
Seperti kucing dan tikus, begitulah gambaran yang bisa mereka berikan pada Kakak beradik dalam ruangan Zena. Selalu berselisih faham, tak ada yang mau mengalah. Zena dan ketiga temannya menonton dua laki-laki yang terus saja beradu mulut. Cheo pun ikut termangu heran.
"Umh ... tak usah pedulikan. Apa yang kau bawa? Sepertinya aku ingin memakan sesuatu," tanya Zena pada Mirah sambil melirik bawaan di tangannya.
"Oh, ini Ibuku yang membuatkannya. Dia berterimakasih padamu untuk malam itu," jawab Mirah seraya meletakkan bungkusan tersebut di sisi ranjang Zena.
"Oh, benarkah? Ini pasti enak, aku ingin memakannya. Boleh aku memakannya?" Zena melongo sebentar ke dalam bungkusan, dan menatap Mirah sambil tersenyum.
"Makanlah, rasanya enak. Kau akan menyukainya." Mirah tersenyum bersemangat.
Zena membuka bungkusan tersebut, kue cokelat yang menggiurkan terpampang di depan matanya. Ia mengambil satu keping dan melahap kepingan tersebut. Merasai lelehan cokelat yang melumer di lidahnya.
"Mmm ... ini enak sekali! Kalian mau mencicipinya?" Zena menawarkannya pada mereka.
"Apa boleh?" Ben dan Sarah ragu pasalnya itu secara khusus dibuat untuk Zena.
"Tentu saja. Cobalah!" Mereka pun ikut memakannya. Zena beralih pada Cheo yang hanya diam memperhatikan. Ia menyuapkan satu kue ke dalam mulut bocah itu. Tersenyum sambil menatapnya yang mengunyah kue tersebut.
"Mmm ... ini benar-benar enak. Aku boleh memakannya lagi?" Mata kecil Cheo berbinar. Zena mengangguk pasti, bocah itu semakin mendekat dan duduk berdampingan dengannya.
Tak peduli pada pertengkaran dua orang di sana, mereka menikmati kue cokelat lezat yang dibawa Mirah.
"Mmm ... Ben, bagaimana kabar di desa Hulu? Apa kau dapat kabar terbaru dari saudaramu itu?" tanya Zena saat teringat pada laporan Ben tentang keadaan desa saudaranya.
"Aku sendiri tidak tahu, Ayahku sedang pergi ke sana untuk memastikan keadaan mereka. Jika mereka mau, Ayah akan membawa mereka ke kota ini lagi," jawab Ben sembari menghela napas.
"Lagi? Itu artinya mereka pernah tinggal di sini sebelum pergi ke desa Hulu?" tanya Zena. Kerutan di dahinya terbentuk, tertarik sekaligus bingung.
"Tidak seperti itu. Ayahku dan Bibi berasal dari desa Hulu. Lalu merantau ke kota Elang ini, dan mereka memutuskan untuk menetap di sana. Paman menjadi kepala desa yang disegani oleh penduduk setempat. Untuk itu, mereka tidak bisa meninggalkan desa," jawab Ben sendu.
"Aku akan pergi ke sana, sekalian mencari kedua temanku yang hilang entah ke mana." Zena tersenyum tatkala Ben mengangkat wajahnya terkejut.
"Aku ingin ikut!" Ben tertekad.
"Aku juga."
"Aku juga."
"Tidak! Tak satupun akan ikut dari kalian. Tetaplah di sini, itu akan sangat membantuku. Kalian punya cita-cita yang harus kalian raih, aku tidak ingin kalian terlibat masalah apapun yang membahayakan diri kalian. Cukup Ben yang menjadi korban, jangan yang lain," tegas Zena menolak permintaan ketiga temannya.
Rasa haru seketika saja menyeruak memenuhi hati mereka. Mirah dan Sarah bahkan menangis, mereka tak menduga akan memiliki sahabat yang begitu menyayangi seperti Zena.
Ketiganya berhambur memeluk Zena. Mengucapkan terima kasih juga mengungkapkan rasa sayang mereka kepadanya.
Chendrik dan Sebastian yang melihat, menarik pakaian Ben dari belakang hingga pelukan remaja laki-laki itu terlepas dan membuat Zena kesal.
"Kalian berdua ... apa yang kalian lakukan? Lanjutkan saja pertengkaran kalian dan jangan mengganggu kami!" hardik Zena.
Matanya melotot lebar, tidak terima dengan yang dilakukan kedua Kakak beradik itu.
"Tapi dia memelukmu," ucap Chendrik protes.
"Benar, dia memelukmu." Sebastian ikut menimpali.
"Lepaskan dia, aku akan pergi segera mencari kedua temanku yang lain," ucap Zena. Sontak saja kedua laki-laki itu melebarkan biji manik mereka. Alis mereka bahkan terangkat tinggi-tinggi mendengar ucapan Zena.
"Tidak!"
"Tidak boleh!"
"Kalian tidak bisa melarangku. Aku akan tetap pergi dalam dua hari, masalah di sini sudah selesai. Sesuai yang aku katakan dulu, aku akan pergi mencari temanku setelah semuanya berakhir." Zena bersikeras.
Mirah dan Sarah hanya diam karena itu bukan ranah mereka untuk terlibat, sedangkan Ben meringis dalam cekalan dua laki-laki itu. Ia gegas melangkah mendekati Mirah begitu tangan mereka terlepas.
"Pikiran baik-baik, Zena. Kau sudah cukup terlibat masalah, jangan lagi. Tetaplah di sini, diam dan jangan lakukan hal yang membuatmu celaka," ucap Chendrik penuh perhatian.
"Zena, itu bukan tugasmu seorang diri. Di sana ada petugas keamanan, mereka memiliki polisi juga tentara yang akan membantu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Itu semua bukan urusan markas Mata Elang juga bukan urusanmu," tegas Sebastian tak tertinggal.
Mirah dan Sarah berpaling menatap sahabatnya itu, mereka tak rela Zena pergi dan meninggalkan mereka dalam waktu yang lama.
"Mereka benar, Zena. Tetaplah di sini, kami akan kehilanganmu jika kau pergi, Zena. Bukankah Ayah Ben sedang pergi ke sana? Kita tunggu saja kabar darinya." Mirah ikut menimpali.
Zena berpaling muka padanya, tersenyum melihat wajah cemas Mirah. Ia menggenggam jemari sahabatnya itu dan menepuk-nepuknya dengan pelan.
"Kepergianku kali ini bukan semata-mata ingin pergi ke desa Hulu, tapi karena aku ingin mencari kedua temanku yang pergi. Mereka sama berharganya seperti kalian, aku akan pulang setelah menemukan mereka," ucap Zena lemah lembut.
Ketiga sudah merasakan sendiri bagaimana kasih sayang Zena terhadap mereka. Bagaimana pembelaannya disaat mereka direndahkan bahkan ditindas. Nyawa saja akan ia serahkan asal mereka selamat. Mirah tak dapat menahan haru, ia memeluk Zena sambil menangis.
"Kau harus berjanji akan pulang dengan selamat," pintanya. Zena mengangguk. Sarah berhambur memeluk mereka, tapi Ben meragu. Ia tetap berdiri di tempatnya menatap sendu ketiga orang teman yang saling berpelukan.
"Aku akan pergi bersama Kakak." Cheo membuka suara setelah lama terdiam dan hanya menonton saja.
Zena melepas pelukan dengan cepat, menatap tegas bocah sepuluh tahun itu.
"Tidak. Kau akan akan tetap di rumah bersama Ayahmu!" tegas Zena.
Cheo berdecih tak suka, berpaling wajah darinya dengan kesal.
"Kakak tidak bisa melarangku. Sekalipun Kakak melarangku, aku akan tetap mengekor di belakang Kakak. Intinya, aku akan tetap pergi menemani Kakak sekalipun dunia mencegahku!" Cheo tak kalah tegas.
Keras kepalanya sama seperti Zena. Chendrik bahkan tak dapat mencegahnya. Lama pandang mereka bertemu sebelum Zena menghela napas. Dalam dua hari rencana Zena akan pergi mencari Ciul dan Nira. Sekalian singgah di desa Hulu jika diberi kesempatan.
Bibirnya tersenyum, kedua tangan terbentang meminta pelukan dari bocah sepuluh tahun itu. Cheo berhambur masuk ke dalam pelukannya. Mirah dan Sarah melihat mereka seperti seorang anak dan Ibu, jika saja tak ingat bahwa Cheo adalah anak pemimpin markas itu.
"Kau memang keras kepala," katanya terkekeh.
Cheo tersenyum, pelukan Zena selalu membuat hatinya tenang.
"Aku yakin Tigris juga akan ikut bersama kita," katanya pelan.
"Tigris? Siapa dia?" Ketiga teman Zena ingin tahu.
"Dia harimau yang kalian lihat kemarin, dia temanku." Zena tersenyum tanpa beban.
Mirah, Sarah, dan Ben meneguk saliva merasa ngeri.