
"Aku menantangmu untuk berduel!"
Setelah memindai keadaan, pasukan di bawah sudah terdesak, keadaan Adhikari dan Chendrik tidak memungkinkan untuk bertarung. Kalimat itu yang pada akhirnya terlintas dalam pikiran. Begitu lugas lisannya berucap, penuh keyakinan dan tak ada keraguan sedikitpun.
Hirata tertawa merasa tidak perlu meladeni tantangan Zena karena ia hanyalah seorang wanita yang sudah pasti lemah tak berdaya.
"Aku tersanjung, tapi aku tidak tertarik untuk berduel dengan seorang wanita," sahutnya sembari menghendikan bahu dan mencibirkan bibir.
Zena melangkah semakin mengikis jarak antara mereka.
"Benarkah? Memangnya kenapa jika aku seorang wanita?" tanya Zena yang kini berdiri di bawah sorot lampu yang memperlihatkan wajah cantiknya.
Hirata menautkan alis, sambil tersenyum dia berkata, "Sungguh tak kuduga jika kau masih semuda ini, kukira kau wanita setengah baya yang sudah berpengalaman. Ternyata hanya anak muda yang tak pernah memiliki perhitungan."
Hirata tertawa sebelum melanjutkan ucapannya, "Dari pada kita berduel senjata, lebih baik kita berduel rasa. Bagaimana?"
Kedua alisnya dimainkan, menggoda Zena yang bergeming tanpa ekspresi.
"Itu akan terjadi jika kau berhasil menyentuhku dalam hitungan detik," sahut Zena dengan senyum manis menggoda renjana yang telah bergolak.
Hirata tertawa garing hingga semua deretan giginya terlihat jelas bahkan matanya yang terpejam menciptakan jejak kerutan di kedua sudutnya.
"Baik, jika kau mampu mengalahkanku maka aku dan orang-orangku akan pergi dari kota ini, tapi jika aku berhasil mengalahkanmu, markas berikut kota ini akan berada di bawah kuasaku. Termasuk kau!" tegas Hirata menuding Zena dengan angkuh.
Chendrik bereaksi, ia menggeram sambil mencoba beranjak, tapi tubuhnya tak mendukung. Kembali terjatuh di lantai atap dengan kepayahan. Adhikari membantunya, mereka berdua seperti seekor sapi yang dipaksa membajak tiada henti.
"Sialan kau, Hirata! Kau pikir kota kami ini bahan taruhan, hah!" bentak Chendrik dengan susah payah.
"Lalu, jika bukan itu aku akan mendapatkan apa sebagai pemenang? Kepalamu? Aku yakin tak ada harganya atau kepala anakmu? Aku yakin anakmu itu lebih berharga dari pada dirimu," sahut Hirata disambut gelegak tawa yang menjengkelkan.
"Sial-"
"Sudahlah, Chendrik. Jangan meladeninya, dia hanya seorang pembual. Setiap ucapannya kosong, mulut besar, tapi tak ada pembuktian yang nyata. Aku yakin, jika bukan karena bantuan senjata dan orang-orang yang menyembahnya, dia tak akan mampu menduduki Mata Elang seperti saat ini," tukas Zena dengan cepat.
Pembawaannya yang tenang, memang layak diacungi jempol. Tidak terprovokasi, ataupun terbawa suasana.
"Kurang ajar! Kau ingin aku membuktikannya? Baik, akan aku buktikan!" ucapnya seraya menarik sebuah pedang pada salah satu tubuh mayat penjaganya.
Hirata berlari sambil menghunuskan pedang, tubuhnya yang besar tak sebanding dengan Zena. Sudah barang tentu tenaga yang dia miliki pun jauh lebih besar dari pada gadis itu.
Trang!
Bunyi besi beradu menimbulkan percikan api yang nampak jelas di kegelapan.
"Hanya laki-laki pengecut yang mau menerima tantangan dari seorang wanita. Apalagi wanita itu hanya gadis muda yang lugu, tapi dia tidak peduli," gumam Adhikari semakin memprovokasi Hirata yang sudah menyerang membabi-buta.
Zena mengayunkan samurai, menangkis dan menyerang. Ia melompat sambil menebas, tapi Hirata mampu menahannya. Satu tendangan ia berikan pada perut laki-laki itu, tapi oleh karena tak seberapa kuat hanya membuat Hirata termundur tanpa merasa sakit sama sekali.
"Lumayan," ejeknya sambil menepuk-nepuk perut bekas tendangan Zena.
"Lumayan katanya? Aku lihat dia meringis tadi, itu tandanya tendangan Kakak yang tidak seberapa itu pasti meninggalkan rasa sakit," celetuk seorang bocah yang tidak diketahui keberadaannya.
"Sial! Rupanya mereka ingin memprovokasiku agar tidak dapat berkonsentrasi. Lihat saja, apakah cara kalian itu akan berhasil." Hirata bergumam sambil berdiri berhadapan dengan Zena.
Zena berlari dengan gesit, tangan kanannya menggenggam samurai siap dihunuskan. Besi kembali beradu, kali ini Zena yang menyerang dan Hirata bertahan. Berkali-kali ia hampir tertebas, tapi nasib masih memihak padanya. Zena melakukan salto menerjang kepalanya hingga jatuh tersungkur.
Dengan gerakan cepat, ia menendang tangan Hirata hingga pedang itu terlempar jauh. Zena menginjak dadanya, menghunuskan samurai tepat di leher laki-laki tersebut.
"Kau kalah," ucap Zena dengan pasti.
Hirata melirik ujung samurai Zena panik. Ada ketakutan yang sedikit terlihat di pancaran matanya.
"Aku akan mengampunimu jika kau bersedia pergi meninggalkan kota kami ini bersama seluruh orang-orangmu!" ucap Zena menekan kakinya yang menginjak dada Hirata.
Tubuh kecilnya hanyalah sebuah tipuan, di dalamnya tersembunyi kekuatan besar melebihi ketua mafia itu.
"Baik, Aku ...."
Dengan gerakan cepat Hirata mengangkat kaki Zena menggunakan kedua tangannya. Gadis itu melayang, tapi cepat-cepat menguasai tubuhnya kembali. Zena melakukan salto sebelum mendarat. Hirata tertawa sambil kembali berdiri tegak.
"Kau pikir semudah itu mengalahkanku? Aku tidak selemah itu, gadis manis," ucap Hirata seraya berlari sambil menyambar pedang yang terlepas dari tangannya.
Serangannya berubah, brutal dan ganas. Jika saja tak cepat menghindar, maka sudah pasti Zena akan terkena sabetan pedangnya.
"Aku seperti mengenali cara bertarungmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Hirata. Sempat-sempatnya bibir hitam itu tersenyum sambil terus bergerak menyerang Zena.
"Aku yakin pernah. Kau bahkan lebih dari sekedar mengenalnya," sahut Zena terus mundur sambil menangkis serangan.
Ia akui Hirata adalah lawan yang tangguh sepanjang perjalanan tempurnya dengan para penjahat. Mungkin sebab itu dia bisa menjadi ketua dari semua kelompok mafia.
"Wajahmu mengingatkanku pada seseorang, tapi aku lupa atau aku memang tidak peduli." Dia tertawa garing, Zena sedikit terprovokasi hingga lengah dan menyebabkannya tersudut.
Hirata menendang tangannya dan samurai Zena yang tak pernah terlepas itu pada akhirnya harus terlempar. Tangan kiri Hirata menyambar lehernya, Zena tak mampu menggerakkan kepala untuk sekedar melirik samurai.
Ia melempar tubuh Zena hingga terpelanting ke sudut atap. Darah meremas dari salah satu bibirnya, terbatuk-batuk sambil mencoba beranjak. Hirata mendekat dan kembali mencekik lehernya, memaksanya untuk berdiri meski sudah meringis kesakitan.
"Aku ingat sekarang, wajahmu ini mirip sekali dengannya. Yah, Bazleen. Dia ... tapi aku sudah membunuhnya sangat lama sekali. Kenapa kau begitu mirip dengannya?" ucap Hirata tersenyum mengejek Zena yang memegangi tangannya.
"Zena?" Chendrik beranjak tertatih, ia berjalan terseok-seok menghampiri. Namun, sekali tepis tubuhnya kembali terpental ke belakang, menabrak dinding atap. Darah menyembur dari mulut, dadanya terasa sesak.
"Chendrik!" Adhikari datang menolong, ia membantu pemimpin markas itu untuk duduk. Kondisinya semakin parah, luka luar dan luka dalam dialami Chendrik.
"Ze-zena!" lirihnya sambil memegangi dada.
"Kakak! Ayah!" Cheo tersentak melihat keadaan Zena yang tersudut dan Chendrik yang terluka parah.
Bocah itu melompat dari punggung Tigris dan berlari menyerang Hirata menggunakan nunchaku di tangan.
"Lepaskan Kakakku, kau penjahat!" teriaknya sambil memukulkan nunchaku di tangan.
Namun, tak ada reaksi apapun yang terjadi, tubuh Hirata seolah-olah kebal dari rasa sakit. Serangan Cheo tak berpengaruh. Hirata melirik tajam, kedua mata Zena membelalak melihat tubuh kecil Cheo yang tak jauh dari mereka.
Ketua itu kembali melempar tubuh Zena tanpa perasaan, berbalik menghadap Cheo dan melangkah mendekati. Wajahnya terlihat murka, tapi Cheo justru menantangnya.
"Hia ...!"