
Zena pergi menunggangi kuda menembus kegelapan hutan. Air matanya jatuh mengalir saat bayangan tiga kepala anak-anak itu melintas dalam benak. Terlambat, merasa tidak berguna. Dia berlari ke arah bukit, terus memacu kuda hitam tersebut menuju puncak.
Malam kelam tanpa bintang dan rembulan, sekelam hatinya yang tak dapat menyelamatkan mereka. Zena melompat turun dari kuda tersebut, terus berlari ke tepi bukit dan duduk memeluk lutut di atas sebuah batu.
Zena menengadah, membiarkan wajahnya diterpa kegelapan malam. Aliran air jatuh saat kedua mata itu terpejam. Air ludah yang ia telan secara paksa teramat sulit terasa. Sesuatu mengganjal tenggorokan membuat jalan udara menyempit.
Tidak berguna!
Ia merututki diri sendiri, baru kali ini Zena mengalami kegagalan dan itu membuat hatinya terpukul. Terlebih, dia melihat sendiri bagaimana ketiga anak itu menjadi daging cincang di atas meja.
Tidak berguna!
Lagi-lagi dua kata itu terucap menghina dirinya. Zena menurunkan wajah, membenamkannya di atas lutut dalam-dalam. Kedua tangan memeluk erat kakinya yang menekuk. Terisak seorang diri di kegelapan malam.
Maafkan aku, Ayah, Ibu. Aku gagal menyelamatkan mereka. Aku gagal!
Hatinya bergumam penuh kekecewaan. Terbayang olehnya saat seorang penduduk meraung setelah menyaksikan ketiga potongan kepala anak-anak itu. Hatinya sakit, serasa ada ribuan anak panah menghujam jantungnya.
Tak ada yang melihat kesedihan dan tangisan yang dilakukan Zena. Kecuali langit malam yang gulita. Hembusan angin malam yang dingin membekukan tak ia hiraukan. Rasa panas dari kegagalan terus membuat tubuhnya mendidih.
Biarkan dia sendiri bertemankan sepi.
Meninggalkan Zena dengan tangisan penyesalannya, para penduduk yang baru saja meninggalkan lokasi kejadian seolah tersadar seseorang hilang di antara mereka.
"Kalian melihat orang yang menolong kita? Ke mana dia?" Seorang penduduk bertanya pada yang lain.
"Benar, di mana orang misterius itu? Kita bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih padanya. Kenapa dia sudah menghilang?" Yang lain menimpali sambil memeluk anaknya.
Semua penduduk berada di atas truk, mereka akan kembali ke desa meskipun hasil yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Masih ada beberapa anak yang hilang dan tidak ditemukan di dalam bangunan tersebut. Kecuali, ketiga mayat anak kecil itu.
"Anakku!" lirih seorang rekan sambil memeluk dirinya sendiri. Ia berpikir, mungkin saja potongan tubuh anaknya telah dikirim keluar daerah.
"Sudah, Pak. Kita juga tidak bisa menemukan anak kepala desa itu. Sampai-sampai bu Kades pingsan karena anaknya tidak ada di sana. Sabar," ucap teman di samping yang juga tidak menemukan anaknya.
Ia menyandarkan kepala pada badan truk berharap dalam hati anaknya selamat dan dalam keadaan baik-baik saja.
"Aku berharap saat tiba di desa, wajah anakku menyambut. Ya Tuhan, tolong selamatkan anak-anak kami. Tolong kirimkan malaikat-Mu untuk membawa mereka kembali. Kumohon!" Ia mengusap doa dalam lirih.
Kepalanya tertunduk, kedua tangan saling ditautkan di dada. Kelopak mata dirapatkan, sangat berharap dapat bertemu dengan anaknya.
"Aamiin!" Suara serentak semua orang menyambut doanya.
Mereka pun mengharapkan hal yang sama, melihat senyum semua anak menyambut kedatangan mereka di desa. Kecuali tiga orang laki-laki yang meringkuk di sudut truk sambil memeluk sebuah kotak yang berisi potongan tubuh anaknya. Mereka diam tak bersuara, tak ada harapan hidup yang dipancarkan kedua matanya.
Menangis pun tak berair mata, hidup mereka direnggut saat melihat kondisi anak-anak malang itu. Sungguh tragis memang, para mafia itu semakin meresahkan masyarakat. Terlebih korbannya hanyalah anak-anak yang belum menikmati masa kecilnya dengan sempurna.
Gerbang desa telah terlihat, mereka semakin gelisah. Terutama Cheo yang sejak kepergian Zena, duduk di atas van menunggu.
"Mereka kembali!" teriaknya dengan lantang.
Bocah itu berdiri di atas atap mobil, menunggu kedatangan seseorang yang pergi menunggangi kuda. Matanya menyipit, sosok yang ditunggunya tak kunjung muncul. Truk tersebut memasuki gerbang, para wanita dan anak-anak menyambut kedatangan mereka termasuk anak kepala desa. Di antara mereka juga ada beberapa orang Ibu yang menangis menunggu kedatangan suami bersama anaknya.
"Ayah!"
Doa mereka terkabulkan. Ketika kaki melangkah dengan gontai, sebuah teriakan ceria menyambut mereka. Mereka adalah anak-anak yang tidak ditemukan di dalam bangunan itu. Senyum mengembang di bibir sang Ayah.
Tiga orang wanita menghampiri suami mereka yang membawa sebuah kotak, bertanya tentang keberadaan anak mereka. Namun, yang mereka dapatkan hanyalah sebuah kotak, berisi potongan tubuh anak-anak yang mereka merindukan.
"TIDAK! Ini tidak mungkin! Ini bukan anakku!" raung wanita itu setelah melihat isi di dalam kotak.
Sang suami memeluknya, menenangkan dan mencoba untuk menerima takdir yang menimpa anak-anak mereka.
"Ayah, Ibu! Aku di sini!" Barry memanggil kedua orang tuanya sambil melambaikan tangan.
Kepala desa dan istrinya terperangah tak percaya, mereka mematung karena syok mendapati sang anak masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja. Kaki kecil itu berlari menghampiri mereka dan berhambur masuk ke dalam lingkungan tangan keduanya.
"Anakku!"
Tangisan sang Ibu pecah, membahana karena merasa lega. Memeluk dan menciumi wajah anak itu tiada henti. Mereka benar-benar merasa lega.
Cheo melompat turun karena sosok Zena yang dia tunggu tak kunjung tiba.
"Di mana Ibuku?" tanyanya langsung pada semua laki-laki yang baru saja datang itu.
Kepala desa dan istrinya melepas pelukan mereka, melihat Cheo dengan dahi yang berkerut dalam.
"Ibumu?" gumamnya sedikit bingung.
"Ayah, Ibu Kakak itu pergi ke hutan untuk menolong. Mereka yang telah menyelamatkan kami semua dari para penculik itu. Sekarang, di mana Ibunya, Ayah? Apa Ayah bertemu dengannya?" ucap Barry memberitahu Ayah dan Ibunya.
Seorang pemuda yang sempat berbincang dengan Zena melangkah maju ke depan Cheo.
"Apakah dia yang memakai hoodie seperti ini?" Dia mengenakan hoodie persis seperti yang Zena lakukan.
"Benar, dia Ibuku. Di mana Ibuku? Kenapa dia tidak datang bersama kalian? Apakah kalian meninggalkannya sendirian di sana?"
Mata kecil itu berkilat-kilat penuh amarah. Kedua tangannya terkepal erat, urat-urat kekesalan menonjol di bagian tertentu wajahnya. Pemuda itu syok, Cheo hanyalah seorang bocah, tapi memiliki aura yang kuat. Dia bisa merasakan sebuah gejolak hanya dengan melihat wajahnya saja.
"Ibumu ... kami tidak tahu. Dia menghilang setelah semua penjahat di sana mati. Kami tidak tahu ke mana dia pergi. Maafkan kami, Nak," ucapnya pelan.
Mendengar itu, Cheo sedikit lega. Ia tahu Zena masih baik-baik saja, hanya tidak tahu di mana keberadaan gadis itu saat ini.
"Aku akan mencarinya!"
"Ibu di sini, Cheo!"
Semua orang sontak berbalik menatap seseorang yang seluruh tubuhnya tertutup. Dia berjalan sambil menarik tali kekang kuda.
Sosoknya tersembunyi dalam gelap, semua orang tak dapat menebak seperti apa rupa orang yang telah menjadi Dewi penolong mereka itu.
"Dia yang aku maksudkan. Kakak itu yang telah menyelamatkan kami!" pekik seorang anak perempuan.