Zena: The Last Fight

Zena: The Last Fight
Fakta



"Sial! Si pemimpin markas itu, kenapa dia bisa sedekat itu dengan gadis yang kuincar?"


Zena membeliak saat mendengar suara gerutuan dari si pemilik atap. Mata elangnya memindai tempat yang bisa menyembunyikan tubuh kecil miliknya. Ia melangkah pelan, mengintip dari celah-celah tumpukan barang rusak di tempat sempit itu.


Ia merayap pelan ke bagian belakang, menyelinap keluar tanpa suara. Zena bahkan harus menahan napas agar keberadaannya tak diketahui.


Suara derap langkah menambah ketegangan, debar jantung tak terkontrol. Ia masih mencari celah untuk dapat turun dari atap, dan satu-satunya jalan keluar ia harus melewati tempat itu. Di mana si pemilik atap berdiri tepat di jalan keluar yang seharusnya Zena lewati.


Menyingkirlah, sialan! Kenapa kau malah berdiri di sana? Brengsek!


Zena mengumpat, bibirnya terus bergerak tanpa suara. Terpaksa ia menunggu, berdiri sambil menempelkan tubuh di celah sempit antara meja dan kursi yang berdekatan dengan pintu keluar atap. Tumpukan meja dan kayu rusak dan sudah tak layak pakai di atas atap itu tempatnya. Zena tak pernah menyangka jika itu adalah sebuah markas rahasia Black Shadow.


Ia mengintip, laki-laki itu masih duduk di dekat pintu keluar sambil menatap langit. Ia berdiri saat sesuatu mendarat di atas atap, suara langkah yang lain terburu-buru mendekat.


"Bagaimana? Kau sudah menyelidikinya?" tanya laki-laki misterius itu kepada orang yang baru saja datang. Zena membalik tubuh untuk dapat melihat mereka. Sayang, hanya sebagian tubuh mereka saja yang terlihat. Celah kecil itu tak dapat menampakkan wajah keduanya.


"Sial! Kenapa tidak terlihat, sih?" umpatnya lagi dengan geram.


"Sudah, Ketua. Semua informasi sudah saya kirimkan ke email Anda. Anda bisa memeriksanya sekarang," katanya penuh misteri.


Zena berdecak kesal karena apa yang dia dengar sama sekali bukan yang dia inginkan, tapi dia tetap berada di sana sampai situasi memungkinkan dirinya untuk keluar dari tumpukan meja dan kursi rusak itu.


"Baik, kau boleh pergi!" katanya sembari mengibaskan tangan mengusir si pelapor.


Dia pergi meninggalkan atap, sosoknya terlihat seperti perempuan. Suaranya pun samar terdengar. Ia menutupi wajahnya menggunakan masker juga topi untuk menyembunyikan bagian kepalanya.


"Kenapa sepertinya aku mengenal dia?" Zena bergumam saat ia dapat melihat dengan jelas sosok yang memberikan laporan tersebut. Zena kembali berbalik, duduk bersandar pada salah satu meja yang menghalangi tubuhnya.


Derap langkah laki-laki pemilik atap itu terdengar semakin dekat.


Kudengar, orang itu memanggilnya ketua. Ketua apa? Apa yang dimaksud itu adalah kelompok Black Shadow?


Hati kecilnya diliputi banyak tanya, seputar laki-laki dan si pelapor itu hingga tanpa sadar meja tempatnya bersandar tiba-tiba bergerak. Zena memejamkan mata, ia juga menahan napas saat tahu bahwa laki-laki itu bersandar di meja yang sama dengannya.


"Email? Cerdas. Aku akan memeriksanya. Kita lihat siapa kau sebenarnya, Zena?" katanya bergumam.


Zena membelalak, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan khawatir akan terdengar pekikan meski kecil kemungkinan.


"Waw! Menurut data sekolah, dia anak tunggal dari dokter Adhikari dan istrinya. Belum lama ini pindah ke kota Elang ... ah, semua informasi ini sudah aku ketahui. Yang lainnya ...." Ia terus meracau lirih.


Zena memasang telinga tajam-tajam, mendengarkan dengan saksama informasi apa yang diberikan pelapor tadi tentang dirinya.


"Ini dia. Oh, jadi dia memiliki adik? Siapa?" Suaranya yang pelan cukup nyaring di telinga Zena.


"Ah, sial! Kenapa hanya sedikit saja informasi soal itu. Aku perlu tahu siapa adik yang dimaksud itu? Di mana dia tinggal? Dan apa hubungannya dengan Zena?" gerutunya dengan kesal.


Zena bernapas lega saat informasi itu tak sampai membawa nama markas Mata Elang.


Aku harus lebih berhati-hati mulai detik ini juga. Dia mengawasiku, dan kemungkinan mata-mata yang dikirimnya akan mengikuti aku pulang.


Zena tetap berdiam di tempat itu, entah sampai kapan laki-laki itu akan berada di sana. Rasanya, kedua kakinya kram dan kesemutan. Namun, ia tetap menahannya, sampai situasi benar-benar aman.


Zena kembali mengintip, memastikan laki-laki itu benar-benar pergi meninggalkan atap.


"Sial! Ini tidak bisa dibiarkan, Chendrik harus tahu soal ini. Sebaiknya aku ke mana setelah ini? Laki-laki itu pasti sedang menungguku sekarang."


Zena kembali melirik sebelum berdiri, cukup lama ia berdiam menyesuaikan kakinya yang mati rasa setelah menekuk cukup lama. Perlahan ia mengendap, mendekati pintu keluar-masuk atap sebelum menapaki anak tangga untuk turun.


Buru-buru Zena masuk ke dalam toilet seraya mengunci pintunya. Sekolah sudahlah sepi, tak satupun siswa terlihat. Zena mencuci wajah, dan menetralkan napasnya yang tersengal.


Brak!


Suara pintu dibuka paksa, ia terperanjat kaget. Zena menaikkan kakinya ke atas kloset, mencoba mendengarkan siapa yang membuka pintu itu dengan kasar.


"Bukankah kau ingin lulus dengan nilai terbaik?" Suara seorang guru laki-laki terdengar. Kerutan bingung tergambar nyata di wajah cantik Zena.


"I-iya, Pak. Sa-saya i-ingin bekerja di perusahaan besar," sahut sebuah suara siswi dengan terbata.


Zena tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Yang pasti keduanya berada di tempat yang tidak seharusnya.


"Jika begitu, kau tahu perjanjiannya, bukan? Kau sudah menandatanganinya?" tanyanya lagi.


Perjanjian? Perjanjian apa?


"Su-sudah, Pak. Sa-saya sudah menandatangani surat itu," katanya lagi terdengar takut dan bergetar.


Sial! Mau apa mereka?


"Lepaskan pakaianmu sekarang juga! Biarkan aku melihatnya," titahnya lagi tanpa perasaan.


Astaga! Jadi ini sisi gelap sekolah yang terkenal itu? Mereka melakukan prostitusi di dalam sekolah. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus melakukan sesuatu, tapi bagaimana? Ah, aku lupa membawa pakaian ganti dan penutup wajahku. Tak akan mungkin aku keluar dengan memakai seragam seperti ini.


Zena mengumpati dirinya sendiri, lepas dari kungkungan laki-laki di atap, sekarang terjebak di situasi yang lebih sulit. Pada akhirnya, ia hanya berdiam diri di atas kloset. Mendengarkan kicau menjijikkan dari dua orang dalam toilet itu.


"Minumlah!" Suaranya kembali terdengar setelah lenguhan panjang beberapa saat lamanya.


"A-apa ini?"


"Itu hanya minuman supaya kau tidak mengandung di kemudian hari," katanya lagi dengan suara manis dan hangat.


Jangan sampai meminumnya, bodoh! Kau ditipu oleh-nya. Dasar gadis bodoh.


Zena mengumpat geram. Tak lama terdengar suara sesuatu terjatuh, laki-laki itu membuka pintu. Kemudian, derap langkah beberapa orang terdengar.


"Bawa dia, dan satukan dengan yang lainnya. Gadis-gadis bodoh itu, tergiur dengan janji palsu." Laki-laki itu pergi setelah mengucapkan perintahnya.


Lagi? Zena kembali bergumam.


"Ayo! Kita bawa dia, dan dapatkan bonus lagi. Haha ...."


Astaga! Kelompok macan putih itu?