Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kenangan



Zena membolak-balik kertas di tangannya, membaca singkat judul yang ditulis dengan huruf besar. Sebuah pemberitahuan untuk wali siswa juga undangan rapat di sekolah.


"Zena, kenapa kau terlihat bingung?" tegur salah satu siswi setelah memperhatikan tingkah Zena yang hanya membolak-balik kertas di tangan.


"Tidak apa, aku hanya tidak mengerti apa isi surat ini? Rapat ... apa yang biasanya mereka bahas?" Zena menoleh dengan kerutan halus di dahi. Maklum saja, dia tidak pernah mengalami masa sekolah. Hal-hal baru seperti itu, membuatnya bingung.


Mereka terkekeh, menilai Zena gadis yang polos lagi lugu. Manis dan menyenangkan untuk dilihat.


"Itu undangan rapat untuk orang tua, mereka akan membahasa masalah ujian. Bukankah sebentar lagi kita akan melaksanakan ujian? Jadi, seperti biasa orang tua dan guru akan mengadakan rapat," terang siswi tadi sambil menggelengkan kepala.


Di mata mereka, Zena hanyalah gadis lemah sama seperti mereka. Yang tak mampu melawan kekuasaan macan putih dan gengnya. Mereka mencemaskan gadis kecil itu, dia masih terlalu baru untuk berhadapan dengan kelompok tersebut.


"Oh ... ujian. Ini semacam aku memberikan tantangan kepada Cheo untuk berburu di hutan. Hmm ... baiklah. Ujian, aku siap!" gumam Zena pelan dengan tekad yang berbinar di matanya. Hal itu kembali mengundang gelak tawa dari siswi yang berada di sekelilingnya.


"Kau lucu, Zena. Mau berteman? Mirah," katanya menjulurkan tangan kepada Zena. Gadis itu melirik tangan yang menggantung di udara sebelum tersenyum dan menyambutnya.


"Zena, terima kasih." Gadis bernama Mirah itu tersenyum. Ia dari ras kulit sawo matang, manis terlihat. Ada lesung pipi di kedua sisinya, dan yang membuat gadis itu terlihat berbeda adalah warna mata hazel miliknya.


"Matamu indah sekali, apa kau menggunakan lensa?" tanya Zena usai menilik iris Mirah yang nampak unik di matanya.


"Tidak, ini bawaan. Aku memilikinya dari sejak lahir," katanya dengan bangga. Zena manggut-manggut mengerti, ia sendiri tak pernah berkaca seperti apa warna bola mata yang ia miliki. Terlalu tidak peduli, yang penting dia bisa melihat dengan jelas.


"Mau ke kantin? Sudah waktunya istirahat," ajaknya yang diangguki Zena dengan senang hati. Mirah gadis yang ramah, ia murah sekali akan senyum dan tidak sombong. Zena menyimpan kertas ke dalam tas sebelum beranjak mengikuti Mirah ke kantin.


"Mereka mau pergi ke mana?" tanya Zena saat mereka berpapasan dengan kelima siswa yang diperintah ke belakang gedung sekolah.


"Oh, mereka menemui kelompok macan putih. Bukankah kau juga diminta datang? Zena, dengarkan. Sebaiknya kau tidak mencari masalah dengan mereka," ucap Mirah memeringati dengan bisikan. Kedua matanya melilau ke sekitar khawatir ada kuping dan mata kelompok tersebut yang mengawasi.


"Aku tidak mencari masalah, mereka sendiri yang mendatangiku tadi. Bukankah kau melihatnya?" Mirah mengangguk mendengar penuturan Zena.


Ia menghendikan bahu tak acuh seraya merangkul Mirah dan membawanya ke kantin.


"Sarah!" Zena memanggil gadis berkulit hitam yang ia kenal pagi tadi. Ia menoleh dan tersenyum, menunggu Zena di tempatnya berdiri untuk pergi bersama ke kantin.


Mirah dan Sarah sudah saling mengenal satu sama lain bahkan mereka berdua kerap menjadi bahan bulian dari kelompok itu karena warna kulit mereka yang berbeda. Namun, Zena tidak masalah, keduanya orang-orang baik, setidaknya begitulah penilaian Zena.


Mereka duduk bertiga di sebuah meja, tiga mangkuk mie menemani waktu istirahat mereka. Bercerita, bercengkrama, dan bersenda gurau.


"Apa nama makanan ini? Baru pertama kali aku melihatnya." Di pulau aku tidak pernah menemukan makanan ini selain sayuran dan daging asap hasil buruan Cheo dan Tigris.


Mirah dan Sarah tersenyum geli melihat tingkah Zena yang menelisik makanan di depannya. Ia mengangkatnya dan menurunkan lagi mie tersebut dengan raut wajah bingung. Hal itu membuat mereka merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang baru saja masuk ke dunia modern. Menggemaskan.


"Kau tidak tahu makanan ini? Ini mie, Zena. Apa kau tidak pernah memakannya?" Mirah menjelaskan.


Zena mengangkat wajah dengan senyum polos yang lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi lagi putih. Ia menggeleng lugu.


Kak Nira, di mana Kakak? Kenapa menghilang begitu saja?


Wajah Zena berubah muram. Mereka mengira ia bersedih karena tidak tahu makanan di hadapannya. Mirah dan Sarah saling menatap, merasa iba melihat Zena yang tiba-tiba masam.


"Ini enak, cobalah!" Sarah menyentuh lembut tangan Zena, ekor mata gadis itu melirik. Itu juga yang dikatakan Nira waktu itu. Rindu semakin merangsek keluar, ia menatap Sarah sendu dan tersenyum getir.


Mereka teman yang baik, menghibur Zena disaat rindu pada dua orang sahabat tak kunjung terjawab. Ia mulai memakan mie sambil menenangkan hati. Pelan-pelan suasana hatinya kembali ceria, celoteh ringan kembali terdengar dari arah meja mereka.


"Aku akan mengambil minum." Zena beranjak dan berjalan menuju sebuah kotak yang menyediakan berbagai macam minuman. Ia mengambil tiga buah botol minuman dan membawanya ke meja.


Namun, baru beberapa langkah kakinya berayun, ia tersandung dan hampir jatuh tersungkur jika saja kedua kakinya tak sigap menahan beban tubuh. Minuman yang dibawanya membentur lantai dan hancur. Zena membelalak dengan mulut terbuka.


Mirah dan Sarah yang mendengar, gegas berdiri. Mereka meneguk ludah dan tak dapat melakukan apa-apa saat melihat Zena dikelilingi kelompok macan putih itu. Ingin menolong, tapi mereka tidak mempunyai kemampuan.


Ia tidak tersandung, melainkan sebuah kaki yang menjegal langkahnya secara tiba-tiba. Tetap saja mereka tidak berhasil membuat Zena jatuh. Gadis itu tetap berdiri meski tubuhnya sedikit condong ke depan.


Zena menggeram, seluruh kulit wajahnya memerah. Rahangnya yang mengetat menghasilkan bunyi gemelutuk gigi yang kentara. Pelan ia menegakkan tubuh, berbalik dan mendapati senyum-senyum sinis merundungnya. Kedua tangan terkepal hingga memutih setiap bukunya.


"Lihat! Bagus juga kelinci baru ini, dia tidak jatuh saat aku menjegalnya," ucap sang ketua sambil tertawa mengejek Zena. Disambut tawa ketiga orang lainnya yang semakin menyulut emosi Zena.


Ia memejamkan mata, menahan gejolak. Dadanya kembang-kempis karena luapan emosi yang menyeruak ke permukaan.


"Bukankah aku memintamu untuk datang ke belakang sekolah? Kau memang berani, aku salut pada keberanianmu meskipun sebenarnya kau cari mati." Ia kembali tertawa. Semua orang menegang.


Ketukan langkah terdengar mengusik telinga Zena, ia menunduk dengan bahu yang naik dan turun dengan berat. Membiarkan mereka merundungnya, padahal bisa saja dia melawan.


"Ada apa? Kau sudah kehabisan nyali? Mana mulut besar-"


Bugh!


Brak!


Belum sempat lisannya menuntaskan kalimat, tinju Zena melayang menghantam wajahnya. Darah segar mengucur dari salah satu lubang hidung ketua macan putih itu, ia jatuh tersungkur dan menabrak sebuah meja. Memalukan!


Zena berpaling padanya, sorot matanya menyalang bagai seekor elang yang siap memangsa anak ayam. Napasnya memburu perlahan mendekat mengintimidasi sang ketua geng yang ditakuti.


Mirah dan Sarah melongo melihat keberanian Zena yang memukul ketua itu. Tak hanya mereka, tapi semua yang ada di kantin bahkan siswa yang mengejek Zena di kelas pun terperangah melihat kejadian itu. Dia gadis bar-bar.


Namun, detik kemudian, Zena menurunkan emosi. Wajahnya berubah lugu, ia meringis seolah-olah tanpa sadar melakukan pukulan itu.


"Ah, maaf. Apa sakit? Hidungmu berdarah ... biar kubantu," ucap Zena berpura-pura panik seraya mendekat.


"Singkirkan tanganmu!" hardiknya sambil menyusut cairan merah di lubang hidungnya.