Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Aksi Memukau



Aksi menembak yang tak terduga, akibat kesal Zena malah melakukannya dengan sempurna. Wajahnya cemberut tak senang, melangkah dengan kesal ke tempat panahan.


"Aku yakin, dia tak akan mampu melakukannya."


"Dia hanya beruntung, tak usahlah terlalu memuji."


"Cari perhatian."


"Benar-benar menjijikkan."


Gumaman beberapa orang membuat Zena semakin tersulut emosi. Ia mengambil busur berikut anak panahnya. Empat anak panah sekaligus, mulai membidik, tapi tiba-tiba ia berbalik menghadap mereka yang mencibirnya lewat kata-kata tak pantas.


Zena memberikan seringainya, sebelum melepas satu per satu dari anak panah itu. Ia tersenyum puas saat anak panah yang diluncurkannya mengenai botol-botol minum mereka. Cibiran itu berganti keterkejutan. Mereka menatap iba pada botol minum yang hancur.


Chendrik mengulum senyum, ia mengangguk kepada Zena saat pandang mereka bertemu. Tak hanya Chendrik, Sebastian yang melihat aksi Zena dalam menegur anak-anak tadi tertawa puas bersama ketiga teman Zena.


"Sial!" umpat salah satunya.


"Maka dari itu, kawan, berhati-hatilah dalam menjaga lisan kalian. Seekor tikus saja mampu menyelamatkan singa dari tangan pemburu." Ben mengejek, wajah puasnya amat menjengkelkan.


Zena terus berjalan ke tempat di mana laki-laki misterius itu berada. Latihan berkuda. Selama ini Zena selalu ingin menaiki kuda, tapi belum pernah terkabulkan.


"Hallo, gadis kecil. Kita bertemu lagi," katanya memasang senyum menyebalkan di mata Zena.


Zena tak menyahut, hanya tersenyum kecil tanpa berniat menanggapi. Kuda putih di sana menarik perhatiannya.


"Kau sudah menerima hadiahnya?" Dia berbisik. Entah sejak kapan laki-laki itu sudah berada di samping tubuhnya. Menempel hampir bersentuhan, hingga napas hangatnya dapat Zena rasakan.


"Sudah. Terima kasih atas hadiah yang Master berikan padaku, tapi mohon maaf aku tidak terlalu suka bunga dan boneka." Zena tersenyum malas. Melengos ke arah kuda putih dan menaikinya dengan gesit.


"Boleh aku melakukannya sendiri? Aku tidak ingin kau duduk di belakangku," pinta Zena yang memudarkan senyum di bibir laki-laki tadi.


"Kau yakin bisa melakukannya?" Pandangnya meremehkan Zena. Senyum manis menyambutnya penuh tekad.


"Aku yakin. Hanya perlu menendang bagian ini, bukan? Maka dia akan berjalan. Aku sudah melihatnya tadi. Kurasa aku bisa," katanya, menggerakkan satu kakinya yang mengait pada pijakan pelana.


Laki-laki itu manggut-manggut membenarkan. Ia mempersilahkan Zena untuk melakukannya sendiri. Dalam hati tak henti mengumpat, kesal karena Zena selalu menolaknya secara gamblang.


Zena mengelus kuda tersebut, membungkuk mendekatkan wajah pada telinga kuda dan berbisik.


"Aku yakin kau mendengarkan aku. Maaf jika kau merasa berat aku duduki, tapi apa kau tahu aku selalu ingin menunggangimu. Jadi, tolong bantu aku melakukannya."


Kuda itu meringkik sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi. Zena tersenyum sama sekali tidak merasa takut.


"Hati-hati, Zena!" teriak Sebastian cemas.


"Kudanya tak ingin dia naiki."


"Benar, aku yakin kuda itu akan menjatuhkan dirinya nanti."


"Kudengar kuda putih itu masih liar, belum dijinakkan oleh pihak sekolah."


Sebastian melotot mendengar itu, seketika saja hatinya dilanda kecemasan. Dengan geram Jenderal itu berlari ke arah pelatih berkuda, tanpa basa-basi menarik kerah bajunya seraya melayangkan tinju tepat di wajahnya.


"Sialan kau! Kau biarkan Zena menaiki kuda liar itu, hah!"


Bugh!


Tinju Sebastian kembali melayang menghantam wajahnya, meninggalkan lebam yang cukup besar. Chendrik yang melihat gegas melerai keduanya.


"Apa yang kalian lakukan?" bentaknya melotot lebar pada kedua laki-laki yang berseteru.


"Dia membiarkan Zena menunggangi kuda liar, Kak. Aku sedang memberinya pelajaran," jawab Sebastian yang kembali hendak melayangkan tinjunya pada laki-laki misterius itu.


"Kau?" Tatapan Chendrik jatuh pada laki-laki itu. Ia beranjak, bersikap biasa saja meskipun lebam hampir memenuhi seluruh wajahnya.


"Aku sama sekali tidak tahu jika kuda itu masih liar. Pihak sekolah tak ada yang memberitahuku soal itu," katanya sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di tubuhnya.


Melihat dan mendengar perdebatan ketiga orang itu, Ben dan dua wanita sahabat Zena ikut geram sekaligus cemas. Mereka berbalik menatap nyalang pada kelompok yang menertawakan Zena.


"Kenapa kalian tidak memberitahukan soal kuda liar itu? Kalian sengaja ingin mencelakai Zena, bukan?" bentak Ben berapi-api. Dahinya mengkerut hingga kedua ujung alisnya hampir bertemu. Tatapan matanya menyalang penuh benci dan amarah.


"Maaf saja, Ben. Kami sudah memberitahu tadi, tapi temanmu itu tetap saja menaikinya," cetusnya santai dan tanpa rasa bersalah.


"Kau-"


"Sudahlah, Ben. Berdebat sekarang tidaklah penting, lagipula mereka tak akan pernah mengaku salah." Mirah menenangkan Ben.


"Kita harus membantu Zena," celetuk Sarah.


"Tapi bagaimana caranya? Kau lihat, aku tidak begitu pandai menunggangi kuda." Ben bersungut-sungut.


"Benarkah? Kau sama sekali tidak tahu soal kuda itu?" selidik Chendrik menatap tajam sosok laki-laki yang masih bersikap biasa saja.


"Aku berani bersumpah! Jika aku tahu, tak akan aku biarkan gadis yang kuincar menaikinya!" ucapnya dengan mata tegas memandang pemimpin markas itu.


"Kau!"


"Tahan, Bas!"


Chendrik masih bersikap tenang, sedangkan kedua laki-laki itu mulai cemas karena sudah beberapa menit lamanya Zena pergi menunggangi kuda tersebut.


"Zena!" Sebastian memekik bersamaan dengan laki-laki misterius itu saat mendengar suara ringkikan kuda yang panjang. Keduanya berlari ke arah kuda dan cepat menaikinya. Memacu dengan cepat bersama hati mereka yang cemas.


Sementara Chendrik tertawa kecil.


Tak ada yang lebih mengenal Zena selain aku. Kalian hanya membuang-buang tenaga saja karena gadis itu sangat cerdik.


Chendrik bergumam dalam hati, ketiga teman Zena saling menatap bingung melihat pemimpin markas itu terus tersenyum.


"Ini aneh."


"Master, kenapa Anda tetap di sini?" tanya Ben penasaran.


"Kenapa? Apa aku perlu seperti dua orang bodoh itu?" sahut Chendrik menambah bingung pada diri Ben.


"Apa Master tidak mencemaskan Zena?" tanyanya lagi menyelidik.


"Kenapa? Apa kalian tidak mempercayai teman kalian sendiri? Bukankah kalian sudah melihat sendiri bagaimana Zena selalu dapat menyelesaikan masalahnya?" Chendrik menilik ketiganya.


Mereka tertunduk membayangkan kembali seperti apa sosok Zena selama menjadi teman mereka. Chendrik tersenyum, bahkan mereka yang sudah berteman cukup lama saja masih meragukan kemampuan gadis itu.


"Sudahlah. Percaya saja kepada Zena, tidak akan terjadi apapun pada teman kalian itu," lanjut Chendrik menenangkan.


"Kenapa Master sepertinya sangat mengenal Zena?" selidik Mirah sedikit curiga.


Chendrik mengangkat sebelah alisnya, terlihat tak suka dengan pertanyaan itu. Padahal, mati-matian ia tengah menahan gugup karena secara tidak langsung mengatakan bahwa ia dekat Zena.


"Itu karena sepanjang latihan aku memperhatikan bagaimana caranya menyelesaikan semua latihan ini," katanya dengan nada biasa.


Mirah manggut-manggut mengerti. Tak lama sosok sang putri berkuda putih itu muncul di kejauhan. Asap mengepul mengiringi kedatangannya, ia nampak gagah sekaligus mempesona. Rambutnya yang diikat tinggi terus bergoyang mengikuti irama langkah kaki kuda.


Peluh yang membasahi wajahnya menambah seksi sosok Zena yang jelita. Chendrik termangu, ia bahkan harus meneguk saliva saking terpesonanya oleh putri jelita itu.


Dia, cantik sekali!