
Kepulan debu membumbung tinggi memenuhi udara. Di bawah terpaan sinar sang rembulan, seorang gadis menunggangi kuda hitam menuju hutan gelap di ujung desa. Rambutnya yang diikat tinggi-tinggi bergoyang di setiap hentakkan yang dilakukan kedua kakinya.
Zena seperti prajurit pada zaman dahulu, dengan busur panah di punggung, samurai yang digantung di pinggang, hanya saja dia tidak mengenakan baju zirah seperti orang-orang dulu kenakan. Tak lupa menutupi wajah dengan sebuah kain hitam agar orang-orang tidak mengenalinya.
Zena menarik tali kekang, kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi dan kembali berdebam di tanah. Berjalan berputar-putar. Mata Zena awas memindai, ia tak mendengar suara apapun.
Kedua kakinya menghentak tubuh kuda memintanya untuk berjalan pelan saja. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri dengan waspada di kegelapan hutan. Pohon-pohon yang tumbuh begitu rapat, nyaris tidak memiliki celah kecuali hanya untuk jalan setapak.
Zena tersenyum saat melihat sekelompok laki-laki masing-masing membawa sebilah golok di tangan. Jika tak salah menebak, mungkin saja mereka para laki-laki dari desa Hulu. Ia melompat turun, mencari tempat yang aman untuk mengikat kudanya.
Zena memasang hoodie berjalan mengendap dan menyelinap di antara kerumunan itu. Sebuah kawat duri dipasang sebagai pagar dengan tinggi melebihi orang dewasa. Pantas saja mereka hanya bisa mengintip tanpa dapat memasukinya. Selain itu, ia merasakan aliran listrik bertegangan tinggi pada kawat tersebut.
"Hati-hati jangan sampai menyentuh!" Sebuah peringatan entah dari mana datangnya dan siapa yang berbicara tak dapat terlihat jelas karena gelap.
Di dalam pagar kawat berduri itu berdiri sebuah bangunan dengan minim pencahayaan. Tak terlihat satu pun penjaga di sekitar bangunan itu. Mungkin mereka hanya curiga, bangunan itu terlihat seperti sarang walet.
"Aku ingin sekali pergi ke tempat itu, tapi bagaimana cara melewati pagar ini tanpa menyentuhnya?" celetuk seorang laki-laki di samping Zena sambil berdesis gemas. Kedua tangan berkacak di pinggang, kepala menghadap lurus menatap bangunan di tengah lingkaran kawat berduri itu.
Zena melirik, laki-laki itu terlihat masih muda. Dia mengenakan jaket hoodie sama seperti dirinya, kaki dibalut jeans dengan sepatu sport yang membungkus telapaknya.
"Aku bisa melakukanya," ucap Zena setelah puas memperhatikan sosok di sampingnya itu.
"Oya?"
"Yah."
"Bagaimana kau melakukanya?"
"Lihat saja!"
"Aku ti-"
Eh?
Tersadar dirinya berbicara dengan seorang wanita, dia melirik cepat. Sosok itu tak lagi di sampingnya. Ia mencari-cari sosok yang berbicara tadi, tetap saja tak dapat menemukannya.
"Hei, apakah istri kepala desa bersama kita di sini? Bukankah dia bersama suaminya di bagian lain?" tanyanya pada rekan di samping.
"Beliau memang di sana, ada apa?" Ia menyahut tak acuh.
"Baru saja aku berbicara dengan seorang wanita di sini."
Laki-laki yang diajaknya bicara menoleh dengan cepat. Tak percaya rasanya jika dalam rombongan mereka terdapat seorang wanita karena satu-satunya wanita yang ikut dalam misi adalah istri kepala desa dan dia berada dalam rombongan suaminya.
"Kau sedang bermimpi!"
Brugh!
Satu sosok mendarat di dalam lingkaran kawat berduri itu. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat mereka semua syok. Sontak mereka mundur menjauh karena mengira itu adalah musuh, tapi sosok itu melirik sebelum berlari ke arah bangunan.
Dia sangat gesit dan lincah, semua laki-laki itu terperangah melihat aksi heroik yang dilakukan sosok di dalam sana. Mereka enggan berkedip, terutama saat Zena merayap naik pada sebuah pohon dan bertengger di salah satu dahan.
"Siapa dia? Apa desa kita memiliki orang hebat sepertinya?" tanyanya dengan hati yang diliputi ribuan rasa tak percaya.
"Dia terlihat tidak biasa, seperti seorang prajurit terlatih. Gesit dan cepat, apakah dia di pihak kita?" Yang lain ikut berbicara.
"Kuharap begitu."
Jadilah mereka hanya menonton aksi Zena sendirian menyerbu tempat yang mereka curigai. Gadis itu berdiri di atas sebuah batang pohon, salah satu tangannya berpegangan pada dahan, yang lain ia letakkan di atas alis meneropong keadaan dalam bangunan.
"Mereka benar, bangunan ini bukanlah bangunan biasa. Aku harus lebih mendekat untuk dapat melihat dengan jelas, apa yang dilakukan mereka dalam bangunan itu."
Zena kembali turun, berlari semakin mendekati bangunan. Dia merayap di dinding, memanjat bangunan itu. Lagi-lagi mereka dibuat terperangah melihat aksinya yang dapat memanjat dinding. Zena tiba di atap, ia melepas sarung tangan yang ia kenakan dan menyimpannya.
"Benar, barang-barang ini masih sangat berguna," gumamnya tersenyum senang. Beruntung dia membawa barang-barang dari pulau, sarung tangan itu salah satunya.
"Dia memanjat dinding, kau melihatnya?"
"Benar, apakah dia manusia?"
"Kukira ... bukan."
Mereka tak henti mengagumi sosok Zena yang kini berdiri di atas atap. Kelompok lain yang dipimpin sang kepala desa pun nampak terkejut melihat sosok itu.
"Siapa dia?" Kepala desa itu bertanya.
"Tidak tahu, Pak. Kita lihat saja apakah dia di pihak kita atau di pihak musuh?" sahut seseorang di sampingnya.
Laki-laki bergelar kepala desa itu tak mengalihkan perhatiannya dari Zena yang memasang busur di depan wajah membidik sesuatu di bawah sana. Zena melihat sekumpulan penjahat sedang berlalu lalang di bagian lain bangunan. Tak terlihat dari tempat mereka mengintai.
Ia memasang anak panah pada busur, membidik.
Syut!
Jleb!
Satu orang tumbang dengan panah menancap di kepalanya. Tidak menunggu lama, Zena memasang panah kedua. Melepasnya dengan cepat dan kembali memasangnya. Ada tiga orang berjaga di luar, dia berniat melumpuhkan mereka tanpa membuat keributan.
Ketiga penjahat itu terkapar di atas tanah, Zena mencari cara bagaimana orang-orang itu bisa masuk ke dalam lingkaran kawat berduri tanpa tersengat listrik. Dia bergegas turun dari atap, melucuti satu per satu pakaian penjahat tadi dan berlari ke arah rombongan laki-laki tadi.
"Apa yang dia lakukan?" Sang kepala desa bertanya.
"Tidak tahu."
"Lihat, dia membuka jalan untuk rombongan yang di sana. Sepertinya kita juga harus ke sana," seru yang lain saat melihat Zena menempelkan baju-baju itu dan melilitkannya pada kawat berduri.
Zena menarik kawat tersebut ke bawah dan ke atas membentuk lubang yang bisa dimasuki oleh semua orang. Mereka tertegun, rasa tak percaya ada orang yang lebih berani dari mereka. Mereka menunduk, memiringkan kepala, hanya untuk dapat melihat wajahnya. Sayang, hanya kedua bola matanya saja yang sipit terlihat.
Zena tidak menunggu mereka, kembali berbalik dan mengawasi bangunan. Ia mengitari bangunan yang nyaris tanpa celah itu, tak ada jendela ataupun ventilasi udara di bawah kecuali lubang-lubang kecil di bagian atas.
"Tak ada celah apapun, sepertinya aku harus memanjat lagi."
Zena mendongak, kembali memanjat dinding dan mengawasi dari atap. Orang-orang itu berhamburan masuk dari jalan yang dibuatnya. Mereka mengendap, membelah diri menjadi dua kelompok. Mengepung bangunan itu dari dua arah.
Zena yang berada di atap, mencari-cari jalan. Sebuah pintu yang menjadi akses keluar masuk bangunan itu. Sebuah suara membuat Zena menegang dan waspada.