanpa kata. Tak berniat menjawab pertanyaan yang diajukan Zena. Ia seolah-olah sedang memindai gadis di hadapannya, mengukur seberapa kuat dirinya hingga mampu membuat kelompok macan putih kalang kabut.
"Ze-zena, apa kau tahu siapa mereka?" bisik Mirah di telinga Zena. Sarah meremas tangan Ben, ketakutan membuat wajahnya pucat pasi. Ben sendiri, meneguk ludah gugup. Ia tak menyangka akan berhadapan langsung dengan kelompok yang selama ini melindungi macan putih itu.
"Siapa peduli!" balas Zena sengit. Suaranya dingin terdengar, pandangan matanya tajam menusuk meskipun bibir merah alaminya membentuk senyuman.
Mirah bergidik mendengar aluna nada dingin Zena. Baru saja suaranya terdengar manis dan lembut, sedetik saja sudah berubah. Zena seperti memiliki dua kepribadian di mata mereka. Yang mana, saat dia terganggu maka sosok yang bersembunyi dalam diri Zena, akan bangkit dan melawan.
"Mereka adalah kelompok yang selama ini melindungi macan putih. Terkenal brutal dan tak memiliki hati, membunuh dengan cara sadis sekalipun lawannya hanyalah anak kecil. kudengar orang yang sudah berhadapan dengan mereka, tak akan pernah terlihat lagi di mana pun," lanjut Mirah berbisik memberitahu Zena.
Jika begitu maka mereka adalah ... target ketiga!
Namun, gadis itu bergeming, ia melirik Mirah dengan ekor matanya. Sikapnya yang tenang benar-benar mengganggu pria tadi. Biasanya orang-orang akan gemetar melihat kedatangan mereka, tapi Zena bersikap biasa saja bahkan dia tersenyum dan bertanya. Luar biasa!
"Kau terlihat tidak takut," cibirnya.
"Untuk apa aku takut? Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan," sahut Zena dengan nada lembut mengalun. Hakikatnya, ia sedang menahan geram yang akan mecuat ke permukaan.
"Hebat! Aku kagum dengan keberanianmu, tapi maaf saja karena kau telah mengganggu saudariku, aku tidak bisa membiarkanmu lolos begitu saja," ucapnya tersenyum miring yang menjengkelkan.
"Kenapa semua orang sukanya mencari masalah? Padahal, aku hanya ingin belajar dengan tenang di sekolah ini tanpa berniat mencari masalah, tapi kalian selalu datang mengganggu dan membuatku jengah. Termasuk dirimu yang tiba-tiba datang dengan membawa pasukan seperti ini?" Zena mendengus.
Pria itu bertepuk tangan sambil tersenyum lebar. Ia melangkah perlahan mendekati posisi Zena berdiri. Gadis itu tetap terpaku di sana, tak gentar sama sekali. Ia bahkan menghujam manik pria yang terus menerus merapatkan jarak dengannya.
Tangan itu dengan lancang menyentuh pipi Zena, tapi gegas ditepis dengan kuat. Senyum di bibir Zena bahkan sudah lenyap digantikan dengan sorot mata tajam siap menusuk musuh di depannya.
Pria tadi memandangi tangannya yang dihalau Zena, menganga tak percaya dengan mata melotot lebar. Ia melirik Zena geram, bunyi gigi gemeratak terdengar nyaring. Saat ini, ia benar-benar marah terhadap gadis kecil di hadapannya.
"Ringkus dan lumpuhkan dia! Beraninya melawanku!" titahnya pada belasan orang yang berdiri di belakang.
"Mundur! Menjauhlah dari sini!" Suara Zena memerintah ketiga temannya untuk menjaga jarak dari lapangan yang sebentar lagi akan menjadi medan tempur.
"Tapi, Zena ...."
Seketika semua siswa berhamburan keluar, menonton Zena yang tengah terkepung belasan laki-laki bertubuh kekar. Kecuali pria yang memimpin, ia berdiri sambil tersenyum bersama kelompok macan putih.
"Rasakan! Kau pasti akan merengek meminta ampun!" cibir sang ketua macan putih sambil mengejek Zena.
Gadis itu melirik tanpa minat sama sekali. Ia memindai setiap orang yang mengelilinginya, menilai dan mengukur sejauh mana kekuatan yang mereka miliki.
"Hah ... baiklah." Zena meletakkan tas. Ia menunduk sejenak sebelum mengangkat pandangan menatap pria yang bersama macan putih.
"Aku minta maaf untuk masalah kemarin, tolong tarik pasukanmu dan kita berdamai saja," pintanya tiba-tiba. Meski begitu, pandangannya tetap menusuk tak surut sama sekali.
Macan putih bersama pria itu tertawa terbahak, tak sadar bahwa lebam di wajah mereka saja masih terlihat jelas. Itu bekas pukulan Zena kemarin.
"Sekarang kau meminta maaf, merengek meminta belas kasihan, tapi sudah terlambat!" Mereka tertawa lagi menilai Zena yang tak mampu melawan.
"Tapi ... jika kau benar-benar tak mampu melawan, aku akan memaafkanmu. Berlututlah dan katakan kalau kau memohon ampun dari kami!" titahnya angkuh. Merasa sudah di awang-awang dan tak akan jatuh lagi.
Zena kembali menunduk, bahunya berguncang karena tawa yang ia tahan. Ini lelucon, baru kali ini ada yang memintanya berlutut untuk memohon. Mereka pikir, Zena tengah menangis dan menunggu gadis itu berlutut.
Namun, kenyatannya membuat mereka tercengang, Zena terpingkal sambil memegangi perut. Ketiga temannya bahkan saling memandang tak mengerti sekaligus tak percaya kenapa gadis itu tertawa.
Zena menegakkan tubuh kembali usai puas tertawa. Menyeka sudut mata yang berair dengan wajah yang memerah. Masih ada sisa tawa di wajahnya saat ia memandang macan putih dan pria tadi yang masih melongo.
"Baru kali ini ada orang yang memintaku untuk berlutut sambil memohon. Ini terdengar seperti ... lelucon untukku. Aku tidak akan pernah merendahkan diriku di hadapan siapapun, termasuk di hadapan kalian yang bukan siapa-siapa!" tantang Zena dengan lantang.
Semua siswa yang menonton, melebarkan mata mereka. Antusias melihat bagaimana Zena yang sendirian akan mampu melawan belasan laki-laki yang mengepungnya.
"Banyak bicara!" Salah seorang di antara mereka maju sambil melayangkan tinju ke arah Zena. Sigap tangan kecil Zena menangkis dan menahannya, ia melirik tajam pemilik tangan membuatnya meneguk ludah dan berkeringat.
"Ugh!" Sorak-sorai semua siswa mengganggu macan putih yang melongo.
"Sudah aku peringatkan, jangan pernah menggangguku, tapi kalian tak mendengarnya. Jika ingin mundur, aku tak akan mencegah kalian!" Zena menggerakkan tangan, membentuk kepala dan meninju ulu hatinya. Membuat laki-laki yang menyerangnya tadi terpental sambil memegangi perut. Gerakan itu terlalu cepat nyaris tak terlihat.
Pria yang bersama macan putih tersentak dari duduknya, ia melotot melihat salah satu anak buahnya yang terkapar memuntahkan isi perut. Serangan demi serangan diterima Zena, dua orang menyusul menyerangnya dari kanan dan kiri. Zena menerima pukulan mereka, membanting tubuh keduanya sebelum memberikan tendangan pada ceruk leher mereka.
Ketiga teman Zena, berhenti bernapas melihat bagaimana aksi Zena melawan kelompok laki-laki itu. Tak hanya mereka, semua siswa yang menonton pun ikut menahan napas mereka. Termasuk pria dan kelompok macan putih.
Tak berhenti di sana, mereka terus menyerang Zena secara berkelompok. Namun, satu per satu dari mereka, tumbang dan berjatuhan di tanah lapangan. Menyisakan Zena yang masih berdiri dalam kondisi baik-baik saja.
Zena melayangkan tatapan tajam pada kelompok macan putih sebelum mengambil tas dan membawa langkah mendekati ketiga orang temannya yang masih tak bernapas.
"Bernapas! Kita pergi!" titahnya yang disambut gelagapan oleh mereka.
"Zena!"