Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Kedatangan Tamu



Perbincangan mereka terusik dengan suara-suara yang muncul dari balik bukit. Suara yang sangat mengganggu dan menarik perhatian semua orang. Zena dan Cheo saling menatap satu sama lain, sebelum beranjak meninggalkan bangunan tersebut dan berlari memutari bukit.


Pak Karim yang nampak bingung, ikut melangkahkan kakinya menuju tempat Zena berlari. Ia yang tua sudah pun lamban sehingga tertinggal jauh oleh kedua anak muda gesit itu.


Zena dan Cheo termangu saat melihat dua ekor harimau bertubuh besar mengelilingi mobil van di kaki bukit hijau. Tigris nampak gelisah di dalam kandang, gegas Zena berlari menemui keduanya.


"Belle! Tuma!" panggilnya dengan suara tinggi melengking. Dua harimau itu menoleh, seperti mengenali siapa yang berdiri di sana. Keduanya menurunkan kewaspadaan, melangkah pelan dengan mata fokus pada sosok Zena yang juga mendekat.


"Tuma! Kau sudah besar sekali, kau mirip dengan ayahmu. Apa kalian merindukan kami?" Zena mengusap bulu-bulu lebat harimau yang berukuran lebih kecil dari dua yang lainnya, tapi tetap saja lebih besar hewan itu daripada dirinya.


Tuma menggeram, merasakan sentuhan lembut jemari Zena di lehernya. Mata hewan itu terpejam, kepalanya digesekkan ke tubuh Zena memeluk sang tuan. Belle, sang Ibu harimau turut mendekat. Ikut memeluk Zena, merindukan sang gadis pulau penjaga mereka.


Cheo tersenyum, ia berlari dan melompat ke atas tubuh Tuma membuat hewan itu menggeram senang. Tawa bocah kecil itu pecah, bermain dengan hewan besar yang ia jaga dan rawat saat dulu tinggal di pulau.


Gadis itu ikut menarik garis bibir ke atas, mengajak Belle menemui Tigris. Zena membuka kandang hewan itu membiarkan keduanya melepas rindu untuk hari ini dan esok sebelum pergi ke tujuan mereka. Dua harimau dewasa bersama anak mereka yang ditunggangi Cheo, berlari masuk ke dalam hutan tempat dulu mereka bermain dan berburu.


Pak Karim melongo melihat pemandangan itu, untuk pertama kalinya dia melihat keluarga Zena yang selama ini tersembunyi. Juga rumah tempat gadis itu tinggal. Merasa ada yang memperhatikan Zena mengalihkan pandangan ke samping tubuh, ia tersenyum seraya mengangguk sopan pada sosok tua itu.


Tak dinyana, pak Karim melangkah mendekat. Rasa penasarannya ingin tahu semua hal tentang Zena.


"Apakah ... tadi?"


"Mereka keluargaku, selama ini aku tinggal di sini bersama mereka," ucap Zena mendahului kalimat pak Karim yang belum tuntas.


"Astaga! Jadi selama ini Nak Zena tinggal di sini? Pantas saja tak ada orang yang tahu, ternyata rumahmu tersembunyi dibalik semak juga pohon-pohon menjulang itu," ucap pak Karim merasa takjub dengan keadaan rumah Zena yang sudah tak layak huni lagi.


"Benar, aku tinggal di sini selama ini dan hanya Ciul yang tahu keberadaan rumahku," jawab Zena menunjukkan gubuknya yang hampir roboh.


Pak Karim menatap nanar gubuk yang terbuat dari papan kayu itu, menggeleng sedih merasa prihatin dengan keadaan Zena yang jauh dari kehidupan masyarakat sekitar pulau.


"Maafkan kami, Nak Zena. Kami ...."


"Tak apa, Paman. Aku tidak masalah untuk itu, aku lebih suka tidak ada yang tahu tentang rumah ini, tapi terima kasih karena Paman dan Ciul telah menjaga rumahku dengan baik," sela Zena dengan cepat. Ia tersenyum mengerti.


Pak Karim mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu, tak ada tempat untuk dapat disinggahi.


"Umh ... Nak Zena, jika berkenan menginaplah di rumah Paman. Istri Paman pasti senang melihat Nak Zena," tawar pak Karim berharap.


Ada rasa tak nyaman untuk menolak, tapi meninggalkan mereka rasanya tidak mungkin. Ini adalah waktu untuk melepas rindu bersama mereka sebelum besok kembali pergi melanjutkan perjalanan.


"Umh ... maafkan aku Paman. Bukannya aku tidak mau menerima tawaran Paman untuk menginap, tapi mereka merindukan aku untuk berkumpul dan rasanya tak mungkin jika aku membawa mereka keluar dari sini. Jadi, aku akan tidur di sini saja lagipula di dalam mobil ini sudah tersedia semua yang aku butuhkan. Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf," tutur Zena sembari membungkuk memohon maaf dengan segala rasa yang tak nyaman di hatinya.


Pak Karim sangat mengerti, ia berpamitan dan tidak memaksa sama sekali. Hari beranjak berganti senja, lembayung hadir menyapa dunia. Zena melangkah pelan meniti bukit hijau untuk melihat pemandangan adiwarna yang disuguhkan langit.


Bunyi derap langkah dari dalam hutan, membentuk garis lengkung ke atas di bibir gadis itu. Tak lama, Tuma muncul bersama Cheo yang memegang seekor ayam hutan di tangan. Disusul dua ekor harimau dewasa yang ikut melompat di belakangnya.


"Kakak!" serunya dengan senang.


Dia tidak pernah berubah, tetap seperti itu meskipun telah lama meninggalkan pulau. Cheo melompat dari atas tubuh Tuma dan berlari mendekati Zena.


"Kau memang hebat! Kita akan membakar ayam ini untuk makan malam," ucap Zena mengajak semua untuk menikmati waktu senja terlebih dahulu sebelum pulang.


******


"Mmm ... makanan ini yang aku rindukan. Pulau, aku selalu cinta padamu." Cheo menjilati jemarinya usai menghabiskan setengah ekor ayam hutan yang ditangkapnya.


Zena melirik sambil terus menyantap setengahnya lagi. Mereka berkumpul di belakang rumah, sama seperti dulu. Di bawah payung langit yang bertabur bintang, memperlihatkan tarian mereka yang nampak indah mempesona.


"Sudah malam, sebaiknya kita tidur karena besok harus segera melanjutkan perjalanan," ajak Zena setelah menghabiskan daging ayam hutan tersebut.


Keduanya memasuki van, meninggalkan Tigris yang tertidur bersama keluarganya. Benar-benar seperti rumah, terdapat sebuah ranjang yang bisa ditempati oleh dua orang. Mereka tertidur saling berpelukan, membiarkan jendela terbuka.


Tigris masih sama seperti dulu, meskipun dalam keadaan tidur hewan itu tetap waspada dan berjaga dengan baik. Ia membuka mata, perlahan beranjak saat merasakan hal yang mencurigakan di sekitar tempatnya tidur.


Ia menggeram lemah, memperingatkan Belle dan Tuma untuk waspada. Ketiga hewan itu bangun, dan menempatkan diri mereka di tiga sisi van tempat Zena tertidur. Tigris menunjukkan taringnya yang tajam, disaat sesuatu di dalam semak mulai mendekat.


Tuma melompat ke atas van, menunggu di sana. Guncangan kecil itu mengusik tidur nyenyak Zena. Ia melongo ke jendela, langsung saja mengerti saat melihat Tigris berada di sana dan waspada.


"Ada yang datang," gumamnya pelan.


Cheo yang juga peka terhadap gerakan, terbangun.


"Ada apa, Kak?" tanyanya dengan suara yang parau.


"Ada yang datang," jawab Zena.


Ia kembali melongo melihat Tigris dan memberinya perintah untuk bersembunyi. Memancing mereka yang datang. Zena tidak tahu apakah mereka itu kawan ataukah lawan. Hewan itu menurut, melangkah bersembunyi bersama Belle. Kecuali Tuma yang tetap di atas van mengawasi.


"Siapkan dirimu untuk setiap kemungkinan yang akan kita hadapi, Cheo. Kita tidak tahu siapa yang datang," ingat Zena.


Lampu van yang sengaja dimatikan, membuat mereka leluasa mengawasi. Ditambah keadaan sekitar yang gelap tanpa satu pun lampu yang menerangi. Yang ada hanya gelap, dan menyisakan dua cahaya kecil yang mencolok di atas van tersebut. Cahaya dari mata Tuma.


"Mereka semakin dekat!"